Talk Show Dalam Lustrum SMA N 1 Sleman Gelorakan Semangat Nasionalisme Pelajar


Talk show dalam rangkaian kegiatan lustrum XI SMAN 1 Sleman menghadirkan tiga tokoh DIY. Foto: Ja'faruddin. AS

YOGYAKARTA – Semangat dan jiwa nasionalisme pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri 1 (SMA N 1) Sleman digelorakan dalam talk show yang dihelat pada Jumat (08/03/2018) siang, di halaman SMA N 1 Sleman.

Dalam acara yang merupakan rangkaian kegiatan Lustrum XI dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 55 SMA N 1 Sleman tersebut, hadir tiga tokoh DIY sebagai naras umber. Ketiganya adalah Sugiyanto Harjo Semangun, SE, M.Si (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat DIY), Agung Supriyono, SH (Kepala Badan Kesbangpol Pemda DIY) dan Mas Bekel Supriyanto, SE (Pegiat Kebudayaan sekaligus abdi dalem kraton Yogyakarta).

Dalam kesempatan tersebut, Sugiyanto memberikan motivasi agar siswa SMA N 1 tidak melupakan sejarah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan hasil dari perjuangan para pahlawan,

“Saat ini harus diakui bahwa nasionalisme kita, terutama generasi muda, mulai luntur. Itu disebabkan karena salah satunya  kurang meneladani semangat nasionalisme yang diwariskan para pejuang kemerdekaan. Kita kadang lebih mengagumi pahlawan dari negara lain, padahal kita punya pahlawan yang tidak pernah lekang oleh waktu, yaitu Jenderal Soedirman. Sosok pahlawan seperti Jenderal Seoedirman itulah yang seharusnya kita contoh. Tidak ada yang meragukan nasionalisme Jenderal Soedirman,” kata Sugiyanto yang juga Alumni SMA N 1 Sleman angkatan 1987.

Selain krisis nasionalisme, Sugiyanto menilai Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang berdaya saing menjadi persoalan serius bangsa Indonesia. Oleh karenanya, Sugiyanto berharap agar civitas akademika SMA N 1 Sleman terus meningkatkan kemampuan individunya dengan lebih giat belajar dan berprestasi,

“Jangan mudah menyerah dalam memperjuangkan cita-cita. Pelajar dan seluruh civitas akademika SMA N 1 Sleman harus saling mendorong dan memajukan sekolah yang sama-sama kita cintai ini,” tandas peraih gelar Master dari Pascasarjana Multidisiplin Kajian Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia Jakarta ini.

Disela-sela pemaparannya Sugianto sempat mengisahkan perjalanan hidupnya semasa di SMA N 1 Sleman. Lepas SMP ia yang berasal dari dusun Pokoh, Banyurejo, Tempel, Sleman dan saat itu sudah Yatim Piatu, nekad mendaftar ke SMA N 1 Sleman,

“Saya pribadi berusaha untuk selalu tidak menyerah, sehingga saya mendaftar SMA N 1 Sleman, meski saudara menginginkan saya di SPG agar bisa langsung bekerja menjadi guru. Itu saya lakukan karena saya punya cita-cita ingin kuliah kalau tidak di UI atau ITB. Tidak ada saudara yang tahu saya sekolah di sini. Saya bahkan terpaksa tinggal nomaden di rumah teman-teman saya karena tidak mau bergantung kepada saudara,” ungkapnya Alumni Pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia LEMHANNAS  RI  / PPSA- XVII/2011, salah satu rekan  seangkatannya adalah Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian.

