Memikat Lidah, Cita Rasa Sate Kambing Muda Bogem Sejak 1988 Masih Terjaga


Warung Makan Sate Kambung Muda Bogem ramai pelanggan saat musim liburan. Foto: Ja'faruddin. AS

YOGYAKARTA – Kawasan wisata Prambanan dan Kalasan Sleman tidak hanya dikenal dengan Candi dan situs bersejarahnya, namun juga Kulinernya yang khas. Salah satu tempat kuliner yang menjadi buruan wisatawan adalah Rumah Makan Sate Kambing Muda Bogem yang berada di Jl. Solo Km. 14, Bogem, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Warung Sate yang kini dikelola entrepreneur muda, Muhammad Gandhi (22) ini memang istimewa. Cita rasa sate khas warisan leluhurnya masih terjaga sejak 1988. Tak heran jika pelanggan tak hanya datang dari sekitar Yogyakarta, namun juga dari luar kota. Diantara sekian banyak pelanggan setia, salah satunya Agus Handoko (36) warga Lowakwaru, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim).

Menurut Agus, setiap libur panjang, ia selalu berkunjung ke Yogyakarta dan tak melewatkan makan di Rumah Makan Sate Kambing Muda Bogem.

“Setiap kali liburan saya pasti makan di sini. Kebetulan istri asli Kalasan. Satenya di sini lebuh empuk, bumbunya sedap, tongsengnya juga enak, beda dari sate dan tongseng lainnya. Meski kalua libur begini ramai pelanggan, kami rela antri demi merasakan nikmatnya sate Kambing Muda Bogem ini” kata Agus yang bersantap di warung Sate Kambing Muda Bogem, Rabu (27/12/2017).

Terkait suasana warung, Agus juga terkesan. Selain dekat dengan tempat wisata Candi Prambanan dan Candi Kalasan, kata dia, di warung sate Kambing Muda Bogem juga ada nilai edukasinya,

“Ada poster dengan gambar dan foto-foto yang menerangkan sejarah kuliner yang disajikan, seperti sejarah sate, tongseng dan sebagainya. Ini konsepnya bagus menurut saya, pengelolanya kreatif,” ujarnya yang membawa serta keluarganya.

Sementara menurut Muhammad Gandhi, sebenarnya sate dengan cita rasa khas yang ia kelola saat ini sudah dirintis kakek dan neneknya, Mbah Mukmin dan Haniyah yang tinggal di Jl. Kaliurang, Babadan Baru Depok, Sleman.

“Dulu Si Mbah (Mbah Mukmin) pertama kali merintis warung sate pada tahun 1978, di jalan Kaliurang Km 8, tepatnya di depan gardu listrik yang sekarang dikenal dengan Sate Kambing Muda PLN. Pada tahun 1983 Si Mbah membuka cabang pertamanya di Wonokromo, Bantul,” katanya.

Dikisahkan Gandhi, Mbah Mukmin bekerja keras untuk menghidupi 7 anaknya. Cita rasa satenya yang khas membuat pelanggan  puas. Dari hari ke hari pelanggan bahkan bertambah. Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya kemudian membuka cabang di berbagai tempat di sekitar Yogyakarta, selain di Jl. Kaliurang Km.8, dibuka cabang di Jl. Kaliurang Km13, Bumijo, Maguwoharjo, Sedan (Jl. Monjali) dan di Bogem Kalasan.

“Tahun 1998 Mbah Putri (Haniyah) meninggal dan Mbah Kakung (Mukmin) pensiun dari usaha sate dan dilanjutkan oleh anak-anaknya. Mbah Kakung  meninggal pada 2005. Saya sendiri meneruskan usaha dari ibu saya, Siti Zaitun yang putri ke 6 dari Simbah,” kata pengusaha muda yang masih duduk di bangku kuliah Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta ini.

Mahasiswa Semester 6 ini mengaku tetap menjaga cita rasa sate ala kekeknya sejak dirintis. Selain itu, untuk mengembangkan usaha kulenernya, Gandhi juga berinovasi menambah menu. Antara lain, tengkleng goreng, tongseng otak, tongseng kepala, sate klatak, sate ayam, nasi goreng kambing, nasi goreng ayam, nasi goreng telor, dan menu-menu lain yang diraciknya sendiri.

Selain makanan, di warung Sate Kambing Muda Bogem juga tersedia aneka minuman sehat menyegarkan, diantaranya aloe vera (lidah buaya), lemon squash, wedhang Tomat, es tape ketan, es asem Jawa, wedhang uwuh, jahe susu, dan sebagainya.

Dikatakan Gandhi, setiap harinya ia bisa menghabiskan 4 hingga 5 ekor kambing. Omzetnya naik saat libur panjang seperti pekan ini,

“Sejak libur Natal dan jelang tahun baru ini, omzet meningkat. Dalam sehari rata-rata kami bisa menghabiskan 8 hingga 10 ekor kambing,” ujar mahasiswa yang mengambil jurusan Teknik Geologi di UPN ini.

Gandhi mengungkapkan rahasia warung satenya supaya tetap diburu penggemar. Selain kualitas cita rasa, kata dia,  harga juga dijaga dalam batas yang standar, bahkan relatif murah.

“Untuk sate dan tengkleng yang menjadi menu andalan harganya antara Rp 16.000 hingga Rp 20.000, agar terjangkau semua kalangan. Yang terpenting bagi saya adalah menjaga kepuasan pelanggan” imbuh Muhammad Gandhi. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin AS



 

Berita Terkait

 





Baca Juga