Minggu, 11/09/2016 04:28 WIB | Dibaca: 1041 kali

Romo Acun Buka-Bukaan Soal Calon Wali Kota dari PDIP


Tokoh-tokoh PDIP Kota Jogja saat silaturahmi Forum Banteng Tangi Turu. Foto: jn1

YOGYAKARTA – Cucu dari Sri Sultan HB VIII, RM. Acun Hadiwidjojo (KRT Poerbokusumo), akhirnya membuka jati dirinya sebagai orang lama di PDIP Perjuangan. Tokoh yang namanya kian santer sebagai Bakal Calon Wali Kota dalam Pilkada 2017 mendatang ini mengklarifikasi tudingan pendukung Imam Priyono terhadapnya sebagai ‘penyusup’ di PDIP.

“Sejak Orde Baru di sini (Lingkungan Kraton Yogyakarta, red), hanya saya yang berani Merah (PDI). Rumah saya pernah dibakar karena saya terang-terangan membela Ibu (Megawati Soekarno Putri, red). Sampai sekarang saya dengan Ibu masih berhubungan baik layaknya anak dan Ibu, adik dan kakak. Jadi siapa yang penyusup? Yang mengatakan itu bukan banteng, tapi wedhus (kambing),” tuturnya saat Silaturahmi Forum Banteng Tangi Turu,  Satu seru untuk Jogja baru” di kediamannya, Ndalem Notoprajan Yogyakarta, Sabtu (10/09/2016) malam.

Romo acun, begitu ia akrab disapa, mengatakan sebagai pendiri Pendukung Setia Ibu Megawati (PSIM) dimasa Orde Baru, bukanlah sesuatu yang tanpa resiko. Intimidasi dan berbagai terror fisik dan non fisik kerap dialaminya. Namun semua itu dijalaninya dengan senang hati.

“Dulu saya ditanya Ibu: Anda tahu resikonya mendukung saya? Kanapa Anda begitu nekat, apa tidak takut?. Saya jawab : tahu, dan saya senang bu,” Kata Romo acun berkisah disambut tepuk tangan massa ‘banteng’ yang hadir.

Oleh karena itu, Romo Acun juga menyayangkan pihak yang mencoba membunuh karakternya sebagai ‘Penyusup’ di PDIP.

“Ini saya buka sejarah yang sebenarnya agar jelas siapa sesungguhnya penyusup itu,” tegasnya.

Sementara langkah DPC PDIP Kota Yogyakarta yang hanya memunculkan satu nama bakal calon wali kota, yaitu Imam Priyono tanpa membuka pendaftaran, menurut Romo Acun akan sangat merugikan partai. Imam Priyono, kata dia, bukanlah sosok yang bisa diharapkan untuk PDIP menang Pilkada mendatang. 

“Sekarang lihat saja, Imam Priyono itu diberi surat tugas. Ingat surat tugas, bukan rekomendasi lho. Isinya untuk mencari wakil dalam waktu sekitar dua minggu jelang pendaftaran di KPU. Tapi nyatanya ngga ada yang mau. Ini menunjukkan dia (IP) ini kurang disukai. Kalau begini kan berat nantinya,” imbuh Romo Acun.

“Saya maju ini karena didorong kader dan tokoh PDIP juga. Niat saya demi menyelamatkan PDIP dan menjaga nama besar Ibu (Megawati). Perinsipnya PDI Perjuangan itu pemenang Pemilu, jadi sangat ironis kalau sampai tidak bisa merebut kursi Wali Kota. Kader PDI Perjuangan potensial di Kota Jogja ini banyak sekali, seperti Pak Chang (Chang Wendriyanto, red) kenapa kemudian tidak diakomodir? Ini yang membuat keprihatinan saya,” ucapnya.

Hal senada dikatakan Chang Wendriyanto, anggota DPRD DIY dari Frakssi PDIP  yang sudah mendaftar langsung ke DPP PDIP sebagai calon Wali Kota.  Ia menilai DPC PDIP kota sudah keluar jalur dan dikuasai elit yang tidak berkomitmen untuk PDIP.

“Saya mendaftar langsung ke DPP. Itu sesuai mekanisme dan prosedur. Tapi kemudian diisukan tidak sesuai prosedur partai. Inilah yang harus diluruskan. DPC yang hanya mencalonkan Imam Priyono itu jelas keliru. Itu bukan tradisi partai Kita. PDI Perjuangan adalah partai yang menjunjung tinggi demokrasi dan musyawarah ” Kata Chang.

Chang juga menengarai gagalnya Imam Priono menjalankan tugas untuk mencari bakal Calon Wakil Bupati sesuai batas waktu, akibat arogansi sebagian elit PDIP.

“Sampai sekarang Imam Priyono belum bisa mengajukan nama Calon Wakil Bupati. Artinya ini ka nada sinyalemen tidak baik. Ingat PDIP adalah partai pemenang Pemilu, tapi pengalaman Pilkada Sleman dan Bantul yang lalu kalah. Jangan sampai Kota juga kalah,” ujar wakil rakyat yang dikenal vocal dan dekat dengan masyarakat ini.

Sementara Calon dari jalur Independen Arif Nurcahyo dalam kesempatan yang sama mengaku, meski bukan politisi dan kader PDIP, namun secara  idiologis sangat dekat dengan PDIP. Bahkan, sebelum memutuskan maju dari jalur independen, tak sedikit tokoh PDIP yang mendorongnya maju melalui PDIP. Namun demikian, tokoh yang akrab disapa Yoyok ini tidak banyak mengomentari terkait Calon tungal PDIP Kota Yogyakarta.

Tapi Yoyok menegaskan bahwa PDIP adalah partai yang mengedepankan musyawarah untuk mufakat.

“Maju dari Independen tidak akan menang saya tahu. Tapi menurut saya yang terpenting adalah bagaimana saat ini saya memberikan kontribusi terbaik untuk Jogja. Saya pulang ke Jogja ini bukan untuk berperang, tapi untuk bersilaturahmi dengan semua elemen masyarakat, terutama PDIP. Tentu sesuai simbolnya yang mengambil dari sila ke 4 Pancasila, PDI Perjuangan mengedepankan Musyawarah mufakat,” ucap tokoh yang dekat dengan seniman di Kota Yogyakarta ini.

Yoyok menilai untuk membangun Kota Yogyakarta perlu cara yang istimewa. Konsep gamelan, kata dia, adalah cerminan untuk membangun Jogja ke depan.

“Jadi gamelan itu tidak perlu aba-aba. Semua nada yang berbeda berpadu dalam harmonisasi. Ini adalah cerminan budaya Kota jogja yang berbudaya dan beragam. Jadi saya merasa pendekatan melalui budaya dalam politik ini penting,” tutur pria yang masih menyandang pangkat Komisaris Besar (Polisi) Polisi dan akan segera mengajukan pensiun ini.  (jn1)

Redaktur: Rudi F

 

 

 

 


 





Baca Juga