Rabu, 03/12/2014 21:44 WIB | Dibaca: 2110 kali

IHSG Naik Tapi Rakyat Menderita Karena Harga BBM Naik, Buat Apa?


ilustrasi/jogjakartanews.com

Oleh: Samuel. T*

BANYAK kalangan pengamat memprediksi harga minyak dunia bakal terus mengalami penurunan hingga beberapa bulan ke depan. Hal ini membuktikan bahwa alasan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) semakin tidak rasional. Sebab, sebelum kenaikan harga BBM, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyatakan bahwa harga minyak dunia akan segera naik lagi.

Alasan menaikkan harga BBM salah satunya karena berhubungan dengan fiskal, dimana meskipun harga minyak dunia turun namun nilai tukar rupiah tinggi yang diutarakan Wapres, juga semakin menimbulkan tanda Tanya. Sebab, hingga saat ini kurs rupiah terhadap dolar AS masih bertahan di kisaran Rp 12.000,- per $ 1 USD.

Kendati banyak pakar-pakar ekonomi pro pemerintah mengatakan Inflasi Karena kenaikan harga BBM dinilai mengecil karena Indeks Harga Saham Ggabungan (IHSG) menguat, namun hal itu tidak berimbas langsung terhadap masyarakat kecil yang kini menjerit karena akibat kenaikan harga BBM harga-harga kebutuhan pokok melejit. Diantaranya harga gas melon (Lpg 3Kg) yang banyak dikeluhkan karena harganya selangit dan pasokan tersendat di beberapa daerah.

Seperti banyak diberitakan media massa, hari ini, Rabu (03/12/2014) IHSG kembali menguat 5,3 poin atau 0,1 persen ke 5.181 pon pada perdagangan. Sementara itu, Indeks LQ45 bergerak stagnan di 893,50 poin.

Namun dengan IHSG menguat tersebut siapakah yang lebih diuntungkan? Kenapa IHSG naik tapi nilai tukar rupiah masih terdepresi?  Apa korelasinya IHSG yang merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia, terhadap peningkatan ekonomi rakyat kecil, yang akibat kenaikan harga BBM semakin terjepit?

Menguatnya IHSG memang berimbas positif bagi iklim investasi di Indonesia. Bahkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPN) melaporkan bahwa realisasi investasi sepanjang semester III 2014 menacatat titik tertinggi sepanjang sejarah Indonesia yaitu Rp119,9 triliun. Hal ini merupakan indikator meningkatnya kepercayaan para investor asing terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.

Jika diperhatikan, pada awal pemerintahan baru Jokowi-JK memang IHSG terus menguat. Memang sempat terjadi sedikit penurunan ketika adanya kisruh di DPR antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH).  Investor asing masih ‘ragu-ragu’ lagi untuk berinvestasi atau menimpan uangnya di Indonesia.

Wal hasil, para elit politik yang juga kebanyakan pengusaha, baik di KMP maupun di KIH, dibuat was-was. Sebab, usaha mereka juga akan terpengaruh jika kepercayaan investor asing yang bermodal besar menurun.  Para politisi yang nampaknya menyadari hal tersebut akhirnya mau- tidak mau rujuk kembali. Dualisme DPR berakhir, dan IHSG kembali menguat 5 point.

Dengan demikian, kiranya masyarakat awam pun akan memahami jika soal IHSG yang hanya dipahami dan menguntungkan pengusaha, elit ekonomi, dan pemodal besar, terutama pemodal asing. Soal IHSG sangat erat kaitannya dengan dunia perpolitikan yang sarat  gaya ‘dagang sapi’ (Transaksional).  

Jika ada yang beranggapan restu asing sangat menentukan siapa yang akan mengendalikan Negara ini, salahkah?  Siapapun yang mau bersahabat dan berkompromi dengan Asing, maka akan didukung dalam setiap suksesi pemerintahan, kiranya bukanlah sekadar asumsi. Itu terbukti dengan terpilihnya presiden Jokowi yang melalui forum-forum internasional sangat aktif untuk mendatangkan investor asing yang akan menangani proyek-proyek pembangunan yang menjadi program kerjanya.

Jadi, benarkah argumentasi yang dilontarkan para ekonom pro pemerintah yang menaikkan harga BBM itu? Benarkah kenaikan harga BBM akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil? Apakah anda lebih mementingkan penguatan IHSG yang hanya meningkatkan kelas atas, atau menginginkan subsidi BBM dikembalikan kepada rakyat alias harga BBM turun, agar mampu meningkatkan taraf ekonomi kelas bawah?   Berpikirlah secara jernih sebelum menjawab. God Bless You.

*Penulis Adalah Wirausahawan, Tinggal di Yogyakarta.

 


 





Baca Juga