Perjelas Antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan, AMJ Gelar Sarasehan Kebudayaan


Aliansi Mahasiswa Jogja mengadakan Serasehan Kebudayaan di Wisma KAGAMA UGM, Yogyakarta . Foto: Ris

YOGYAKARTA - Aliansi Mahasiswa Jogja (AMJ) mengadakan Serasehan Kebudayaan di Wisma KAGAMA UGM, Yogyakarta Jumat  (07/11/2018). Seminar diikuti sekira 200 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Ketua AMJ, Waris mengatakan, Seminar Sarasehan Kebudayaan dengan tema "Menimbang antara Kearifan Lokal dan Kemusyrikan"menghadirkan para tokoh DIY yaitu,  KH. Abdul Muhaimin dan Gus Irwan Masduki. Menurutnya, panitia juga mengundang GKR Mangkubumi dan Dr. Fathorrahman. S. Ag., M. Si, sebagai pembicara, namun berhalangan hadir.

Dijelaskan Waris, seminar diselenggarakan guna lebih menguatkan mahasiswa dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun dari berbagai macam suku, budaya, agama, dan bahasa,

 “Ini sebagai tugas kita bersama selaku generasi penerus bangsa. Semangat persatuan, kebinekaan, dan tak luput pula semangat kebudayaan, adalah modal terlaksananya kegiatan utama dalam mempertahankan kedaulatan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, kata waris, seminar juga bertujuan untuk merenungkan kembali, merawat kebudayaan yang sudah mulai terkikis dengan semakin berkembangnya zaman.Waris berharap, dengan kegiatan ini, mampu memberikan kesadaran bersama bahwa budaya dan kearifan lokal masyarakat daerah wajib dilestarikan, karena hal tersebut berkaitan erat dengan identitas kebangsaan kita,

“Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya nenek moyangnya,” ujar Waris.

Dalam pemaparannya, K.H Abdul Muhaimin menyoroti kejadian akhir-akhir ini, dimana seringkali terjadi pembubaran suatu ritual tradisi lokal masyarakat oleh orang-orang yang menganggap bahwa tradisi lokal adalah salah satu kemusyrikan dalam Islam. Misalnya, kata dia, pembubaran ritual sedekah laut yang diselenggarakan oleh masyarakat pesisir Pantai Baru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY pada 13 Oktober 2018 lalu,

“Aksi pembubaran tersebut adalah motif yang dibangun oleh sekelompok orang yang menganggap bahwa ritual sedekah laut adalah bentuk menduakan Tuhan atau kemusyrikan. Aksi yang dilakukan oleh kelompok orang ini adalah bentuk penggerusan tradisi lokal masyarakat, sedangkan semua orang sudah tahu bahwa Indonesia berdiri gagah hingga saat ini karena dibangun di atas perbedaan suku, budaya, tradisi, bahasa, dan agama,” tuturnya.

Muhaimin mengimbau, sudah sepatutnya mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa melestarikan tradisi lokal atau kearifan lokal masyarakat sebagai upaya untuk menjaga identitas dan pertahanan NKRI.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Gus Irwan Masduki  mengungkapkan upaya bela negara dan pertahanan keamanan negara ditujukan untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara,

“Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam maupun luar negeri yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa,” katanya. (kt1)

Redaktur: Faisal


 





Baca Juga