Warga Jogja ‘Kangen Orba’, Pesan-pesan Pak Harto Jadi ‘Dagangan’


Salahseorang pedagang yang menjual marcendise dengan ikon Pak Harto. Foto: A . Mustaqim

 

YOGYAKARTA - Mendekati momentum Pemilu 2014 ini, icon Presiden RI ke 2,  Soeharto, kian marak di sentero Yogyakarta. Tak hanya yang bertuliskan "Piye le, kabare? Enak jamanku to? (Bagaimana nak, kabarnya? Lebih enak zaman (pemerintahanku kan?)", namun istilah-istilah bermakna filosofis jawa dari penguasa Orde Baru (Orba) itu mulai dikomersilkan.

Beragan marcendise berupa kaos, sticker, hingga poster yang dijual pedagang di kawasan Malioboro banyak mengutip pesan-pesan moral bapak pembangunan yang akrab disapa Pak Harto ini. Diantaranya, "Anggayuh kasampurnaning urip, berbudi bawa laksana, ngudi sajatining becik" (mencapai kesempurnaan hidup, berjiwa besar, mengusahakan kebaikan sejati"; "Memayu hayuning bawana ambhrasta dhur hangkara" (melestarikan dunia dan isinya serta membasmi keangkaraan); "Urip sejatine gawe urup" (Sebaik-baiknya hidup adalah memberi manfaat untuk sekitarnya). Pesan-pesan itu sempat dibukukan dan ditujukan untuk putra-putrinya.

Salah satu pedagang kaos dan sticker di kawasan Malioboro, Kuwolo (30 ), mengaku mendapat berkah dengan adanya fenomana munculnya icon Pak Harto. Semakin bervariasi tulisan-tulisan yang disertai foto Pak Harto, kata dia, semakin banyak peminatnya. Bahkan sekali berjualan ia bisa menghabiskan satu kodi (20 buah,red).

"Saya sudah berjualan satu tahun mas kaos-kaos yang seperti itu," ungkap lelaki yang tinggal di Jalan Mataram ini, sambil merapihkan barang dagangannya, Jumat (07/03/2014) sore.

Kuwolo sendiri mengaku merasa lebih enak di jaman Pak Harto. Pasalnya, harga-harga kebutuhan saat itu tidak tinggi seperti saat ini.

"Dulu apa-apa murah, Mas. Penghasilan sedikit tapi bisa dapat macam-macam. Lha, sekarang? Walaupun penghasilan besar sama saja kan?, Harusnya ya presiden seperti Pak Harto itu," katanya.

Sementara pedagang lainnya, Jito (35) berharap pemimpin-pemimpin yang mewarisi semangat Pak Harto akan muncul dalam Pemilu tahun ini.

"Denger-denger putrine Pak Harto , Mba Titiek Soeharto (Siti Hediati Soeharto, red) nyaleg. Saya harap kalau jadi bisa mencontoh bapaknya," harapnya.

Sementara menanggapi munculnya Pak Harto sebagai icon kemakmuran yang dinilai menguntungkan Titiek Soeharto dan Golkar, tidak dinafikkan para relawan pemenangan Titiek. Hal itu seperti diungkapkan Herman Wahyudi (22), warga Gondokusuman Yogyakarta.

"Sebenarnya partai lain juga ada yang menggunakan icon Pak Harto. Tapi saya kira Mba Titiek bukan sekadar mendompleng kharisma Pak Harto. Dia kan memang sudah dikenal aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Kontribusinya buat bangsa tidak diragukan lagi. Kacang kan tak jauh dari kulitnya (anak tak jauh dari sifat orang tuanya, red)," pungkas Herman yang mengaku jadi relawan Titiek Soeharto  juga karena mengagumi sosok Soeharto. (kim)

Redaktur: Rudi F

 


 





Baca Juga