Antisipasi Diklaim Bangsa Asing, Dinas Kebudayaan Gandeng Kodim Yogyakarta Gelar Workshop Jemparingan


Workshop Jemparingan Mataraman di Aula Makodim 0734/Yogyakarta, Jumat (26/10/2018) pagi. Foto: ist

YOGYAKARTA – Jemparingan atau seni panahan tradisional khas Yogyakarta menjadi asset budaya yang rawan diklaim bangsa Asing, seperti banyak warisan budaya lainnya. Sebagai upaya menjaga sekaligus melestarikan jemparingan, Dinas Kebudayaan Pemerintah Kota (Disbud-Pemkot) Yogyakarta menggandeng Kodim 0734/Yogyakarta menggelar workshop Jemparingan Mataraman di Aula Makodim 0734/Yogyakarta, Jumat (26/10/2018) pagi.

Kepala Staf Kodim 0734/Yogyakarta, Mayor Inf M.Munasik menuturkan, tujuan utama digelarnya workshop adalah untuk turut nguri-uri (melestarikan) budaya, khususnya Jemparingan,

“Menjaga kebudayaan bangsa adalah tugas seluruh elemen bangsa, termasuk TNI. Jangan sampai Jemparingan ini nantinya diklaim bangsa Asing,” tuturnya yang sekaligus menjadi pembicara dalam workshop.

Dijelaskan munasik, workshop dengan peserta Babinsa Kodim 0734/Yogyakarta dan pegiat Jemparingan ini juga merupakan rangkaian lomba Jemparingan yang akan diadakan di Lapangan Panahan, jalan kenari Yogyakarta bekerjasama dengan Disbud Pemkot Yogyakarta, pada Minggu (28/10/2018) mendatang. Lomba Jemparingan, kata dia, digelar untuk memperingati  HUT TNI ke 73, HUT Kodam IV/Diponegoro ke 68 dan HUT Kota Yogyakarta ke 262,

“Tema yang kita angkat Bersatunya TNI dan Rakyat Dalam Gelar Wadah Sosial Seni Budaya Dari Jogja Menuju NKRI, dengan harapan TNI dan Rakyat agar lebih mencintai kebudayaan Indonesia yang kita punya,” imbuh Mayor Munasik.

Sementara itu, Kasi Adat Seni dan Tradisi Sejarah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Tri Setya Admi mengatakan, Pemkot Yogyakarta, melalui Disbud berkomitmen menjaga dan melestarikan Jemparingan yang merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB),

“Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kubudayaan akan berupaya agar Jemparingan lebih diminati masyarakat dengan menggandeng semua pihak dan dengan menyelenggarakan event atau lomba-lomba Jemparingan,” ujarnya dihadapan peserta yang berjumlah sekira 50 orang.   

Selain Mayor Munasik,  workshop Jemparingan Mataraman menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu Pengajeng Paguyuban Jemparingan Mataraman Gandhewa Mataram Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT H. Jatiningrat, SH dan analis media massa  Ja’faruddin AS.

Dalam pemaparannya, Jatiningrat atau yang akrab disapa Romo Tirun  menjelaskan dari sejarah hingga detail alat hingga tata cara Jemparingan yang berbeda dengan panahan modern. Menurutnya filosofi Jemparingan Gagrak Mataraman adalah ‘pamenthanging gandhewa, pamanthenging cipto”. Artinya, Kata Romo Tirun,  ketika menthang gandewa (busur) yang dipakai untuk membidik adalah hati,

“Membidiknya tidak dengan mata. Jadi, busur di letakkan di depan dada, bukan di depan kepala dan posisi vertikal atau mendatar. Mata hanya untuk ‘menerke dan mengarahkan, sedangkan membidiknya dengan rasa- atau hati. Bisa dikatakan untuk mencapai sasaran berupa bandul  dengan kira-kira. Ini dimaksudkan untuk melatih konsentrasi,” jelasnya.

Tepas Doropuro (Humas) Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat ini mengungkapkan, Filosofi jemparingan, merupakan ajaran dari Sri Sultan HB I, yaitu nyawiji atau meyatukan jiwa sebagai tanda komitmen dari sosok Ksatria.

“Ngarso Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono I, kala itu berharap agar para abdi dalem, sederek, keluarga, dan rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat dapat menjadi Satriya yang memiliki sifat sawiji atau konsentrasi, greget atau semangat, sengguh atau jatidiri, dan ora mingkuh atau bertanggung jawab,” imbuhnya. 

Sementara Ja'farudin yang juga Pimpinan Redaksi jogjakartanews.com mengatakan bahwa media dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena sejatinya media juga merupakan produk budaya,

“Karena media massa, budaya dapat tumbuh dan berkembang, namun karena media massa juga, budaya dapat mati terlindas eksistensi budaya lain. Oleh karenanya perlunya pelaku dan penggiat kebudayaan menjalin relasi dan bersinergi dengan insan pers,” tukasnya. (rd)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

 

 


 





Baca Juga