Titiek Soeharto: Budaya ‘Mengebiri Pendidikan Perempuan' Harus Dihapus


Titiek dikerumuni ibu-ibu yang ingin bersalaman usai mengisi acara TVRI, Minggu (2/10/2014)

YOGYAKARTA - Jumlah penduduk Indonesia didominasi kaum perempuan. Namun, ironisnya tingkat kekerasn terhadap perempuan masih tinggi. Hal itu menjadi perhatian banyak kalangan, terutama tokoh dan politisi perempuan, salah satunya Siti Hediati Soeharto atau yang akrab disapa Titiek Soeharto.

Menurut putri presiden RI ke 2 HM Soeharto ini, persoalan kekerasan terhadap perempuan di antaranya karena faktor budaya yang kadung berlaku di masyarakat. Titiek menyebutnya budaya patriarki, budaya yang meluhurkan kaum laki-laki di atas perempuan.

"Sebenarnya, itu tidak jadi soal jika masyarakat diberi pemahaman lebih. Harus ada penyadaran sosial jika perempuan sebagai warga Negara juga memiliki hak-hak sebagaimana kaum laki-laki, seperti hak mendapatkan perlindungan hukum, dan hak berpolitik tentunya. Perempuan juga berhak menjadi pemimpin," tutur Titiek kepada jogjakartanews.com, usai mengisi acara di TVRI Yogyakarta, Minggu (09/03/2014) kemarin.

Ketua DPP Partai Golkar bidang Petani dan Nelayan ini menjelaskan, kasus kekerasan terhadap perempuan adalah persoalan kompleks yang menyelesaikannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dikatakan Titiek, harus ada upaya yang serius dan berkesinambungan untuk menyelelesaikan persoalan tersebut.

Untuk memberdayakan perempuan, kata dia, salah satu yang efektif adalah meningkatkan kesadaran akan hak-haknya sebagai warga Negara, yang juga memiliki kewajiban untuk memajukan bangsa.

"Ini tentunya terkait bagaimana meningkatkan taraf pendidikan. Saya lihat masih banyak warga, terutama di pedesaan yang beranggapan wanita tidak perlu bersekolah tinggi, karena hanya akan menjadi konco wingking (teman untuk urusan belakang, red). Nah budaya mengebiri pendidikan perempuan ini harus diperbaiki," ungkapnya.

Namun demikian, Titiek tidak serta-merta menyalahkan pemerintah atas belum tuntasnya persoalan yang dihadapi perempuan Indonesia saat ini. Menurutnya, upaya yang dilakukan pemerintah sejauh ini sudah cukup baik. Hanya saja, katanya, kurang begitu maksimal. Oleh karena itu dengan strategi yang sudah dirancangnya bersama partai Golkar, Titiek optimis mampu membenahi nasib perempuan ke depannya.

"Tanggal 8 Maret kemarin kan peringatan hari perempuan internasional, mudah-mudahan menjadi bahan refleksi kita semua untuk memajukan perempuan Indonesia ke depan. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, tapi saya optimis dengan bantuan seluruh elemen masyarakat, apa yang akan diperjuangkan perempuan Indonesia akan berhasil," pungkas Titiek yang siang ini, Senin (10/03/2014) menghadiri pertemuan Caleg Partai Golkar di Gunungkidul. (kim)

Redaktur: Azwar Anas

 


 





Baca Juga