Mengikis Hoax dengan LK I: Peranan Organisasi dalam Pemberantasan Hoax


Alwi Husein Al Habib. Foto:doc

Oleh: Alwi Husein Al-Habib*

Tsunami informasi, akibat revolusi mediasosial hasil kemajuan tehnologi komunikasimembuat siapapun bisa memproduksi ataumengakses informasi secara mudah danmurah.Mahasiswa dalam perilaku sehari-hari kurang kritis ketika menerima atau mengakses informasi sehingga memungkinkan ikut terpapar hoax. Bahkan secara tidak sengaja ikut memviralkan di media sosial.Hal tersebut memungkinkan terjadinya pemerkosaan atas keaslian sebuah berita. Maka diperlukan suatu formula khusus pembentukan manusia-manusia canggih dalam meningkatkan pengetahuannya tentangproses pemberitaan, wawasan umum dandaya kritisnya sehingga mampumemperbaiki tingkat literasi media digitalsekaligus dapat menangkal hoax.

Mahasiswa merupakan golongan intelektual yang berperan sebagai agent of social control (agen pengontrol sosial),dengan demikian bagaimana sikapmahasiswa terhadap berbagai persoalan yang terjadi perlu dicermati. Sikap mahasiswa terhadap hoax yangviral di media sosial penting untukdikukuhkan, apalagi dikalangan para aktivismahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang cenderung kritis jikadibandingkan dengan mahasiswa nonaktivis.

Banyak sekali seminar-seminar atau diskusi-diskusi tentang pemberantasan hoax dalam ranah mahasiswa. Namun tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Dikarenakan yang dikontruksi hanya pemikiran tentang negatifnyahoax. Tidak didoktrin dengan serius sehingga menjadi sebuah gerakan pemikiran.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswaseharusnya mampu memahami,menganalisis, menilai, dan mengkritisiinformasi yang diberitakan di media. Sayangnya, malah banyakmahasiswa yang ikut terhegemoni. Maka dari itu, HMI memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan sikap kritis kadernya. Bahkan sejak masuk dalam ruang lingkup organisasi HMI melalui LK I (latihan kader I/basic training).

LatihanKader I yang dimaksudkan adalah sebuah training intelektual sebagai upayapembentukan sikap seorang kader yang didalamnya terdapat proses indoktrinasi sertainternalisasi nilai-nilai untuk tujuan utamamembentuk karakter Kader (Afeksi), guna menciptakan kader yang kritis, berwawasan luas, dan mempunyai rasa tanggung jawab akan terbentuknya masyarakat yang adil makmur yakni terbebas dari isu hoax.

LK Iadalah gerbang menjadi kader HMI. Training ini dilakukan untuk memberikanpemahaman kepada seorang kader dalammenganalisis permasalahan-permasalah sosial seperti hoax serta memberikan solusi dalam upayapenyelesaian kasus-kasus sosial.

Jika di tinjau dari tujuan HMI, “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah Swt”, HMI benar-benar menjaga nilai-nilai keislaman dalam berkehidupan. Sehingga apapun yang dilakukan, selalu berpedoman pada Al-Quran dan As-Sunnah.

Dalam ajaran Islam, kita tidak boleh menerima begitu saja berita yang sampai. Apalagi berkonotasi negatif atau samar. Perlu ada yang namanya tabayyun(Al-Hujurat/49:6). Proses tabayyun perlu dilakukan oleh beberapa orang (kelompok/jamaah). Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran. Karena satu dengan yang lain memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap suatu masalah. Itulah mengapa mahasiswa memerlukan sebuah wadah yang bisa dijadikan tempat diskusi atas permasalahan sosial.

Sedangakan tujuan LK I atau basic training yaitu membentuk kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi, serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan bangsa juga peka terhadap permasalahan sosial dan mampu merumuskan solusi yang dibungkus dalam sebuah ide atau gagasan.

Setelah mengikuti serangkaian proses LK Idan sah menjadi kader Himpunan Mahasiswa Islam, kader HMI diberikan stimulus secara terus-menerus. Sesuai dengan namanya, kader adalah seseorang yang dibina secara terus-menerus untuk menjadi tulang punggung organisasi yang lebih besar. Itulah yang membedakan pengkaderan dan perkaderan. Pengkaderan hanya sebatas menjadikan bagian dari organisasi tanpa memiliki tanggung jawab dalam upayapeningkatan kapasitas seorang kader baikdalam aspek karakter maupun pengetahuan.

Sesuai dengan trilogi HMI (diskusi, aksi dan publikasi), maka kader HMI difasilitasi forum guna dapat mendiskusikan permasalahan yang sedang terjadi. Dalam diskusi itulah terjadi proses tukar pikiran. Dengan diskusi diharap dapat mengaggregasikansolusi-solusi dalam menyelesaikan sebuahmasalah seperti berita yang masih simpang siur kebenarannya.

Semua organisasi menawarkan idealismenya masing-masing. Tak terkecuali HMI, organisasi yang masih memproduksi kader yang peduli akan nasib bangsanya. Disamping tugasnya sebagai hamba Tuhan, Ia juga memiliki tugas sebagai penjaga kerukunan antar umat dan bangsa. HMI dalam menyikapi hoax, terfokus pada pengkaderan yang baik. Bila mahasiswa dikader sedemikian rupa sehingga tercipta manusia-manusia canggih, maka akan muncul sebuah transformasi sosial. Orang tidak akan terlarut lagi dalam pusaran kebohongan. Jika melihat sebuah berita yang samar dan cenderung memecah belah, HMI akan memainkan peranannya. Dan kemampuan tersebut akan mahasiswa dapatkan di Latihan Kader I (LK1) sebagai gerbang masuk menuju sebuah penyelesaian masalah yang lebih besar yaituHimpunan Mahasiswa Islam.Wallahu A’lamu bi Al-Shawab.(*)

*Penulis adalah Kabid PTKP HMI Komisariat Iqbal Korkom Walisongo Semarang

 


 





Baca Juga