SAPMA PP Soedirman: Pemutaran Film Pengkhianatan PKI Bukan Membesarkan ORBA


Pengurus SAPMA PP Soedirman bersama Kajur Kedokteran Unsoed usai Nobar Film G 30 S. Foto: Syarifudin

PURWOKERTO - Pemutaran film Gerakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI) sempat menjadi pro dan kontra di tahun ini.  Ada yang menganggap pemutaran film tersebut hanya membesarkan nama Presiden ke 2 RI,  Soeharto atau Orde Baru (ORBA). Namun hal itu dibantah oleh pengurus Satuan Siswa Pelajar Dan Mahasiswa Pemuda Pancasila (SAPMA PP) Komisariat Soedirman,

“Anggapan itu jelas keliru. Padahal kita ketahui bersama sutradara film  adalah Arifin C Noor.  Menurut kalangan seniman pada saat itu, Arifin dikenal sebagai seniman yang jenius namun cukup angkuh. Jadi tidak mungkin beliau mau disetir, bahkan oleh penguasa ORBA kalau soal berkarya,” ungkap Sekretaris SAPMA, M Andy Kusuma SE, usai menggelar Nonton Bareng (Nobar) Film G 30 S/PKI yang digelar bersama Himpunan Mahasiswa jurusan kedokteran gigi Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto, tadi malam (29/09/2019).

Hal senada diungkapkan Ketua Jurusan Kedokteran Gigi Unsoed,  Drg. Helmi Hirawan, SpBM. Menurutnya dengan pemutaran film G 30 S PKI bukan berarti mendukung atau sebagai simpatisan ORBA. Namun, kata dia, hal itu merupakan upaya mengingatkan kembali masyarakat, termasuk mahasiswa akan peristiwa kelam dalam sejarah Republik Indonesia,

“Tentu saja pemutaran film bersejarah ini penting, untuk mengingat pengkhianatan PKI  kepada negara dan Pancasila agar ke depan tidak terulang kejadian serupa. Tidak ada tempat bagi komunisme dan paham radikal apapun yang bertolak belakang dengan Pancasila di bumi Indonesia ini. Kekerasan dan ekstrimisme jelas bukan budaya bangsa kita,” tegasnya.

Dalam kesempatan Nobar dan diskusi tersebut, Helmi menghimbau kepada masyarakat dan mahasiswa yang hadir agar waspada terhadap bahaya laten komunis di era mileneal ini.

“Mereka tak berbentuk, bisa masuk ke semua lapisan masyarakat.  Dan kita sebagai bangsa Indonesia yang besar juga  harus mewaspadai perkembangan geolpolitik. Negara kita terancam neokolonialisme (penjajahan baru, red) bangsa-bangsa asing yang sudah menjadi Negara Adidaya baru,” pungkasnya.

Pantauan jogjakartanews.com, mahasiswa dan masyarakat yang hadir sangat antusias menonton dan mendiskusikan tentang peristiwa G30S/PKI.   Acara yang dimulai pukul 19.30 tadi malam dihadiri sekitar seratusan peserta. (kt3)

Redaktur: Syarifudin


 





Baca Juga