Gandeng GWWG, Bioteknologi UKDW Mencari Solusi Pengelolaan Sumber Daya Air di Yogyakarta


Fakultas Bioteknologi UKDW menggelar workshop multistakeholder pengelola air di DIY. Foto: ist

YOGYAKARTA -  Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) bekerja sama dengan Groundwater Working Group (GWWG) dan Global Water Partnership Southeast Asia (GWP SEA) menyelenggarakan workshop multistakeholder pengelola air di DIY, Senin (02/04/2018). Workshop dengan tema “Sinergi dan Kolaborasi Aksi Konservasi untuk Keberlanjutan Sumberdaya Air” tersebut diselenggarakan di Fakultas Bioteknologi.

Ketua pelaksana Workshop, Djoko Rahardjo, menyampaikan kolaborasi multistakeholder pengelola air merupakan modal penting untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya air yang terintegrasi dan berkelanjutan,

“Semua pemangku kepentingan perlu menyusun agenda bersama untuk mempelajari dan mengidentifikasi permasalahan dan tantangan pengadaan air, mempelajari kandungan air tanah dan kondisinya serta membangun kolaborasi yang berdampak secara luas pada keamanan air dan komitmen terhadap masa depan air,” jelas Djoko yang juga dosen Fakultas Bioteknoligi UKDW.

Sementara Fany Wedahudiutama dari GWP Southeast Asia mengatakan  workshop bertujuan mencari solusi krisis air di DIY, merumuskan multi stakeholder platform perlindungan dan pengelolaan air terintegrasi dan berkelanjutan beserta kelembagaannya.

“Ketersediaan dan  kemudahan akses air bersih merupakan elemen penting dalam kehidupan. Namun sampai saat ini ketersediaan dan akses terhadap air bersih menjadi salah satu persoalan pelik yang kita hadapi,” ungkapnya dikutip dari pers release yang diterima redaksi, Selasa (03/04/2018).

Ia menambahkan, secara nasional pemerintah melalui PDAM di seluruh Indonesia belum mampu meningkatkan prosentase layanan air bersih secara signifikan. Hal itu, kata dia, karena beberapa faktor seperti minimnya ketersediaan air baku, rumitnya regulasi, kewenangan antara kabupaten/kota dan propinsi, serta antar sektor,

“Selain itu, banyaknya jumlah PDAM yang kondisinya tidak sehat dan lain-lain. Hal yang sama juga dialami oleh  Kota Yogyakarta, bahkan semenjak awal tahun 2000 sudah mengalami defisit air dan sampai saat ini masih belum ada gambaran solusi untuk mensiasati krisis air bersih tersebut,” imbuhnya.

Fany menilai proyek ambisius pengadaaan air bersih “Kartamantul” juga belum menampakan hasil mengatasi defisit air bersih.  Menurutnya, kondisi krisis dan defisit air yang berkepanjangan akan berdampak secara luas dalam berbagai aspek kehidupan, baik dibidang kesehatan, pertanian, industri, perekonomian dan kesehatan lingkungan.

“Peliknya permasalah air dengan berbagai faktor penyebab dan kendala yang ada, sangatlah tidak mungkin bila kita hanya bertumpu pada pemerintah untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan tersebut. Sampai saat ini koordinasi dan kerjasama antar stakeholder pengelolaan air masih sangat kurang,” papar Fany.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua GWWG, Heru Hendrayana mengatakan keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan Sumber Daya Air beberapa tahun belakangan ini patut diapresiasi,

“Kami mengimplementasikan MATA PERSADA (Matriks Penilaian Perlindungan Sumber Daya Air Tanah) sebagai piranti untuk mengukur dan mengevaluasi kinerja perusahaan dalam mengelola Sumber Daya Air yang digunakannya. Setiap tahun, jumlah perusahaan yang berpartisipasi makin meningkat, saya harap di Yogyakarta juga bisa di adopsi oleh lebih banyak pihak swasta kedepan,” kata Heru.

Untuk upaya tersebut, kata Heru, tidak bisa bergerak sendiri- sendiri. Menurutnya beberapa agenda prioritas yang perlu dilakukan yaitu membangun modal sosial untuk pengelolaan air bersih yang lebih baik,

“Mengembalikan air ke sistem alaminya, baik itu air permukaan maupun air tanah, mengarahkan pengelolaan air yang dilakukan oleh masyarakat dan swasta selaras dengan Rencana Aksi pengelolaan sumber daya air yang telah digariskan oleh pemerintah,” pungkas Dr. Heru Hendrayana, yang membawakan materi Peta Sumber Air Baku di DIY dan Strategi Konservasinya.

Kegiatan juga dihadiri Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) DI Yogyakarta, Ir. Bambang Sugiarto MT yang membahas Kelembagaan dan Pengelolaan Sumber Daya Air di DIY. (kt1)

Redaktur: Rudi F

 


 





Baca Juga