Kamis, 22/03/2018 15:29 WIB | Dibaca: 206 kali

Kampanye Sekolah Siaga Bencana Harus Diperluas


Teguh Wiyono. Foto:doc

Oleh: Oleh: Teguh Wiyono, M.Pd.I *

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diawal tahun 2018 dalam kurun waktu dua bulan dari bulan Januari sampai dengan bulan Februari mencatat 438 kejadian bencana alam yang meliputi 167 puting beliung, 120 banjir, 120 tanah longsor, 12 kebakaran hutan dan lahan, 10 banjir, 7 gelombang pasang, serta dua gempa. Sedikitnya 60 orang tewas dan hilang dalam berbagai musibah, 93 luka-luka, hampir 300 ribu jiwa mengungsi dan berdampak. Kemudian dampak bencana alam tersebut terdapat 11.324 rumah rusak dan 173 unit fasilitas umum, sebenarnya masih bertambah karena di wilayah lain masih banyak bencana yang belum kunjung berhenti. Hal tersebut tentunya sangat mengerikan dan membuat masyarkat menjadi tidak merasa nyaman.

Bencana merupakan keniscayaan, besar kecilnya bencana sangat ditentukan oleh alam, dan pengaruh manusia sangat dominan dalam merusak alam, kerusakan hutan, degradasi lahan, kerusakan lingkungan, DAS kritis dan lainya telah semakin memicu terjadinya bencana.

Dengan begitu banyaknya korban kejadian bencana penyebabnya adalah masayarakat kita dalam kesiapsiagaan dalam menghadapai bencana masih sangat kurang dalam pemahaman dan kesadaranya, sehingga langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan pengurangan resiko bencana alam dengan memperluaskan kampanye siaga bencana alam melalui lembaga pendidikan dengan pembentukan kegiatan sekolah siaga bencana.

Menurut peraturan N\o.04 tentang Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Dari Bencana. Peraturan inilah  yang mengkerangkakan pendidikan siaga bencana yang harus diberikan kepada rakyat Indonesia sejak dini. Dalam peraturan tersebut dibahas dengan sangat detail tentang nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan strategi dasar untuk membantu pihak sekolah dan stakeholder untuk membangun sekolah siaga bencana/sekolah aman.

Nilai-nilai SSB dalam peraturan yang dikeluarkan BNPB diantarnya; Pertama, Budaya yaitu adanya perubahan budaya, paradigma, dan pemahaman, dasar ilmu bencana berorientasi pemberdayaan dengan menggerakan segala sumber daya yang dimiliki, mengembangkan kurikulum berbasis siaga bencana, melatih guru-guru dan pembiayaan kegiatan bebasis ilmu bencana. Kedua, Kemandirian yaitu pihak sekolah harus bisa mendiri dan mengampu menggerakan sumber daya yang dimiliki sekolah. Ketiga. Pendekatan Berbasis Hak, yaitu setiap unsur sekolah mempuyai hak untuk selamat dari bencana, mereka mempunyai hak untuk aman dari bencana. Keempat, Berkelanjutan yaitu sekolah siaga bencana yang pernah digagas oleh pemerintah, mitra, aktifis, kebencanaan harus bisa dilanjutkan oleh para guru dan murid dalam semua aspek pembelajaran. Kelima, Kearifan Lokal yaitu setiap bangsa dan suku yang ada di dunia ini pasti memiliki kearifan lokal, masing-masing tentang bencana kemitraan pihak luar untuk menggalangkan penerapan sekolah siaga bencana. Keenam, Inklusivitas yaitu sekolah siaga bencana harus mempu melindungi dan memperhatikan kepentingan setiap unsur sekolah termasuk murid yang memiliki kebutuhan khusus. Ketujuh, Peningkatan partisipasi publik dan anak yaitu pihak wali murid dan orang tua dan anak didik harus saling berkoodinasi. 

Menggugah Kesadaran

Sekolah Siaga Bencana (SSB) merupakan program berbasis sekolah dalam rangka membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi terjadinya bencana di wilayah. Program ini bertujuan menggugah kesadaran seluruh unsur baik individu maupun kolektif di sekolah dan lingkunagan sekolah agar memahami dan siap menghadapai bencan yang mungkin terjadi.

Sehingga peluasan kampanya sekolah siaga bencana dirasa sangat penting bahkan bisa menjadi keharusan untuk dilaksannakan karena memberikan dampak positif diantaranya menjadiakan seorang siswa bersiap diri dalam menghadapi kedaruratan bencana karena tinggal di rawan bencana, menciptakan budaya aman dan mengurangi korban jiwa. Jika siswa sudah dibekali ilmu tentang siaga bencana diharapkan mampu mengajarkan di lungkungan keluarga dan warga sekitar untuk siap siaga membuat keputusan ketika bencana terjadi mereka sudah memiliki cara menyelamatakan dirinya. Selain itu, agar anak bisa mengetahui jalur evakuasi bencana untuk menuju tempat yang aman. Membekali anak melalui practical training bagaimana melindungi dirinya dan bagaimana mereka bisa merespon bencana tersebut secara tepat dan cepat. Misalanya menunjukan tempat yang harus dihindari saat bencana terjadi. Dan terakhir adalah pasca bencana, dalam fase ini guru bisa membekali anak pengetahuan bagaimana sikap dalam menghadapi masa setelah bencana. Contohnya memberikan pengarahan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat berada di pengungsian agar tidak terpisah dari keluarga. Kemudian guru bisa memberikan trauma healing agar kondisi anak tidak terguncang saat berhadapan dengan bencana.

Kemudian syarat agar perluasan kampanye sekolah siaga bencana berjalan dengan lancar diantaranya; memliki komitmen dari kepala sekolah dan komunitas sekolah, didukung dari dinas pendidikan di wilayahnya, memiliki dukungan dari organisasi terkait pengurangan resiko bencana, melakukan penguatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan bagi guru dan siswa sekolah, melakukan latihan berkala yang jelas dan terukur, melibatakan dukungan terus menerus dari stakeholder dalam proses pemantauan dan evaluasi sekolah. 

Kita bangsa Indonesia bisa belajar dari Jepang, negara Jepang merupakan negara yang rawan bancana namun masyarkat dalam menghadapi bencana sudah sangat siap, dikarenakan lembaga pendidikan dan pemerintah sudah memasukan kurikulum pendidikan bencana mulai dari tingkat sekolah dasar samapai menengah. Sehingga tak heran jika di Jepang kesiapsiagaan warganya terhadap bencana sudah menjadi budaya.

Mari kita bersama-sama melindungi para pemuda generasi bangsa, keluarga dan masyarakat agar bisa terhidar dari resiko bencana dengan memperluaskan kampanye sekolah siaga bencana atau pemberian pemahaman dan kesadaran dalam menghadapai bencana supaya kesiapsiagaan menghadapai bencana menjadi budaya di masyarkat kita menuju masyarakat yang aman dan tentram. Amin. [*]

*Penulis adalah dosen di Universitas Terbuka Purwokerto Pada Fakultas Pendidikan

 


 





Baca Juga