Promosi Budaya Suran Ki Ageng Singokerti, Pemuda Koang Gelar Lomba Mewarnai Anak-Anak


Anak-anak nampak ceria mengikuti lomba mewarnai panitia Suran Ki Ageng Singokerti di Dukuh Kowang Grumbul Gede, Selomartani, Kalasan.Foto: Ja'faruddin. AS

SLEMAN – Promosikan event budaya Suran Ki Ageng Singokerten, pemuda Dukuh Kowang Grumbul Gede, Selomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar lomba mewarnai untuk anak-anak di halaman Masjid bersejarah, Abdul Latif, Minggu (09/09/2018) pagi.

Ketua Panitia Lomba Mewarnai Suran Ki Ageng Singokerti,  Krisna Kurniawan mengatakan lomba diikuti oleh oleh 160 anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) dan siswa kelas 1 hingga 4 Sekolah Dasar (SD). Menurutnya peserta berasal dari perwakilan 30 TK di wilayah Kecamatan Kalasan, Ngemplak dan sekitarnya, 

“Kegiatan lomba mewarnai anak-anak ini tujuannya adalah untuk edukasi dan promosi gelar budaya di pedukuhan kami. Kenapa sasarannya anak-anak, karena untuk regenerasi. Mereka adalah generasi penerus, sehingga harus ditanamkan sikap nguri-nguri (merwat, red) budaya, terlebih mereka dalam masa golden age (usia emas, red),” ungkapnya di sela-sela acara. 

Krisna yang sekaligus ketua dewan juri menambahkan, lomba mewarnai yang berlangsung sejak Pukul 7.30-10.00 WIB memperebutkan piala dari panitia dari tiga kategori, TK A, TK B, dan SD. Selain itu, kata dia, peserta yang tidak menjadi juara juga akan diberi penghargaan berupa sertifikat,

“Ini tepatnya bukan lomba, tapi ajang kreatifitas, sarana refreshing anak untuk mengenalkan budaya dengan event yang menyenangkan. Hasil karya anak-anak semuanya juga bernilai baik, minimal  6 dan maksimal 9, karena tidak ada karya yang sempurna,” ujar guru lukis di banyak sekolah TK di Wilayah Kecamatan Kalasan ini.

“Kami berharap dengan kegiatan ini, potensi wisata di desa kami  bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat,” tukas Krisna yang Lulusan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Sementara itu, Ketua Panitia gelar budaya Suran Ki Ageng Singokerti, Nawang Koso mengungkapkan, Suran merupakan peringatan tanggal 1 bulan Syuro dalam kalender jawa yang dalam kalender Islam bertepatan dengan 1 Hijriyah merupakan event tahunan di kampungnya. Sebagaimana tradisi yang sudah berlangsung sejak 2008, kata dia, dalam rangkaian peringatan Suran Ki Ageng Singokerti akan dihelat beberapa kegiatan, antara lain Khataman Qur’an, Mujahadah, Pengajian Akbar serta pentas kesenian tradisional Badui dan Jathilan hingga orkes dangdut.

“Tapi acara utamanya adalah kirab gunungan, lusa mendatang,” katanya.

Dijelaskan Nawang, Gunungan yang berisi aneka hasil bumi dan dibawa oleh bregodo akan diarak dari Balai Desa Selomartani menuju ke Masjid Abdul Latif yang konon merupakan masjid tertua di Kecamatan Kalasan, dibangun lebih dari 300 tahun yang lalu. Sesampainya di Masjid Abdul Latif yang terletak di Rt 5 Rw 2 dusun setempat, gunungan didoakan lalu diperebutkan warga,

“Prosesi kemudian dilanjutkan ziarah ke situs makam Ki Ageng Singokerti. Gelar budaya ini akan diikuti seluruh warga desa Selomartani,” imbuh Nawang.  

Nawang mengisahkan, makam Ki Ageng  Singokerti merupakan kompleks pemakaman mBah Khasan Muslim, orang tua dari Abdul Latif yang membangun masjid Abdul Latif.  mBah Khasan Muslim, kata dia, adalah ulama pencipta kitab kuning ‘Iman Sudjono’ yang ditulis ratusan tahun silam.

Menurut Nawang, kitab kuning atau  bertuliskan huruf arab tanpa harokat (Arab Gundul, red) berbahasa Jawa tersebut menceritakan tentang sejarah Persia lengkap dengan Raja sekaligus sejarah perangnya hingga pengaruhnya ke Nusantara,

“Sayangnya keberadaan kitab itu sudah tidak utuh lagi, padahal itu kekayaan budaya sekaligus sejarah di kampung kami yang masih belum banyak digali. Oleh karena itu, kami berharap kerjasama dan bantuan semua pihak untuk membantu mengembangkan potensi wisata budaya di desa kami agar menarik wisatawan dan memajukan kehidupan warga di sini,” harapnya. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga