Kamis, 10/09/2015 20:58 WIB | Dibaca: 1010 kali

Manifestasi Kesunyian


ilustrasi. Foto: Istimewa

AKU tahu, bahwa dipenghujung malam dia akan berhenti mencatat riwayat tentang kita yang sebelumnya terang-benderang. Dia akan berhenti, seperti berhentinya pelangi melengkungi sebuah negeri setelah hujan.

Dan pagi itu.

“Lu, kamu sholat subuh dulu”

Begitu smsnya, ketika aku dan dia terpaksa menjemput pagi dalam sebuah jarak yang tak terhitung.

Dia, sahabatku Nisa yang sekarat di sebuah rumah sakit di Surabaya, ia memintaku menemaninya berbicara banyak hal tentang kehidupan melalui telfon, sebelum ia disuruh segera istirahat oleh orangtuanya disana. Tapi kami melanjutkan perbincangan kami melalui sms. Aku menolaknya, tapi ia memaksaku.

“Kalau kamu tidak menemaniku saat ini, aku akan menganggapmu bukan sahabatku lagi..” Begitu ancamnya padaku.

Lalu menjelang pagi, ia memintaku sholat subuh. Itu adalah sms terakhir darinya. Bukan hanya untuk hari itu, tapi untuk selama-lamanya.

Nisa sahabatku, hatinya baik, lembut dan bercahaya seperti embun disinari matahari, wajahnya seindah purnama. Yang paling senang kulihat adalah senyumnya yang seperti kuntum bunga udumbara, abadi menetap dihati siapa saja yang pernah menatapnya.

Sama sepertiku, ia lahir dari keluarga dengan kemampuan ekonomi kelas menengah di Kota Tidore. Hanya saja hidupku sedikit lebih beruntung, sebab Nisa menderita penyakit kanker serviks, penyakit yang membuatnya harus berhenti dari studi kesehatan yang diambilnya di Kota Ternate. Nisa berhenti untuk fokus pada pengobatan penyakitnya.

Segala macam metode pengobatan dicobanya, mulai dari obat kampung, dokter, hingga pengobatan Islam. Tapi semuanya gagal membawanya pada kesembuhan. Sebagai sahabatnya, aku tentu juga sedikit merasakan sakitnya menjadi dirinya.

“Lu, hari ini sakit sekali. Rasa-rasanya dunia hendak merampas hak Nisa untuk tidak boleh tersakiti. Tapi Nisa tidak menyerah, Nisa akan terus minta pada Allah untuk segera dibawa keluar dari semua rasa sakit ini. Lulu bantu Nisa juga ya, bilang sama Allah.”

Begitu isi smsnya. Aku tertegun, menunduk beberapa saat. Air mataku mengalir menelusuri wajahku yang penuh rasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya keluar dari rasa sakitnya.

Aku dan Nisa sudah bersahabat sejak lama, aku tidak tahu kapan tepatnya. Saat itu Nisa adalah gadis dewasa yang cerdas, sedangkan saya masih seorang anak kecil yang lugu dan pemalu, kami sama-sama mengantri untuk hendak check in di Terminal keberangkatan 1B Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, sial bagiku karena tiketku expired, pesawat yang aku tumpangi ternyata berangkat jam empat subuh, kupikir jam empat sore. Aku langsung panik saat itu, antara takut, bingung, dan cemas karena aku belum memiliki nomor rekening, uang di dompet bahkan tidak cukup untuk membeli makan sehari. Air mataku tidak terasa jatuh. Sebelum tangan lembut itu menepukku pelan dari belakang. Dengan senyumnya yang meneduhkan ia langsung menawariku pinjaman uang untuk membeli tiket. Aku menerimanya dengan malu-malu, jumlahnya sangat besar, aku juga takut tidak mampu menggantinya.

Mungkin aku beruntung, atau mungkin Nisa terlalu baik, ia lalu bersikeras untuk tidak mau menerima uang yang hendak kukembalikan padanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, selain mengucapkan terima kasih dan perasaan malu yang besar padanya. Belakangan kuketahui uang itu adalah uang bonus yang diberikan padanya karena mewakili provinsi ini mengikuti olimpiade fisika pelajar di Jakarta, ia juga mengalami nasib yang hampir sama denganku pada saat itu, yaitu harus mengikuti penerbangan terpisah dari rombongan teman-teman dan pembimbingnya.

Aku bersyukur, karena itu adalah permulaan pertemuanku dengannya. Awal dari sebuah persahabatan yang indah dikenang. Abadi.

