Senin, 02/02/2015 07:10 WIB | Dibaca: 17896 kali

Menjadi Kaya Raya Hingga Membangun Rumah di Surga


Cover buku Mukjizat Al-Qur'an. Foto:doc/istimewa

Oleh: Moh. Husril Mubariq*

SELAMA INI, kita sebagai muslim “hanya” membaca al-Qur’an secara harfiah saja. Tidak lebih dari bentuk penghormatan kepada mushaf berisi firman Allah yang diturunkan melalui nabi Muhammad Saw tersebut. Dan tidak banyak di antara kita yang menyelami kedalaman arti al-Qur’an tatkala membacanya. Maka, tak perlu heran jika ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya tidak menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari. Perilaku kita tidak mencerminkan pribadi muslim sejati. Hal itu karena setelah membacanya, al-Qur’an kembali diletakkan di tempatnya semula. Dan pesan yang tersirat tidak lantas dijadikan pedoman dalam berperilaku. Padahal, seharusnya al-Qur’an menjadi pedoman utama bagi kita dalam menjalani hidup. Lebih dari itu, jika mau berpikir lebih jauh, sebenarnya setiap surat—bahkan pada ayat-ayat tertentu—dalam al-Qur’an memiliki mukjizat atau fadilah masing-masing. Untuk itu, kita pun bisa membaca surat atau ayat tertentu tersebut secara rutin sebagai tindakan spiritual sehari-hari. Khasiatnya dapat kita rasakan sesuai dengan fadilah masing-masing surat atau ayat yang kita amalkan.

Bila hendak mengetahui mukjizat atau fadilah surat-surat di dalam al-Qur’an, kita bisa mendapatkannya pada buku 'Mukjizat Surat-Surat di Dalam al-Qur’an Juz 28, 29, dan 30'. Meski tidak membahas mukjizat surat-surat di dalam al-Qur’an secara keseluruhan (30 juz), dalam buku tersebut Abdullah Zein mencoba menjelaskannya secara gamblang dengan menyampaikan asbabun nuzul dari setiap surat. Penulis juga menyertakan penguatan-penguatan keterangannya dengan hadis-hadis Rasul. Rasanya, kemantapan hati untuk membaca surat-surat tertentu di dalam al-Qur’an sebagai amalan sehari-hari semakin kuat.

Buku hasil karya anak bangsa kelahiran Pati Jawa Tengah itu, seakan menjadi solusi tepat bagi kita yang selalu mempunyai keinginan berbentuk materi ataupun yang bersifat non-materi. Dalam bentuk materi, terkadang kita berambisi untuk menjadi kaya raya. Dengan membaca surat al-Muddatsir, keinginan kita untuk menjadi kaya raya, dengan izin Allah akan tercapai. Namun menurut keterangan Abdullah Zein dalam bukunya, surat al-Muddatsir tidak hanya dibaca sebagai amalan biasa. Tetapi kemujarraban surat ke-74 tersebut akan terlihat saat kita membaca Hizb Bahr (doa amalan yang dapat menarik rezeki, mahabbah, menundukkan hati semua makhluk, mencegah bahaya dan bencana, serta manfaat-manfaat lainnya). Sebab, surat al-Muddatsir sendiri merupakan bagian dari Hizb Bahr. Sebagaimana disampaikan oleh Abdullah Zein, “Dengan membaca Hizb Bahr satu kali secara rutin setelah selesai shalat fardhu, Allah Swt. akan menjadikan orang yang membacanya kaya raya…” (hlm. 65).

Sementara, keinginan yang bersifat non-materi, juga bisa kita dapatkan. Dengan kemantapan dan penuh keyakinan dalam hati, apapun akan menjadi kenyataan. Seperti dikatakan dalam ilmu Ushul Fiqh, bahwa keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan. Termasuk keyakinan untuk mewujudkan keinginan yang tak tampak oleh pancaindra.

