Budaya  

Karya Empu Sungkowo, Keris Masa Kini Kualitas Jaman Majapahit

SLEMAN – Warisan budaya leluhur yang saat ini masih terjaga adalah keris. Namun tak banyak lagi pembuat keris atau yang biasa disebut empu, yang bertahan dengan ‘pakem’ (aturan) pembuatan keris sebagaimana pendahulunya. Diantara yang sedikit, ialah Empu Sungkowo Harum Brojo yang masih menjaga garis per- empu-an agar terus ada walaupun jaman sudah berubah.

Empu yang tinggal di Godean, Sleman ini adalah keturunan ke 17 Empu Supa, pembuat keris Sengkelat yang legendaris pada zaman Majapahit itu. Darah empu yang menetes paling dekat ke tubuh pria 56 tahun tersebut berasal dari ayahnya, Empu Djeno Harum Brojo.

Sungkowo tak pernah membuat keris secara masal. Satu bilah adalah satu karya spesial. Satu keris dibuat dengan jiwa dan raga secara total. Itu tak berlebihan. Kepada seorang pemesan keris, Sungkowo pasti tanya banyak hal. Wawancara. Misalnya, tanya weton (hari kelahiran). Itu akan disesuaikan dengan dapur (motif) keris yang akan dibuat.

Sungkowo menjelaskan, dalam pembuatan keris tidak bisa sembarangan. Sebelum membuat keris, Sungkowo memanjatkan doa awal. Apa doanya? Empu Sungkowo tak mau menyebutkannya. “Yang jelas, campuran bacaan Jawa dan bahasa Arab,” ujar dia. Doa tersebut adalah langkah awal di antara 53 langkah lain sebelum keris itu jadi dan diserahkan kepada pemesan.

Setelah berpuasa tiga hari, dia memasuki ruang tempa. Ruang tersebut berada di sisi paling barat rumah Sungkowo. Ruang itu berukuran 4 x 6 meter. Tak ada perubahan berarti sejak Empu Djeno, ayah Sungkowo, berkarya di ruang tempa tersebut.

Dijelaskan Sungkowo, setiap keris memiliki pamor (motif). Pamor keris terbentuk dari proses pembuatan keris dan berdasarkan teknik tempaan yang menyatukan dari beberapa unsur logam. Sejumlah literatur mencatat, keris setidaknya terdiri atas tujuh macam bahan. Yaitu, besi, baja, nikel, titanium, klorin, karbon, dan meteor. Guratan pamor itu lahir dari teknik yang sangat rumit. Pamor bisa muncul tanpa direkayasa (pamor tiban), juga bisa direncanakan (pamor rekan).

Selain ditentukan oleh dapur dan pamor, tingkat kesulitan pembuatan dipengaruhi tangguh (spesifikasi atau gaya pembuatan) keris. Misalnya, ada tangguh Majapahit yang terdiri atas 2.048 lapis. Artinya, besi ditempa dan ditekuk hingga lebih dari dua ribu kali. Yang paling banyak adalah tangguh gaya Sendang Sedayu. Yakni, 4.096 lapis. “Kalau keris jenis itu, untuk pamor saja dibutuhkan besi 16 kilogram,” terang dia.

Besi dan campuran bahan lain yang kadang mencapai berat 30 kilogram tersebut digunakan untuk membuat keris yang panjangnya tak sampai 40 sentimeter dengan berat kadang tak sampai 1 kilogram.

Banyak pejabat, kolektor, bahkan kerabat keraton Ngayugyokarto Hadiningrat yang memuji dan memesan keris kepada Sungkowo. Bahkan, pesanan keris tak pernah berhenti, sehingga untuk memesan harus sabar mengantri, bahkan bisa sampai satu tahun kemudian baru jadi.

Bagi Sungkowo, melestarikan keris berarti menjaga karya kearifan lokal bangsa sebagai warisan budaya agar tak punah ditelan jaman. (yud)

Redaktur: Syarifudin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com