Sabtu, 31/03/2018 10:44 WIB | Dibaca: 208 kali

Prabowo Tuding Banyak Mark Up Proyek Infrastruktur di Indonesia


Prabowo Subianto. Foto: doc/jn

BANDUNG – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, menuding banyak pembangunan infrastruktur di Republik Indonesia (RI) banyak di-mark-up alias digelembungkan. Menurutnya hal itu bukan suatu rahasia lagi, melainkan sudah jadi pengetahuan umum di Indonesia, berdasarkan pengalaman sehari-hari.

Kendati tak membeberkan secara spesifik siapa kelompok tersebut dan proyek mana saja yang terindikasi ada mark-up, Prabowo  menyebut ada mega proyek jembatan yang ambruk sebelum jadi di Jakarta,

“Karena itu infrastruktur di Jakarta yang dibangun besar-besaran, belum dipakai sudah jatuh yang akhirnya terpaksa dihentikan daripada memakan korban lain,” ucap Prabowo saat berorasi di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (30/3/2018) di hadapan ratusan simpatisan Partai Gerindra. 

Dikatakan Prabowo, kecelakaan dalam pembangunan infrastruktur belakangan ini merupakan sebab dari uang rakyat yang dicuri dan hal itu merupakan bentuk korupsi karena selisih nilai proyek akibat penggelembungan itu lari ke tangan pemegang proyek.

“Itu namanya perampokan, mencuri dari rakyat,” tegasnya, sebagaimana pernyatataan tersebut dikatakannya dalam pidatonya saat menjadi juru kampanye bagi pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat Sudradjat-Syaikhu, di Bandung Barat, yang diunggah oleh akun Facebook Partai Gerindra, Jumat (30/03/2018).

Menyinggung soal pemimpin yang pintar menipu, dia menyatakan saat ini Indonesia butuh sosok yang baik dan jujur. Kata Prabowo, orang yang makin dekat ke Jakarta, potensi menipunya semakin menanjak.

“Yang jujur dan tulus itu ada di rakyat, semakin tinggi dan mendekat ke Jakarta makin jahat, pinter bohong dan pinter nipu,” ujar mantan Danjen Kopasus ini.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangannya kepada media, menyatakan ada empat proyek infrastruktur jalan layang (elevated) berskala besar yang disetop sementara. Hal itu menurutnya karena terjadi sejumlah kecelakaan dalam pengerjaan proyek.

Empat proyek tersebut adalah proyek kereta ringan (Light Rail Transit/LRT) Palembang, LRT Jabodebek, Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, dan jalur kereta api dwi ganda (Double-Double Track/DDT).

Sekadar mengingatkan, Pada 4 Februari 2018, terjadi insiden empat orang pekerja meninggal akibat ambruknya sebuah crane proyek pembangunan rel dwiganda di Jatinegara, Jakarta Timur. Kemudian, pada 5 Februari, terjadi longsoran tanah di underpass Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta)-Batuceper. Satu mobil dengan dua penumpang tertimbun dan satu korban tewas usai dievakuasi ke Rumah Sakit. 

Selain itu, pada 20 Februari, cetakan beton (pier head) tiang pancang Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jl. DI Panjaitan, Jakarta Timur, ambruk. Peristiwa itu mengakibatkan tujuh orang pekerja mengalami luka-luka. (kt7)

Redaktur: Faisal 

 


 





Baca Juga