Selasa, 28/08/2018 23:05 WIB | Dibaca: 146 kali

Guru Milenial dan Karya Ilmiah


Teguh Wiyono.Foto:doc/pri

Oleh: Teguh Wiyono, M.Pd.I

Guru sebagai tenaga pendidik profesional memiliki kualifikasi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi. Dengan kualifikasi tersebut akan berdampak terhadap kualitas pembelajaran sebagai barometer tercapainya  tujuan pendidikan nasional, yaitu: mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Namun kenyataannya, tujuan pendidikan nasional belum tercapai sebagaimana yang diharapkan. Hal ini terilihat dari permasalahan yang terjadi pada dunia pendidikan baik pada gerenerasi muda yang mengalami krisis moral, kekerasan di lembaga pendidikan dan lemahnya tanggung jawab pada diri siswa untuk selalu belajar hal tersebut terlihat dari nilai ujian nasional tahun pelajaran 2017/2018 baik ditingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami penurunan nilai.

Fenomenana di atas  semestinya menjadi kajian guru selaku pendidik profesional, apalagi era milenial seperti ini, sosok seorang guru yang cerdas dalam ilmu pengetahuan tekhnologi dan kompeten dalam bidangnya sangat dibutuhkan. Karena era milenial menuntut seorang guru harus cakap dalam inovasi pengetahuan dan tekhnologi, jika guru kurang kompeten maka tunggulah kehancuran dari martabat seorang guru yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial,  dan spiritual yang secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru. Hal ini mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi, dan profesionalitas.

Memenuhi Standart Kompetensi

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Kompetensi Profesional guru merupakan kemampuan yang dimiliki oleh guru tentang penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, hal tersebut merupakan salah satu hal yang memungkin guru mampu membimbing peserta didik untuk memenuhi standart kompetensi dan standart nasional pendidikan, meliputi; Pertama, Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang dimampu. Kedua, Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran atau bidang pengembangan yang dimampu. Ketiga, Mengembangkan materi pembelajaran secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektik. Keempat, Memanfatakan Teknologi Informasi Komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Guru cerdas di era milenial bukan sekedar pintar mengelola kelas tetapi mampu mengemukakan segala pikiran dan panca indranya yang tertuang dalam karya tulis ilmiah dan terpublikasi sehingga dapat diketahui oleh masyarakat dan pemanggku kebijakan dalam dunia pendidikan. Di samping itu, publikasi ilmiah merupakan salah satu  wadah untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan menginformasikan berbagai masalah di dunia pendidikan, baik prestasi, probelamtika anak, bimbingan konseling, informasi pendidikan lanjutan dan lain sebagainya yang memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Namun kemampuan guru dalam berkomunikasi sebagai bagian dari masyarakat masih rendah. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya guru yang mampu menulis karya ilmiah. Adanya gonjang-ganjing masalah pendidikan seyogyanya diangkat oleh guru yang terlibat langsung di lapangan, tetapi kenyataanya, guru belum mampu mengekspos permasalahan. Berita yang sudah tersebarluas oleh para pemangku pendidikan sepertihanya guru hanya memberi sebatas komentar kosong, dan belum memberikan komentar yang bersifat ilmiah, hal tersebut tentunya sangat miris.

Menulis karya ilmiah yang terpublikasi sebagai kebutuhan yang sangat esensial bagi guru di era  sekarang/era milenial yang memudahkan setiap orang mudah dalam mengakses informasi dengan tekhnolgi. Guru tidak dapat mengelak dari tuntutan era milenial ini terkait dengan profesionalnya. Dengan menulis, guru memiliki wawasan tentang pendidikan dan dapat mengupas masalah-masalah dalam pembelajaran. Menulis membawa seseorang mengenali potensi diri, memperluas cakrawala, mendorong seseorang belajar aktif, dan membiasakan seseorang berfikir dan berbahasa secara tertib. Dengan kegiatan menulis, seseorang dapat merekam, memberitahukan, meyakinkan, dan mempengaruhi orang lain.

Selain itu dengan menulis merupakan suatu ciri orang terpelajar atau bangsa terpelajar. Kegiatan membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan. Salah satu syarat utama untuk membangun kompetensi menulis karya tulis ilmiah adalah kebiasaan dan kemampuan membaca yang baik.

Kreativitas Guru

Untuk mengatasi persoalan tersebut, karya tulis ilmiah bisa dimulai  dari proses mengamati dari karya tulis orang lain. Setelah itu, ditiru untuk dimodifikasi dengan memasukkan gagasan-gagasan sendiri sehingga menghasilkan karya tulis baru yang menarik dan berkualitas. Kemudian karya tulis ilmiah yang bisa dikerjakan oleh guru antara lain: Pertama, Penelitian Kuantitatif Uji Hipotesis, pada penelitian ini menyajikan Data Kuantitatif (Data Angka) seperti pada Skripsi maupun Thesis pada umumnya. kedua,  Penelitian Tindakan Kelas (PTK), pada penelitian ini memiliki ciri utama adanya Indikator Keberhasilan dan Desain Penelitian berjenjang dari kegiatan pengamatan awal identifikasi masalah, kegiatan Siklus 1 dan seterusnya hingga Indikator Keberhasilan tercapai atau terlampaui. Ketiga, Penelitian Pengembangan Model, ciri utama memiliki Desain Pengembangan Model dilampiri Contoh Pengembangan Instrumen. Keempat,  Penelitian Kualitatif, memiliki karakteristik adanya Kriteria Keabsahan Data (Deskriptif Kualitatif). kelima,  Best Practices, pada Bab Pembahasan memuat analisis permasalahan berdasarkan kajian pustaka dan didukung oleh data empiris di satuan pendidikan.

Selin itu bisa juga menulis Karya ilmiah bagi guru berawal dari sebuah proses yang bertahap sebagai berikut. Pertama, Mencari ide. Ide merupakan sesuatu yang melintas pada pikiran, baik berupa kata atau kalimat, setelah melaui proses membaca, menyimak, melihat, mengalami, dan merenungkan sesuatu. Ide yang akan ditulis harus aktual, relevan, dan terjangkau. Setelah itu, baru muncul gagasan berupa pernyataan, sikap, dan tindakan. Kedua, menentukan topik. Topik merupakan permasalahan yang akan dibahas. Topik untuk sebuah artikel yang baik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan penulis, menarik, sesuai dengan pengetahuan pembaca, actual, fenomenal, kontroversial, dibatasi dan harus ditinjau dari referensi yang tersedia. Ketiga,  menetapkan judul. Judul merupakan identitas karangan. Judul harus singkat, padat, relevan dengan masalah yang dibahas. Judul berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat tanya.

Denga begitu derajat profesionalitas guru akan tetap terjaga dan tercermin dari kompetensi kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu dengan berkembangannya modrenitas atau sekarang dikenal dengan era milenial dapat dikendalikan dengan baik, bukan sosok guru yang termakan dan tergilas oleh perkembangan jaman.

Kami berharap kepada para guru, sosok pemilik atau Empu-nya pendidikan harus selangkah lebih tahu dan selangkah lebih bisa menyelesaikan permasalahn yang terjadi dalam dunia pendidikan dengan menuangkan segala pikiran dan perasaanya melalui karya ilmiah sebagai wadah yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai orang terdidik dan sebagai penentu maju mundurnya suatu bangsa. (*)

*Penulis adalah Dosen di Universitas Terbuka Purwokerto Pada Fakultas Pendidikan

 


 





Baca Juga