Senin, 22/06/2015 14:25 WIB | Dibaca: 1188 kali

Buka Puasa dengan yang Manis, Sudah Tepatkah?


Ratu Givana. Foto: doc/pribadi

Oleh: Ratu Givana (Dokter dan Ahli Kanker Tramedika Internasional berdarah Aceh)

Menjadi sebuah kalimat yang tidak asing dalam lingkungan masyarakat Indonesia di bulan suci Ramadhan yakni “Berbukalah dengan yang manis”, begitu banyak orang menyebutkannya. Terhipotesakan dari anggapan tersebut bahwa kondisi dehidrasi serta kurangnya pemenuhan kebutuhan gizi dan lainnya dalam tubuh atas seharian menahan lapar dan dahaga, dianggap ideal jika mengkonsumsi makanan yang manis dibulan Ramadhan. Ragam hipotesa serta alasan, mencoba meyakinkan bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman manis menjadikan tubuh sehat. Berbagai jenis makanan pun hadir tanpa ada selektifitas atas keidealan makanan yang layak dikonsumsi selama Ramadhan.

Hampir rata-rata makanan yang dipersiapkan saat berbuka mengandung zat manis, ini menjadi pilihan menu utama dalam setiap berbuka. Realita tidak ada pilihan lain di setiap santapan berbuka kecuali mengalihkan zat manis dari glukosa menjadi sukrosa seperti halnya kurma. Mayoritas masyarakat Indonesia cenderung menganggap konsumsi yang manis-manis saat berbuka adalah tepat bahkan harus. Padahal, tidak!!

Mengkonsumsi makanan manis terlalu banyak bahkan berlebihan ternyata sangat berbahaya. Mengapa demikian??? Makanan manis yang dianggap ideal dalam memenuhi kebutuhan tubuh memiliki dampak berbahaya dalam tubuh manusia diantaranya, dapat menyebabkan kanker dan berbagai jenis penyakit lainnya. Penyakit ini hadir dengan tidak memandang usia. Mulai dari anak anak hingga orang tua sekalipun. Tidaklah ideal mengkonsumsi makanan manis secara berlebihan. Sangat jarang ditemukan manusia kekurangan zat manis dalam tubuhnya. Realita sebaliknya, mayoritas manusia Indonesia kelebihan kandungan manis dalam tubuh yang mengakibatkan obesitas, kencing manis dan lainnya yang disebabkan dari terlalu banyak menkonsumsi pemanis.

Tanpa kita sadari, salah satu makanan yang paling umum dikonsumsi adalah beras. Beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat Indonesia yang juga mengandung pemanis yang memiliki kadar menyeimbangkan kebutuhan kalori dalam tubuh manusia. Jika di konsumsi berlebihan, dapat membahayakan kesehatan dalam tubuh manusia. Diantara penyakit yang paling sangat tampak akibat beras adalah obesitas. Pada anak-anak, mengkonsumsi makanan manis berdampak pada kerusakan gigi. Gula yang sering ditemukan dalam permen beberapa makanan manis lainnya membuat bakteri dalam mulut akan berkembang. Oleh karena itu, secara empiris pegalaman pengajarkan, untuk anak-anak dilarang memberi makanan manis berlebihan dimasa kecilnya.

Selain dari kerusakan gigi, ternyata ada hal lain yang berakibat fatal dari terlalu seringnya mengkonsumsi makanan manis. Gizi buruk ternyata juga dapat disebabkan oleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis. Masalah utama yang sering dialami oleh anak-anak pecinta makanan manis adalah dirinya cenderung menggantikan semua bentuk makanan lain dengan makanan dengan rasa manis. Meskipun makanan manis menyediakan energi yang memungkinkan anak untuk lebih aktif, tetapi sebenarnya gula memiliki nilai gizi yang sangat rendah. Meski menyumbangkan kalori dalam jumlah besar, kebutuhan gizi anak tidak akan terpenuhi oleh konsumsi makanan manis. Pemenuhan gizi yang buruk berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Ini merupakan satu alasan gizi buruk juga dapat hadir ditengah berlimpah ruahnya makanan disekeliling kita.

Dampak lain dari menkonsumsi zat manis adalah diabetes. Ini merupakan penyakit yang sangat mengerikan. Memotong sedikit demi sedikit bagian tubuh yang dimiliki karena tidak dapat di obati bahkan di fungsikan. Pada anak anak, kadar insulin dalam tubuh akan meningkat saat mengkonsumsi makanan manis. Hal ini dapat membahayakan pankreas dan meningkatkan risiko diabetes pada usia yang masih terlalu dini, yaitu remaja. Selain itu, terlalu banyak gula juga dapat meningkatkan resistensi insulin dan kemampuan tubuh untuk menurunkan kadar gula darah terganggu.

Obesitas atau penambahan berat badan juga merupakan masalah besar karena memiliki beberapa efek buruk bagi kesehatan, dan gula merupakan salah satu kontributor besar untuk kenaikan berat badan. Gula yang tidak terpakai dalam tubuh dapat menyebabkan timbunan lemak. Kegemukan akibat timbunan lemak ini sejak kecil akan sulit diatasi ketika telah dewasa dengan cara diet biasa. Pada masyarakat dewasa, meningkatkan tekanan darah.

Terlalu banyak gula juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Menurut sebuah penelitian yang melibatkan pasien stroke dengan tekanan darah tinggi dan normal, peluang untuk bertahan hidup sangatlah rendah pada pasien dengan kadar gula darah yang tinggi.Makanan manis dapat mempengaruhi kadar kolesterol seseorang. Meskipun penelitian tidak membuktikan secara langusng bahwa gula dapat mempengaruhi kadar kolesterol, peneliti menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi sejumlah besar gula dalam dietnya ditemukan memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi, penyebab penyakit jantung.

Dari beberapa dampak yang disebutkan, ternyata makanan manis juga mendorong pertumbuhan sel kanker. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa sel kanker akan berkembang dengan cepat karena paparan makanan manis. Makanan bergula dapat meningkatkan kadar insulin dalam tubuh yang pada gilirannya, mendorong pertumbuhan sel kanker. Kanker merupakan kerusakan sistem sel yang mengakibatkan kerusakan dengan waktu berkepanjangan.

Keidealan berbuka puasa secara batin terletak pada keikhlasan dalam menjalaninya. Makna berpuasa diantaranya ialah agar kita sama sama mampu merasakan rasa lapar dan haus serta merupakan anjuran Allah SWT. Tidak ada anjuran ideal mensyukuri karunia Allah dengan menkonsumsi makanan secara berlebihan saat berbuka apalagi wajib yang manis. Ini merupakan kiasan semata. Mengkonsumsi zat manis boleh saja jika ideal meski realitanya sangat tidak ideal saat ini. Cukup dengan kurma secukupnya dan memperbanyak air putih serta menkonsumsi makanan alami tidak cepat saji, dapat memberikan kesempatan untuk sehat lebih tinggi daripada merusak diri dengan mengkonsumsi makanan tidak sehat.


 





Baca Juga