Lebih lanjut Sugiyanto mengemukakan, persoalan bangsa yang tidak kalah penting adalah Disiplin yang kurang dimiliki generasi muda. Kedisiplinan menurutnya adalah faktor keberhasilan seseorang. Tanpa kedisiplinan, kata dia, seseorang akan banyak kehilangan kesempatan untuk maju dan berkembang,

“Tiga hal, Nasionalisme, SDM berdaya saing dan Disiplin itulah yang harus selalu kita tumbuh kembangkan agar kita menjadi bangsa yang besar. Itulah yang oleh IKAL disadari,” imbuh pengusaha yang saat ini menempuh pendidikan Program S3 (Doctor)  Studi Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Dihadapan ratusan siswa dan guru SMA N 1 Sleman, Sugiyanto sempat membocorkan rahasia suksesnya, yang disebut K3J. Ia menjelaskan, K3J adalah singkatan dari Komunikasi, Koordinasi, Komitmen dan Jaringan. Seseorang menurutnya harus pandai berkomunikasi agar maksud dan tujuan diterima orang lain. Kemudian, seseorang jika ingin sukses juga harus bisa berkoordinasi dengan pihak lain untuk menjalin kerjasama guna mencapai tujuan. Sedangkan ‘k’ yang ketiga menurutnya adalah Komitmen,

“Kita harus memiliki dan menjaga komitmen dengan siapa saja yang bekerjasama dengan kita agar tetap dipercaya. Dan ‘J’ adalah Jaringan. Kita tidak bisa hidup sendiri, oleh karenanya kita perlu jaringan agar memudahkan kita dalam mencapai suatu tujuan. K3J ini bisa dikatakan teori saya sendiri, tidak ada di buku-buku, tapi mudah-mudahan dengan mempraktikan K3 J, siswa SMA N 1 Sleman bisa lebih pandai dan berprestasi dan kelak menjadi orang-orang sukses, menjadi pemimpin masa depan untuk membawa Indonesia lebih maju,” pungkasnya.

Sementara itu dalam uraiannya Agung menekankan pentingnya generasi muda saat ini untuk memupuk rasa cinta dan bangga kepada bangsa dan negara serta daerah DIY. Selain itu, kata agung, pelajar yang merupakan generasi penerus kepemimpinan bangsa tidak terjerumus kepada paham-paham radikalisme yang bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia serta menjauhi hal-hal yang merusak moral dan mentalitas seperti Narkoba,

“Saat ini Indonesia mengalami darurat Narkoba. Ada 30 orang yang mati setiap harinya karena narkoba. Tentu saja ini sangat berbahaya, maka jauhilah Narkoba,” tukasnya.

Sementara Mas Bekel Supriyanto dalam kesempatan yang sama menjelaskan tentang sejarah Yogyakarta dan perannya dalam perjalanan Bangsa Indonesia. Supri menjelaskan, DIY sejak dahulu sudah merdeka dan memiliki kedaulatan sebagai negara. Namun, semasa kepemimpinan Sri Sultan HB IX, DIY menyatakan bergabung dengan NKRI, agar negara yang baru merdeka lebih kuat. Bahkan, imbuh Supri, Sri Sultan HB IX menyumbangkan kekayaan uang sebesar 6.000.000 gulden waktu itu untuk membiayai pemerintahan RI,

“Selain itu, ada peristiwa penting  yang tercacat dalam sejarah, dimana ketika penjajah belanda menguasai Yogyakarta dan mengumumkan ke dunia bahwa Indonesia dan TNi tidak ada, atas inisiasi ngarso dalem Sri Sultan HB IX  melakukan perlawanan yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan itu berhasil menguasai kembali Yogyakarta dalam waktu enam jam dan menunjukkan kepada dunia bahwa NKRI dan TNI masih ada,” bebernya.

“Maka tidak salah jika kemudian seorang professor pakar sejarah dari UGM mengungkapkan jika tidak ada Yogyakarta maka tidak ada NKRI,” pungkasnya.   

Selain oleh seluruh siswa SMA N 1 Sleman, talkshow juga diikuti oleh Kepala Sekolah SMA N 1 Sleman, Dra. Hermintarsih, M.Pd, dan segenap jajaran guru serta staff sekolah SMA N 1 Sleman.

Diinformasikan Hermintarsih, Lustrum XI dan HUT ke 55 digelar selama 5 hari sejak 1 Agustus yang merupakan hari jadi SMA N 1 Sleman. Berbagai kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan hingga Minggu (05/08/2018) mendatang, dari upacara, lomba-lomba, pentas seni, bakti sosial hingga pagelaran wayang kulit. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 


 





Baca Juga