Jumat, 10/11/2017 18:02 WIB | Dibaca: 201 kali

Refleksi Singkat Perjuangan Pahlawan Nasional Lafran Pane


Raihan Ariatama. Foto:ist
Oleh: Raihan Ariatama*

Prof. Drs. H. Lafran Pane adalah salah satu tokoh yang dianugerahkan oleh Presiden Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. Anugerah sebagai pahlawan nasional ini kemudian ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Anugrah pahlawan nasional ini diberikan kepada Prof. Dr Lafran Pane bersama tiga tokoh nasional lainnya, yakni TGKH Mugammad Zainuddin Abdul Muajid, Laksamana Malahayati, dan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Siapa Lafran Pane?

Prof. Drs. H. Lafran Pane merupakan putra kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan pada tahun 1922. Lafran Pane adalah putra dari pejuang nasional asal Sipirok yakni Sutan Panguraban Pane.

Prof Drs. H. Lafran Pane merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Lafran Pane tumbuh bersama saudara-saudaranya sebagai orang-orang yang sukses dibidang masing-masing. Saudaranya adalah Sanusi Pane yang merupakan sastrawan angkatan pujangga baru yang terkenal di Indoneisa dengan karyanya “Puspa Mega” dan “Madah Kelana”. Saudaranya Armijn Pane merupakan sastrawan dengan karyanya yakni “Habis Gelap Terbitlah Terang” .

Insan Akademis

Lafran Pane kecil, remaja, hingga dewasa adalah sosok pembelajar gigih. Perjalanan insan akademis dimulai dari menuntut ilmu di Pesantren Muhammadiah Sipirok. Masa remaja yang mulai dihabiskan untuk bersekolah yang berpindah-pindah, dan pada akhirnya lulus di HIS Muhammadiah. Kemudian Lafran Pane tumbuh dewasa dan melanjutkan studinya ke Jakarta.

Dampak dari perang dunia kedua, Ibukota RI berserta segala aktivitasnya dipindahkan ke Yogyakarta, termasuk aktivitas pendidikan yang ditandai dengan ikut pindahnya STI (Sekolah Tinggi Islam). Selama bersekolah di STI Lafran Pane semakin berkembang menjadi seorang pembelajar. Tidak puas menggali ilmu di STI, Lafran Pane pun kemudian menempa diri di Universitas Gadjah Mada dan tercatat menjadi sarjana ilmu politik pertama di Indonesia.

Insan Pencipta

Prof. Drs. H. Lafran Pane namanya abadi karena telah pemrakarsai berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). HMI didirikan oleh Prof.  Drs. H. Lafran Pane ketika masih menjadi mahasiswa tingkat I di Sekolah Tinggi Islam (STI) pada hari Rabu tanggal 5 Februari 1947 M,  15 Rabiulawal 1366 H.

HMI berdiri dengan tujuan yakni, pertama  mempertahankan Negara Republik Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkann ajaran agama Islam. Melalui HMI tercermin gagasan Lafran Pane untuk mempertahankan NKRI yang kala itu masih terombang-ambing dari serangan kolonial melalui agresi militer.

Disisi lain melihat kondisi umat islam yang mulai jumud, mucul keinginan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Maka HMI didirikan untuk kembali meningkatkan ghirah umat islam di Indonesia untuk senantiasa memperdalam ilmu dan pengetahuan terhadap ajaran islam serta senantiasa meningkatkan keimanan sebagai umat manusia.

HMI dalam perjalannya turut mengiringi perjalanan republik ini dengan segala dinamikanya. Banyak kontribusi yang telah dipesembahkan HMI untuk republik ini. Sehingga HMI pun masih eksis berdiri kokoh hingga detik ini. Bahkan Lafaran Pane pun pernah mengatakan bahwa tidak menyangka organisasi ciptaannya bisa berkembang pesat dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan republik ini.

