Budaya  

Profesor Amerika: Tak Ada Bukti Otentik Sunan Kalijaga Berdakwah dengan Wayang

SURAKARTA – Kebanyakan para kiai tradisional memposisikan wayang kulit sebagai jembatan untuk memudahkan dakwah. Menurut para kiai, dakwah lewat wayang dapat mengenalkan kesenian tradisi di ruang religius, sekaligus memberi penyegaran terhadap aktivitas dakwah para kiai.

“Dakwah para kiai tidak hanya dinikmati secara auditif dengan mendengarkan orasi, seperti siaran radio, tetapi juga membutuhkan kepekaan visual berujud pertunjukan wayang. Hal itu butuh panggung khusus seperti pertunjukan musik ndangndut,” ungkap guru besar musik di Universitas Wesleyan University, Amerika Serikat.,Prof. Sumarsam, di sela-sela menjalani penelitian mengenai Wayang Dakwah di Surakarta, Jawa Tengah, belum lama ini.

Sumarsam yang dalam penelitiannya mendapat dukungan dari AIFIS Fellowship menyampaikan bahwa ketertarikannya terhadap Wayang Dakwah bermula ketika ia membuka Youtube dan meng-klik kata kunci ‘wayang dakwah’.

“Ternyata di media sosial tersebut terdapat begitu banyak video yang menayangkan wayang dakwah di mana seorang pendakwah memasukkan unsur perwayangan untuk mendukung penyampaian dakwahnya. Video-video tersebut ternyata ditonton oleh ratusan bahkan ribuan penonton,” ujarnya.

Terkait sejarah syiar Islam Sunan Kalijaga yang memasukkan unsur perwayangan dalam dakwahnya? Sumarsam mengatakan hal tersebut adalah mitos yang begitu kuat di masyarakat Jawa yang diyakini kebenarannya. Sebagai seorang sejarawan, Sumarsam telah membaca berbagai literatur tentang peran Sunan Kalijaga dalam penyiaran Islam.

“Hampir semua buku memang menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga menggunakan wayang dalam melakukan syiar Islam. Namun sayangnya, buku-buku tersebut menyebutkan bahwa tidak ada bukti otentik yang menguatkan argumen bahwa Sunan Kalijaga menggunakan wayang dalam syiar Islam,” bebernya.

Bahkan, untuk menguatkan argumennya tersebut, Sumarsam mengaku pernah bertemu dengan keturunan Sunan Kalijaga untuk mencari bukti,

“Namun sayangnya bukti seperti lukisan pun tidak ada,” ujar Sumarsam yang sebelumnya sempat mengisi Seminar Nasional “Reaktualisasi Warisan Seni Budaya: Kentrung dan Wayang Dakwah” yang diselenggarakan oleh American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) bekerjasama dengan Pusat Studi Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sabtu (24/5) lalu. (yud)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com