Senin, 02/05/2016 22:59 WIB | Dibaca: 705 kali

Sang Kobra Berperang Melawan Narkoba


cover buku The Cobra. Foto: ist

Oleh: Moh. Tamimi*

SETELAH membaca buku ini, saya berpikir "seandainya di Indonesia mengadopsi setrategi yang ada dalam novel ini dalam mencegah dan memberantas narkoba, kemungkinan besar Indonesia akan terbebas dari ancaman narkoba terutama generasi muda kita" karena buku ini memberikan tawaran setrategi yang sangat brilian dalam memberantas narkoba, mengingat kasus narkoba di negeri ini semakin marak. Mulai dari penyelundupan, pengedaran dan pengkonsumsi.

Novel ini menceritakan Paul Devereaux (Sang Kobra) yang menjalankan misi bawah tanah untuk mencegah dan menghancurkan industri kokain sampai ke akar-akarnya setelah ia diperintah langsung oleh Presiden Amerika Serikat setelah presiden mempelajari industri kokaina secara menyeluruh mulai dari penanam-pengedar dan pengguna, atas rekomendasi perdana menteri Gedung Putih (hlm. 27-33). Sang Kobra adalah mantan inteligen CIA, diberhentikan karena terlalu kejam dalam menindak pihak musuh.

Selain bisnis prostitusi dan penyelundupan senjata, bisnis narkoba juga sangat menggiurkan. Siapa yang tak tergiur dengan uang $ 700 setiap gram kokain, atau bahkan berkali lipat dari itu.  Apalagi sampai 1 kg atau bahkan 1 kwintal. $ 700 jika di kurs ke rupiah maka, $ 1= Rp. 13.000, 13.000 x 700 = 9.100.000 per gram kokain (harga dalam novel ini). Sehingga, proses penyelundupan obat-obatan terlarang itu sangat rapi dan sangat rahasia.

Paul Devereaux sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, ia menghubungi Calvin Dexter—pengacara dari kota kecil Pennington yang bertubuh liat, berambut pirang pasir, ramah, dan murah senyum—sebagai patnernya sekaligus diangkat menjadi Pejabat Eksekutif Proyek Kobra. Proyek Kobra ini, oleh Paul Devereaux, sebelum dijalankan mengajukan lima persyaratan, diantaranya: meminta anggaran sebesar dua miliar dolar (hlm. 60-63).

Abraham Lincoln (1809-1863) mengatakan bahwa hampir semua orang dapat bertahan menghadapi kesulitan, tetapi kalau ingin tahu watak seseorang, berilah dia kekuasaan. Ungkapan Abraham Lincoln tersebut nyaris relevan dengan perilaku para pejabat dalam novel ini. Banyak pejabat yang tidak kuat dengan uang sogokan dari para pengedar gelap kokain, Kartel, yang diketuai oleh Sang Don. Sang Don Sendiri mempunyai anak buah dari berbagai lini pemerintahan. Mulai dari pimpinan tentara angkatan darat, pengacara, tekhnisi, dewan hubungan internasional sampai tukang las kapal yang sangat lihai dalam memodifikasi bentuk kapal.

Dalam novel ini, Frederick Forsyth, seakan-akan ingin mengatakan bahwa betapa banyak para pejabat pemerintah yang ikut serta dalam bisnis gelap narkoba tak terkecuali polisi dan tentara yang notabenenya menjadi penertib dan penjaga keamanan masyarakat dan negara dari berbagai gangguan.

Novel yang berlatar belakang Eropa dan Amerika ini, semakin nampak karakter penulisnya sebagai anak kandung kebudayaan setempat. Hal ini, dibuktikan dengan dihadirkannya tekhnologi-tekhnologi canggih dalam memberantas gembong kokain. Kapal perang yang dimodifikasi oleh Duncan Mcgregor, ahli mengubah kapal, menjadi berpenampilan kapal pedagang yang membuat para penyelundup kokain terkecoh. Sinar laser X yang dapat mengidentifikasi bahan aditif dalam lemak (tubuh) sekalipun. Ia menggambarkan tekhnologi pemeriksa dan pencegah yang semakin canggih seiring penyelundup juga semakin canggih.

Frederick mengumpakan teknologi pembaharuan layaknya penyakit/hama dan obat/racun. Penyakit/hama yang selalu diracun, pada akhirnya penyakit/hama akan beradaptasi dengan racun yang membuat tubuhnya semakin kebal dengan racun, sehingga perlu racun baru yang lebih ampuh. Begitulah seterusnya. Begitu pula dengan perilaku para gembong narkoba yang lama-lama beradaptasi dengan aparat dan aparat pun harus memperbaharui tekhniknya dalam beroperasi.

Bisnis narkoba tidak seperti halnya bisnis pada umumnya. Tidak ada istilah "sepakat atau pergi" tetapi "sepakat atau mati" karena takut akan membocorkan rahasia. Hal ini, sering terjadi pada anggota Kartel. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh sesama mafia yang disinyalir berkhianat, meskipun tidak terbukti kebenarannya. Begitulah salah satu taktik Sang Kobra dalam memberantas narkoba. Ia mengatakan bahwa yang bisa memberantas gembong Kokaina hanyalah diantara mereka sendiri, pemerintah sendiri sulit untuk hal demikian karena selalu lahir generasi baru Kartel.

Sungguh disayangkan, pada saat proyek Kobra mencapai puncak keberhasilannya, proyek Kobra tiba-tiba disuruh berhenti oleh kepala staf Gedung Putih. Sehingga, Paul Devereaux terpaksa menarik semua armadanya dan memerintahkan Cal Dexter untuk menghentikan operasinya. Kartel masih belum benar-benar musnah dan Kepalanya, Sang Don, masih belum berhasil ditaklukkan.

Beberapa bulan setelah pemberhentian proyek Kobra, Sang Kobra ditemukan meninggal di kediamannya di sebuah pulau. Terdapat dua luka tembak di dadanya. Sebab kematiannya masih misteri dan perjalanan Kartel juga masih mengandung misteri sampai berakhirnya cerita ini.

Pada bagian terakhir, Frederick Forsyth seolah ingin mengatakan bahwa jalan kebenaran memanglah sukar sekali dan bahkan harus ditukar dengan nyawa. Semua butuh pengorbanan, demi terciptanya negara yang sejahtera.[*] 

Data Buku:

Judul: The Cobra (Sang Kobra)

Penulis: Frederick Forsyth

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, 2016

Tebal: 459 halaman

ISBN: 978-602-03-2504-0

 

*Penulis adalah Mahasiswa INSTIKA dan aktif di Roemah Ilmoe Sumenep.

 

 

 


 





Baca Juga