Hashim Djojohadikusumo Minta Aksira Ingatkan Gerindra Jika Menyimpang


Hashim Djojohadikusumo menyerahkan bantuan sosial dari Prabowo Subianto usai pelantikan DPD Aksira DIY. Foto: Ja'faruddin. AS

YOGYAKARTA – Wakil Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo mengatakan, Organisasi Masyarakat Aksi Kesetiakawanan Sosial Indonesia Raya (Aksira) adalah pendamping Gerindra yang sangat penting. Bahkan, Aksira dinilainya sebagai hati nurani dari Gerindra,

“Kalua Partai Gerindra menyimpang kita semua wajib mengingatkan apa yang menjadi penyimpangan.Kalau Gerindra melakukan hal -hal yang menyimpang dari cita-cita para pendiri bangsa, Aksira yang kita harapkan untuk mengingatkan,” kata Hashim yang anggota Pembina Aksira saat memberikan sambutan dalam pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Aksira Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2017-2022 di Pendopo Balai Desa Canden,Kecamatan Jetis, Bantul (03/11/2017), Jumat (3/11/2017) sore.

Adik Kandung Prabowo Subianto ini menegaskan, sebagaimana Gerindra, Aksira bukan tempat mencari kekayaan dan jabatan. Menurut Hashim, yang Gerindra cari adalah kekuasaan untuk berbuat kebaikan. Dicontohkannya ketika Gerindra menang dalam Pilkada DKI, dimana Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menutup tempat pelacuran,

“Warga Jogja saya kira sudah tahu Alexis itu apa. Kok bertahun-tahun bisa bertahan seolah-olah kebal dari hukum. Tapi alhamdulillah, dengan kemenangan Calon dari Gerindra yaitu Anies-Sandi, mereka sudah berbuat hal yang baik, yang antara lain menutup tempat pelacuran seperti alexis di Jakarta. Itu yang saya maksud,” beber putra begawan ekonomi, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo.

Bahkan menurutnya sebelum lahirnya Gerindra, jika Prabowo Subianto sebagai pendiri partai ingin kekayaan dan kekuasaan maka sudah bisa didapatkan 13 tahun yang lalu. Prabowo, kata dia, pernah ditawari jabatan sebagai Kepala Badan Intelegen Negara (BIN) tahun 2004 oleh Presiden Susulo Bambang Yudhoyono (SBY).  Prabowo, dikatakan Hashim, lebih memilih menjadi ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) karena rasa kesetiakawanan dengan rakyat Indonesia yang sebagian besarnya petani dan belum sejahtera.

Gerindra yang tidak berorientasi harta dan jabatan ditegaskan Hashim ketika menolak tawaran jabatan 4 sampai 5 menteri di awal kabinet Jokowi. Alasan  Hashim, Gerindra ingin menentukan nasib bangsa menjadi lebih baik, sehingga jika pimpinan negara bukan dari Gerindra apa yang menjadi visi mulai partai, sulit terwujud.

Hashim  juga menandaskan, kesetiakawanan sosial juga dibuktikan Gerindra pada saat masih menjadi partai kecil. Diceritakan Hashim, pada tahun 2013 sejumlah aktivis devabel yang dulu disebut penyandang cacat, mendatangai DPR RI di senayan meminta adanya Undang-Undang Defabilitas, namun tak satupun partai mau menemui kecuali Gerindra,

“Devabel di Indonesia jumlahnya menurut mereka 37 juta. Hanya dari Partai Gerindra yang menemui, itupun tanpa instruksi dari pimpinan. Pak Prabowo tidak tahu waktu itu. 2014 saya bertemu dengan 1200 defabel di Balai Kartini dan berjanji jika Gerindra diberi kesempatan, kita akan wujudkan Undang-Undang Defabilitas. Saya ingat ada153 pasal rancangan Undang-Undang Defabilitas kita buat. Alhamdulillah April 2016 lalu ditandatangani Jokowi. Itu tanpa mahar, kita tanpa pamrih,” kata cucu salah satu pendiri Koperasi Indonesia, R.M. Margono Djojohadikusumo ini.

Masih menurut Hashim, keselarasan Gerindra dengan Aksira juga dalam tujuan menjaga lingkungan hidup. Gerindra, kata dia, dua tahun yang lalu telah  membuktikan dengan mengagalkan proyek pembangunan jalan 60 Km yang membelah taman Nasioal Kerinci Seblat yang terbesar di pulau Sumatera. Menurutnya jika hutan seluas 1, 3 juta hektar yang menjadi kebanggaan dunia tersebut dibelah, maka akan hancur,

“Jalan mau dibangun dengan dalih evakuasi bila Gunung Kerinci Meletus. Padahal terakhir meletus 300- 400 an tahun lalu. Stelah kita cek ternyata dari dulu sudah ada dua jalan evaluasi yang melingkari hutan. Jika dibelah jalan raya, maka akan datang pembalak liar, pemburu  satwa liar, penjarah dan perambah hutan. Lambat laun akan hancur dan gundul,” ujarnya.

Gerindra menurut Hashim juga lebih mengedepankan hati nurani. Dia mencontohkan meskipun Kalah voting saat menentang Peppu No 2 tahun 2017 tentang pembubaran ormas yang dinilai sewenang-wenang, namun karena demi hati nurani,

“Kita bersama PKS dan PAN. Kita kalah nggak apa-apa karena hati kita bersih, karena kita pendekar, kita bahkan sering sendirian. Dulu, kita menentang revisi Undang-Undang KPK sendirian, 9 banding 1, tapi karena rakyat dukung, partai lain akhirnya ikut dan Jokowi tidak berani melanjutkan revisi. Kita buktikan sebagai oposisi yang baik,” imbuh Hashim.

Dia menegaskan, Gerindra adalah alat perjuangan yang di dalamnya  tidak ada petugas partai, melainkan pejuang politik.  

“Politik itu harus diperjuangkan, karena kalau orang-orang baik tidak masuk politik, maka Senayan (DPR) akan dikuasai orang-orang jahat, koruptor dan iblis berkaki dua. Oleh karenanya kami minta Aksira nanti diharapkan bisa membuat masukan positif, bisa juga memberikan temuan negatif. Kalau ada yang jelek laporkan,” tegas  Hashim Djojohadikusumo.

Setelah acara pelantikan, Hashim menyerahkan bantuan dari Kelaurga Prabowo Subiyanto untuk Pondok Pesantren (Ponpes) Lansia di Bantul; Ponpes As Salam di Tempel, Sleman; Bantuan Komputer untuk SD Mlesen, Tempel, Sleman dan Bantuan Sarana Produksi Padi untuk kelompok tani di Bantul, serta bantuan untuk Ormas Pemuda Pancasila dan Banser Bantul. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 


 





Baca Juga