Minggu, 18/10/2015 17:15 WIB | Dibaca: 1875 kali

Bagong Nyalon Ketum PB Punakawan


ilustrasi. Doc/jogjakartanews.com

Oleh: Ja’faruddin AS*

Al kisah, Bagong iri dengan saudaranya Petruk, yang pernah jadi Raja. Akhirnya, saat ada Kongres Persatuan Massa Punakawan  (PMP) Bagong bertekad maju menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PMP (Ketum PB-PMP). Bagong membatin, sebelum jadi  Ratu  seperti Petruk, Minimal belajar jadi Ketum PB PMP dulu.

Meski selama ini mengkritik habis Petruk di Media Sosial (Medsos), gaya dan cara Bagong yang memang cuma aktivis Medsos ternyata persis Petruk. Tapi ambisinya melebihi Raja Lojitengoro, Prabu Jayakiswara yang dikalahkan Petruk. Dikisahkan, Jayakiswara yang berkuasa di negeri para raksasa sebenarnya cerdas tapi menjadi bodoh karena ambisi berkuasanya.

Singkat cerita, seperti Petruk, Bagong pun ingin memiliki pusaka Janus Kalimasda milik Prabu Puntadewa. Tapi Prabu Puntadewa yang mengetahui rencana Bagong, punya cara sendiri agar kejadian Petruk yang mencuri pusakanya tak terulang. Ia memberikan Janus Kalimasada yang Kwalitas alias KW kepada Bagong.

Prabu Puntadewa paham seperti anak-anak semar yang lain, Bagong juga suka bercanda bahkan saat menghadapi persoalan yang teramat serius, memiliki sifat lancang, dan suka berlagak bodoh. Ia juga sangat lucu. Prabu Puntadewa berikan Janus Kalimasada KW hanya mau ngetes. Apakah kalau punya pusaka itu polahnya jadi lebih baik apa tambah konyol. Lagipula saat Peruk jadi ratu sebenarnya cukup baik buat bangsa dan negara, setidaknya membuat para Pandawa benar-benar praktik terjun ke lapangan mensejahterakan rakyat dengan beternak, bertani, berwirausaha, dan tentunya lebih kreatif menghadapi musuh baru model Petruk.

Akan tetapi Bagong yang lagi keblinger tidak tahu jimat yang dipegangnya KW. Mirip, cuma komponennya tidak lengkap. Bagong yang merasa diri bejo tambah besar kepala. Jimat itu dibawanya kemana-mana dipamerkan ke semua cabang-cabang PMP dan senior-seniornya seperti Petruk dan gareng, orang tuanya Semar, bahkan ke kuartet lainnya yang lebih berilmu seperti Bathara Guru, Bilung dan Togog. Padahal, ia belum mengetahui sisik melik dari pusaka tersebut. Kelakuannya lebih metruk. Ia lupa Petruk berasal dari kata fat ruk (tinggalkanlah). 

Nah, melihat kepetrukan Bagong itu, Citraksi murid Dorna ambil kesempatan. Ia melamar jadi tim sukses (Timses) diterimanya dengan bangga. Bagong makin  keblinger karena merasa punya dukungan kuat, padahal tidak mengenal Citraksi yang setiap saat bisa berkhianat. Bagong percaya saja dengan Citraksi yang mengatakan tak punya kepentingan. Perkataan paling naif dalam dunia politik. Berkat Citraksi yang suka menjilat sekaligus menekan, Bagong merasa mendapat kekuatan untuk menang. Bagong memang bukan kesatria petarung. Ia tak mengerti bahwa timses bukan untuk mengatur layaknya mentor. Tidak paham mana yang membantu dengan mana pembantu dan bagaimana memperlakukannya.

Bagong bahkan merasa tidak perlu lagi Puntadewa yang kerap memarahi dan mengkritiknya dengan tegas demi mengarahkannya ke jalan terbaik. Terlebih merasa apa yang diinginkan Bagong dari Puntadewa yaitu Janus Kalimasada sudah dalam genggaman. Meski demikian Bagong tetap klaim mendapat restu Puntadewa yang telah lama menjadi sohibnya.

Meski Janus Kalimasada KW orang lain menilai Bagong yang terlanjur mengklaim sebagai pemilik, nampak hebat. Tapi Bagong tetaplah Bagong. Janus  Kalimasada KW tak membuatnya tambah cerdas. Apa yang dikatakan sama sekali tak mencerminkan isi Jamus Kalimasada KW itu. Tak ayal, Bagong pun  jadi bahan tertawaan. Tapi ia tak sadar dan terus pamer menaiki panggung-panggung bak bintang stand up comedy. Orang-orang pun akhirnya paham bahwa Bagong memang berasal dari kata al ba gho ya (perkara buruk). Citraksi tahu kualitas Bagong sulit dijual. Tapi dasar Citraksi lamis, tetap menjilat dan menekan Bagong.

Bagong  tetap belum siuman dan merasa yakin mampu bertarung di Kongres karena merasa sudah siap sejak lama dan Citraksi meyakinkannya dengan dukungan cabang-cabang PMP pragmatis plus oportunis. Tapi Citraksi tetaplah didikan Dorna. Jualnya bisa kemana-mana, mungkin bisa jadi ke kandidat kuat yang namanya baru muncul di last minute. Dalam politik, tidak ada indikator maka tidak ada garansi. Apalagi jika  terbukti  Bagong omong  kosong, modal uangnya tak bisa dibuktikan ada di kantong sejumlah yang ia dengar. Dalam hitungan detik Citraksi pasti akan bermanuver menelikung. Sebab politik setiap saat bisa berubah dan model Citraksi memaknai kemenangan adalah yang penting menjadi bagian dari pemenang, tidak harus menjadi pemenang di struktural.

Bathara Guru pun tak mau beresiko. Membantupun nampak setengah hati. Sebab, gerakan Citraksi, Dorna dan team sudah tak bisa dibendung dan diarahkan, terlebih prabu Puntadewa sudah tidak terlihat peduli. Itu menambah angin segar Citraksi. Mereka kian liar mengolah Bagong yang semakin tak paham posisi. Ia tak sadar siapa yang dihadapi dan apa yang dibutuhkan untuk menang dalam pertarungan. Tentu bukan Citraksi yang bisa menjadi brutus atau bahkan kanker ganas. Bagong baru  akan sadar setelah merasakan kekalahan memalukan di Kongres. Tapi terlambat sudah.[]

*Penulis adalah pecinta seni, sastra, dan budaya, tinggal di Yogyakarta. Cerita ini hanya fiksi dan tidak berdasarkan pakem pedalangan.


 



Terpopuler


Baca Juga