Dukuh Jelok Masih Terisolir, Relawan Berjibaku Sebrangkan Bantuan di Sungai Oyo dengan Ban Bekas


Relawan berjibaku menyebrang kali Oyo dengan ban bekas untuk mendistribusikan bantuan korban banjir. Foto: Ja'faruddin AS

GUNUNGKIDUL- Kondisi korban bencana banjir dan tanah longsor dampak siklon tropis Cempaka di Dusun Jelok, Desa Beji, Kecamatan Patuk Gunungkidul masih memprihatinkan. Wargra masih terisolir akibat putusnya Jembatan Jelok yang menghubungkan dengan pusat desa Beji dan Kecamatan Patuk. Bahkan untuk menyalurkan bantuan, relawan harus berjibaku menyeberangi arus Kali (Sungai) Oyo dengan menggunakan ban bekas.

Relawan kemanusiaan yang aktif membantu warga Jelok, Aminudin Aziz mengatakan  sedikitnya 150 KK dengan 350 jiwa di Dusun Jelok masih terisolir. Menurutnya, untuk menuju pusat layanan publik yang semula cukup melewati jembatan tak lebih dari 1 Km, saat ini harus ditempuh warga hingga sejauh 20 Km dari Ngleri,

“Bisa juga Lewat Gading, jaraknya 7 hingga 8 Km tapi medannya sangat berat sehingga sulit dilewati kendaraan, kalau bukan mobil off road sulit. Biaya transportasi jadi dua kali lipatnya. Anak sekolah yang mungkin biasanya untuk transport mungkin 5 Ribu (rupiah) sekarang  jadi 10 ribu,” katanya usai menerima bantuan dari Supriyanto, mewakili budayawan dan tokoh iintas iman dari ‘Indonesia Rumah Bersama’, Sabtu (02/12/2017).

Dijelaskan Aziz, sulitnya akses menuju Jelok juga membuat terhambatnya distribusi bantuan. Untuk mempercepat pengiriman bantuan, dia dan warga terpaksa menggunakan ban bekas yang biasanya digunakan untuk wisata susur Kali Oyo (Cave Tubing) untuk menyeberangi sungai terbesar di Gunungkidul tersebut.

“Tadinya ada perahu tapi tinggal satu karena lainnya  terbawa arus banjir, itupun kondisinya kurang baik, sehingga untuk bantuan kami sebrangkan menggunakan ban bekas ini,” kata Aziz yang aktivis Kampung Nusantara, forum lintas iman di Gunungkidul.

Untuk menyiasati agar mempermudah warga menyebrang Kali Oyo, kata dia, warga akan bergotong royong membuat rakit, sembari menunggu dibukanya akes jalan alternatif. Untuk jalan alternatif sendiri, kata dia, rencananya akan dibangun dengan konblok sepanjang 20 km sampai jalan raya.

“Rakit ini untuk keadaan darurat, semisal ada warga yang sakit atau untuk menyeberangkan bantuan. Karena di sini (seberang) kan dekat dengan Puskesmas. Tapi kalau untuk anak-anak sekolah kami tidak berani ambil resiko. Mereka diantar menggunakan kendaraan lewat jalan memutar,” tukas penggagas desa wisata Jelok ini.

Aziz menambahkan, selain kebutuhan makanan pokok, kebutuhan warga saat ini juga non pangan seperti pasir, semen, dan bahan bangunan untuk mempercepat pembangunan jalan alternatif.

Di sisi lain, Aziz juga mengapresiasi respons cepat Pemerintah Daerah DIY dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul,

“Pemerintah kabupaten Gunungkidul cukup cepat merespons. Kebutuhan-kebutuhan warga di sini sudah didata, terutama jembatan. 10 rumah yang sempat terendam banjir juga sudah di data. Kabarnya akan segera dikucurkan dana tidak terduga dari pemerintah daerah untuk merehabilitasi daerah terdampak bencana. Semoga cepat terealisasi,” harap Aminudin Aziz. (rd)

Redaktuur: Ja’faruddin AS

 

 


 





Baca Juga