Selasa, 10/11/2015 21:05 WIB | Dibaca: 1741 kali

Lafran Pane: Keteladanan Seorang Pahlawan


Ekamara A. Putra. Foto: doc/pribadi

Oleh:  Ekamara A. Putra

LAFRAN PANE, seorang putra asli Tapanuli kelahiran 12 April 1923. Mungkin, namanya tidak cukup familiar dan terdengar asing bagi masyarakat umum di Indonesia. Itu, karena keteladanan pertama yang dapat dipetik darinya. Tidak ingin ditokohkan apalagi dikultuskan, laiknya para pahlawan hanya merasa puas dan bangga ketika apa yang dipikirkan, dilakukan dan diperjuangkannya memiliki manfaat dan dampak positif bagi masyarakat luas. Bahkan, hanya untuk dituliskan riwayatnya semasih hidup, Lafran Pane menolak. Padahal, sosoknya merupakan pemrakarsa atau pendiri utama dari sebuah organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Didirikan pada tanggal 5 Februari 1947, HMI telah mengalami dan melewati hampir seluruh memori sejarah bangsa ini. Organisasi ini telah membuktikan diri sebagai organisasi milik umat dan bangsa, selalu mengambil peran-peran strategis lagi kontributif dalam proses pembangunan bangsa. Tanggal 5 Februari, sesungguhnya merupakan tanggal asli kelahiran dari sang pemrakarsa pendiri HMI, Lafran Pane. Namun, keteladanan kedua yang dapat diambil dari Lafran Pane. Ia justru mengganti tanggal kelahirannya menjadi 12 April. Tak ingin tanggal kelahiran HMI disangka oleh orang memang sengaja disamakan dengan tanggal kelahiran dirinya.

Perdebatan paradigma yang bersifat ideologis, antara kaum nasionalis dan islamis di Indonesia telah terjadi sejak lama di antara para pendiri bangsa. Gunung es dari pertarungan itu muncul ketika masa demokrasi liberal di tahun 1950-1959. Puncaknya, Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit yang mengembalikan konstitusi negara ke UUD 1945 pada 5 Juli 1959. Sebagai intelektual muslim Indonesia, Lafran Pane membuahkan sebuah pemikiran penting yang patut diteladani. Dirinya, mempertautkan paradigma nasionalis (keindonesiaan) dengan paradigma islami (keislaman) dengan sangat baik. Kedua paradigma besar ini dipertemankan olehnya, justru tidak untuk saling dipertentangkan.

Dari keunggulan pemikiran ini, tidak salah jika Yudi Latif menempatkan Lafran Pane sebagai generasi ketiga dalam tataran intelegensia muslim Indonesia. Pemikiran Guru Besar Ilmu Tata Negara ini, kemudian setidaknya terlembagakan melalalui organisasi HMI yang diprakarsainya. Keberlanjutan pemikiran memadukan keislaman dengan keindonesiaan, dilakukan oleh banyak “muridnya”, seperti Nurcholish Madjid, Deliar Noer, Dawam Rahardjo, Syafii Maarif, Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat.

Kesahajaan dan kesederhanaan tampaknya sudah melekat pada diri Lafran Pane. Kisah bahwa ia setiap hari mengayuh sepeda dari rumahnya untuk pergi mengajar para mahasiswanya di IKIP Yogyakarta menjadi contohnya. Kesederhanaan ini juga sungguh harus diteladani. Bahkan sampai saat menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), dirinya lebih senang menginap di hotel tidak berbintang jika menghadiri rapat atau acara di Jakarta. Masih banyak kisah yang menceritakan kerendahan hati beliau, semisal dengan tidak marah saat menghadiri acara-acara HMI, ketika banyak dari kader HMI justru tidak mengenalinya.

Tentu, masih banyak pemikiran, perilaku, sikap dan tindakan dari Lafran Pane yang patut kita teladani bersama. Sekalipun, sebagai seorang manusia Lafran Pane juga tidak lepas dari kekeliruan dan kekhilafan. Namun, keteladanan yang ditunjukkan semasa hidupnya merupakan keteladanan hidup dari sosok seorang pahlawan sejati. Kita kekeringan sosok yang tulus mengabdi sepertinya, di tengah banjir pemimpin terutama politisi pengemis pujian, ahli pencitraan serta mengultuskan dirinya sendiri. Kita rindu pemimpin yang tidak mementingkan dirinya sendiri, di tengahributnya angin pembawa pemimpin yang hanya mementingkan dirinya, kelompoknya, partainya, parlemennya, istananya dan kepunyaannya yang lain.

Kita haus akan intelektual-intelektual yang menyegarkan, di tengah derasnya kemunculan intelektual abal-abal jebolan perguruan tinggi bodong, intelektual buruh penguasa dan pengusaha. Kita mendamba tokoh-tokoh pendamai, di tengah tajamnya mulut para pengadu domba atas nama agama dan suku yang melahirkan serta memperuncing konflik di tengah masyarakat. Kita mengharapkan kesederhanaan dan kebersajahaan dalam berkehidupan, di tengah kenyataan angkuh nan pongahnya hidup para elit kita, selalu bergelimang harta yang mungkin lebih banyak hasil maling uang rakyat. Kita butuh banyak keteladanan dan bercontoh hidup dari para pahlawan kita, seperti Lafran Pane.

Selamat Hari Pahlawan! (*)

*Penulis adalah Ketua Bidang Penelitian, Pengembangan Wacana dan Kepustakaan HMI Cabang Bulaksumur Sleman

 


 





Baca Juga