Selama bertahun-tahun berikutnya Nisa lalu menjadi satu-satunya sahabat perempuanku, ia selalu membantuku keluar dari setiap masalahku, menyemangatiku ketika aku dijatuhkan oleh sesuatu kekecewaan, meluruhkanku ketika aku marah, mengingatkanku untuk sholat, menjadi teman curhatku ketika sedang menghadapi masalah asmara. Singkatnya Nisa adalah satu diantara beberapa orang didalam hidupku yang kemudian turut serta membentuk diriku yang sekarang. Orang-tuanya juga sudah mengenal baik diriku, kami sudah seperti saudara. Bahkan beberapa teman-teman di kampus sempat berpikir kalau aku dan Nisa adalah sepasang kekasih, kupikir memang wajar mereka beranggapan seperti itu. Tapi aku tidak sedikitpun berharap hal yang seperti itu, sebab Nisa pun mungkin akan bersikap demikian. Kami nyaman bersahabat, dan seterusnya akan seperti itu.

“Kau tahu Nis, rasa hatiku ini seperti pelangi dan aurora yang berangkulan, seperti malam yang memeluk bintang-bintang. Rasa bahagiaku mungkin berlebih karena pernah kenal kamu”

Begitu smsku pada suatu ketika.

“Mungkin jika sakit ini tidak pernah ada, Nisa juga akan merasa begitu.”

Ia membalas. Aku kembali dibuatnya merenung jauh dan dalam.

Kanker serviks yang dideritanya pun memasuki stadium lanjut, tidak ada cara lain selain ia harus menjalani operasi pengangkatan rahim di Surabaya, biayanya mencapai ratusan juta. Orangtuanya tidak mampu lagi memenuhi biaya yang tersisa beberapa puluh juta lagi. Saat itu, aku tidak berpikir panjang. Tabunganku di rekening selama ini kukuras untuk memenuhi biaya operasinya, sebenarnya didalam jumlah itu juga terdapat uang yang dulu dipinjamkan Nisa sewaktu di bandara, aku tidak memakainya, itu kutabung untuk membiayai S2-ku kelak. Aku tidak lagi berpikir tentang rencana masa depanku, kuambil seluruh tabunganku ditambah lagi aku harus berbohong kepada ayah-ibu demi memenuhi biaya yang dibutuhkan. Kuberikan uang tabunganku kepada orangtuanya sembari memohon agar Nisa tidak perlu tahu tentang hal ini.

Tak lama kemudian, Nisa lalu menjalani operasi di Surabaya. Operasinya berhasil, rahimnya berhasil diangkat. Tapi ia mengalami infeksi, masa kritisnya justru datang setelah dioperasi. Selama itu ia harus merasakan sakit yang tidak terkira, sakit yang tidak mungkin kupikirkan bagaimana bentuknya.

“Lu, kalau Nisa tidak ada, apa Lulu akan merasa sunyi?” Begitu isi smsnya.

“Sekarang aku merasa sunyi!” Kubalas singkat.

“Kesunyian itu tidak pernah ada, percayalah.” Balasan Nisa juga singkat.

Dan pagi itu.

Bumi berputar dalam tempo yang sedikit lebih cepat, matahari sepertinya adalah cahaya yang membakar dengan rayuan-rayuannya yang mengalir di sela-sela awan, hatiku tiba-tiba berkabut.

Setelah sujud terakhirku, di subuh itu. Ponselku berdering. Kujawab setelah kuselesaikan sholatku. Dikabarkanlah dari sana, Nisa sudah pergi. Wajah itu, mata indah itu, kebaikan hati itu, kerudung berwarna jingga yang membalut senyum nan menawan itu. Sudah pergi.

Hari itu, aku berjalan menyusuri langkahku sendiri. Sebuah ruang dimana dimensi menjadi lelucon yang mempermainkan waktu. Sebuah tempat berbentuk persegi dimana setiap sudut-sudutnya dipenuhi mimpi-mimpi berwarna kelabu. Aku seperti terperangkap dalam ilusi mendobrak tembok reinkarnasi. Aku ingin terlahir kembali sebagai aku yang tidak pernah menghadapi semua ini.

Aku menjadi seperti ini karena Nisa ternyata salah. Kesunyian itu ada [*]

*penulis adalah M. Guntur Cobobi, Duta Bahasa Maluku Utara, Ketua Dep. PMB HMI Badko Maluku – Maluku Utara

Berita Terkait

 





Baca Juga