Insan Pengabdi

Dunia pendidikan adalah tempat Prof. Drs. H. Lafran Pane belajar, berjuang, serta berkembang. Lafran Pane menghabiskan waktunya di dunia pendidikan dari kecil hingga dewasa. Beliau tumbuh dan berkembang didunia pendidikan sehingga menjadi sosok yang terpelajar. Hingga masa tua pun, Lafran Pane tetap mewakafkan waktunya di dunia pendidikan.

Purna ber-HMI tidak lantas menjadikan Prof. Drs. H. Lafran Pane menjadi sosok yang gila akan kekuasaan dengan segala pengaruh yang dimiliki. Lafran pane meletakkan pilihanya untuk mengabdi didunia pendidikan. Mengabdikan diri menjadi seorang dosen dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa. Tercatat Prof. Drs. H. Lafran Pane mengajar di Fakultas Ilmu Sosial IKIP Yogyakarta, sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia serta Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pun tercatat dalam daftar tempat pengabdiannya.

Gagasan Keislaman

Proses perjalanan pendidikan Lafran Pane tidak terlepas dari pengaruh ajaran islam. Lafran Pane memulai pendidikannya di sekolah berbasiskan keagamaan hingga dewasapun seperti itu. Meskipun bukan santri, akan tetapi setiap langkah perjuangannya didasarkan pada nilai-nilai keislaman.

Melalui banyak literatur, Lafran Pane mulai belajar tentang keislaman. Hasil pemikiran yang  menarik adalah dalam HMI, islam tidak dikotak-kotakkan. Islam adalah Islam. Maka di HMI islamnya beragam seperti islam kiri, abangan, islam fundamental, bahkan islam ekstrim. Diantara perbedaan islam tersebut terjadi silang pemikiran yang bertujuan untuk pemahaman satu sama lain, bukan untuk dipertentangkan.

Islam dan Indonesia

Berkembangnya pengaruh pemikiran keislaman Lafran Pane terhadap masyarakat, tidak semerta-merta melupakan Indonesia. Kehadiran HMI dengan semangat keislamannya mampu menjadi kekuatan besar. Keislaman HMI tidak  sebagai tandingan terhadap pancasila akan tetapi HMI hadir untuk meyakinkan umat islam bahwa pancasila adalah ideologi negara. 

Banyak tawaran yang mencoba menggoyahkan semangat pemikiran keislaman ke-Indonesian, akan tetapi Lafran Pane mampu membendungnya serta tetap istiqomah, seperti menolak untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Hal inilah yang kemudian menjadikan HMI mampu membersamai Indonesia hingga saat ini.

Anugrah Pahlawan Nasional

Anugrah Pahlawan Nasional kepada Prof. Drs. H. Lafran Pane bukan untuk diberdebatkan, karena memang jasanya sangat besar. Perjuangan yang begitu besar ditandai dengan keikutsertaan dalam membangun bangsa ini di awal kemerdekaan, membersamai perjalanan republik ini dengan segala dinamikanya serta melahirkan berjuta-juta kader yang berkontribusi terhadap pembangunan negeri ini.

Anugerah Pahlawan Nasional ini bukan untuk euforia semata. Anugerah ini haruslah menjadi refleksi bagi kita sebagai rakyat, sebagai umat, dan sebagai kader. Lafran Pane telah meng-ilham-i kita bagaimana cara untuk berjuang dan berkontribusi terhadap republik ini.

Anugerah Pahlawan Nasional ini bukanlah akhir dari perjuangan Lafran Pane. Sebagai kader HMI, sepatutnya kita melanjutkan apa yang telah dicita-citakan oleh Lafran Pane melalui HMI. Kita wajib mebersamai republik ini sampai kapanpun.

Yakin Usaha Sampai [*]

*Penulis adalah ketua umum HMI Bulaksumur Sleman, Mahasiswa Magister Ekonomika Pembangunan UGM


 





Baca Juga