Senin, 16/12/2013 14:39 WIB | Dibaca: 1006 kali

Money Politic Diduga juga Menjangkiti Plihan Lurah Desa


ilustrasi

BANTUL - Perhelatan Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) yang digelar serentak 20 desa di Bantul pada Minggu (15/12/13) kemarin, diduga masih lekat dengan permainan politik uang. Pantauan jogjakartanews.com di beberapa desa yang melaksanakan pesta demokrasi tersebut, deal-deal politik uang baru akan dilakukan setelah diketahui pemenangnya.

Menurut salah satu sumber warga desa Kanggotan, Pleret yang tidak bersedia di ekpose namanya mengatakan, bagi calon lurah menang atau kalah paling tidak kehilangan dana minimal 50 juta rupiah. Pasalnya, yang terjadi di lapangan dari tim pemenang calon lurah rata-rata berani membeli 30 ribu rupiah per suara.

"Tapi biasanya nanti akan ada persaingan nominal harga dari masing-masing calon menjelang hari pencoblosan," katanya.

Menurut sumber, apabila calon yang menang mendapatkan 2000 suara, berarti total biaya yang harus dikeluarkan 60 juta rupiah. Belum lagi ditambah biaya kampanye dan lain-lainya. Diperkirakan saat ini untuk menjadi lurah harus menyiapkan dana sampai rarusan juta rupiah.

"Makanya itu, ada calon yang kalah sekarang masih depresi sejak tahu perhitungan dirinya kalah pada Minggu kemarin," katanya.

Sementara itu, menurut anggota Komisi C DPRD Bantul, Arni Tyas Palupi, S.T, menyikapi dugaan masih adanya praktek politik uang dirinya merasa ironis. Masyarakat masih membutuhkan pembelajaran politik yang bersih dan sehat.

"Harusnya tidak ada praktek itu, namun kondisi di lapangan juga kadang berbeda dengan harapan," pungkasnya di ruang kerja, Senin (16/12/13).

Arni menambahkan, untuk cost politik memang ada yang biasa digunakan untuk persiapan dan pencitraan, namun kalau untuk money politik indikasinya lebih cenderung ke serangan fajar. (elo)

Redaktur: Azwar Anas

 


 





Baca Juga