Keinginan bersifat non-materi dimaksud seperti halnya kita memohon kepada Allah Swt. agar mendapat ketentraman hati. Sebab, tak jarang kita mendapatkan diri kita tenggelam dan hanyut dalam kegundahan. Dan kita bisa mengatasinya dengan surat al-Quraisy. Oleh karenanya, Abdullah Zein menulis, “Jika ada orang selalu kebingungan dan gelisah tanpa ada suatu sebab, maka tulislah surat al-Quraisy pada sebuah piring porselin dengan menggunakan tinta za’rafan. Tulisan tersebut dilunturkan dengan air matang. Air tersebut diminumkan pada orang yang bersangkutan, insya Allah, hatinya akan menjadi tenang.” (hlm. 157-158).

Sedangkan keinginan bersifat non-materi lainnya ialah yang menjadi idaman bagi semua orang. Bahkan oleh setiap penganut agama manapun. Sebuah keinginan yang akan tercapai pada kehidupan yang hakiki kelak, yakni masuk surga dan memiliki rumah di dalamnya. Maka untuk mewujudkan maksud dan keinginan mulia tersebut, dalam bukunya Zein menuturkan, kita dapat membaca surat at-Tahrim. Sebab, salah satu keutamaan yang akan diberikan oleh Allah kepada orang yang senang membaca surat at-Tahrim adalah akan dibangunkan rumah kelak di surga. (hlm. 42).

Selain membaca surat at-Tahrim, kita juga bisa membaca surat al-Ikhlas sebanyak 10 kali. Zein menyampaikan, “Dari Mu’adz bin Jabal dan Anas Ra., Rasulullah Saw. bersabda, ‘Siapa yang membaca surat al-Ikhlas 10 kali, maka Allah Swt. membangunkan sebuah istana di surga untuknya.’ (HR. Muslim)”. Juga dikuatkan dengan sabda Rasul, “Siapa yang membaca surat al-Ikhlas setiap hari 50 kali, maka pada hari kiamat, ia akan dipanggil dari kuburnya ’Bangkitlah, wahai orang-orang yang memuji Allah, dan masuklah ke dalam surga!’” (hlm. 173).

Dalam buku tersebut menyebutkan banyak mukjizat atau fadilah surat-surat di dalam al-Qur’an dari juz 28 sampai dengan juz 30 selain yang telah disampaikan di atas. Seperti melindungi diri dari penguasa yang zalim, mengembalikan harta yang dicuri, menghapus dosa, dan lain sebagainya. Selain itu, pada bagian akhir buku tersebut, Abdullah Zein juga mencantumkan ayat Kursi, ayat Lima, ayat Tujuh, dan ayat Syifa beserta fadilah masing-masing. Melalui amalan surat-surat di dalam al-Qur’an, dengan kuasa Allah, segala kebutuhan hidup dan semua keinginan-keinginan lainnya yang berhubungan dengan kehidupan duniawi maupun ukhrawi akan terpenuhi. Namun meski demikian, pada saat membaca surat atau ayat tertentu di dalam al-Qur’an sebagai amalan, bukan lantas kita serta merta menjadikannya sebagai ‘Tuhan’. Tapi kita harus mengamalkannya dengan penuh keyakinan, bahwa Allah adalah maha segala-galanya. Dan hanya Allah-lah yang dapat mengabulkan semua permohonan hamba-hambanya.

Dalam buku setebal 216 halaman tersebut, penulis tidak menekankan pembaca untuk memilih atau mengamalkan pembacaan surat-surat tertentu secara rutin. Akan tetapi penulis hanya menjabarkan tentang mukjizat-mukjizat serta menyampaikan prihal mengenai cara mengamalkan dari masing-masing surat. Dari sinilah Abdullah Zein berusaha memosisikan diri bukan untuk menggurui. Dengan demikian, bagi pembaca yang mempunyai hasrat mengamalkannya bisa bebas menentukan pilihan untuk mengamalkan surat-surat tertentu sesuai kehendak hatinya. Selamat membaca. Wallahu a’lam bisshawab. []

Data Buku:

Judul: Mukjizat Surat-Surat di Dalam al-Qur’an Juz 28, 29, dan 30

Penulis: Abdullah Zein

Tahun Terbit: 2014

Penerbit: Saufa

Tebal: 216 halaman

ISBN: 978-602-255-732-6

*Presensi adalah Pengurus Iksandalika, Kru Duta Santri PPA. Lubangsa Selatan dan pengurus LPM Instika Guluk-Guluk Sumenep


 





Baca Juga