Kamis, 26/09/2019 20:39 WIB | Dibaca: 233 kali

Gerakan Mahasiswa: Harapan Masyarakat Indonesia


Alwi Husein Al Habib. Foto:doc

Oleh: Alwi Husein Al Habib*

Mahasiswa merupakan komponen masyarakat kelas menengah yang sering disebut sebagai creative minority. Mahasiswa adalah kelompok masyarakatberpendidikan yang sehari-harinya bergelut denganpencarian kebenaran dalam kampus yang merasa gelisah atas adanya realitas yang tidak sesuai dengan idealitas. Kegelisahan kalangan mahasiswa inikemudian teraktualisasikan dalam aksi-aksi protesyang kemudian mendorong perubahan yang reformatif dalam sistem perpolitikan di Indonesia.

Banyak sekali peristiwa gerakan mahasiswa yang menjadi pionir bagi perubahan sosial. Lahirnya kesadaran mahasiswa atas keadaan sosial saat ini diyakini sebagai indikasi positif pertumbuhan dan pembangunandemokrasi di Indonesia. Kehadiran mereka bertujuan untuk mewujudkan perubahansosial yang lebih baik dan memenuhi kepentingan rakyat. Gerakan mahasiswa sebagai gerakan sosial merupakan faktorpaling penting dalam mewujudkan perubahan sosial.

Keterlibatan kaum intelektual dalam dunia gerakan sosial merupakan sebuah respon terhadap kondisi sosial ekonomi maupun politik yang dirasa masih belum bisa mensejahterakan rakyat. Keterlibatan itu tidaklah karena suatu paksaan apapun namun memang atas dasar kewajiban mahasiswa. Meski sebagian ada yang datang karena dipaksa oleh keadaan, namun sejatinya semua itu kembali kepada tupoksi awal sebagai mahasiswa.

Sebagai agen perubahan, idealisme mahasiswa menjadi pengukur nilai sejauhmana perubahan sosial tersebut dapat berjalan dengan semestinya.Gerakan mahasiswa ini pula menjadi penanda penting keberlangsungan demokrasi disebuah negara tetap berjalan.

Banyak dikalangan masyarakat yang juga memiliki keresahan yang sama atas kebijakan politik yang tidak memihak rakyat. Saking keresahan itu dirasakan setiap hari hingga keresahan itu tidak terasa menjadi kekuatan tersendiri untuk bertahan hidup. Namun sebagian besar masyarakat yang terdzalimi tidak bisa berbuat apa-apa. Dikarenakan mereka tidak paham bagaimana harus berbuat dan mengadu.

Masyarakat sejatinya memiliki kekuatan untuk melawan kebijakan pemerintah dengan melakukan gerakan melalui ormas atau kelompok-kelompok tertentu. Dengan jumlahnya yang lebih banyak dari mahasiswa, akan membuat power yang lebih besar dibandingkan mahasiswa. Namun masalahnya, tingkat kesadaran masyarakat berbeda-beda. Selain itu,disebabkan oleh beberapa faktor yang menghambat teraktualisasinya gerakan masyarakat misalkan ketakutan karena memiliki anak dan istri yang harus ditinggalkan di rumah serta tidak dapat bekerja mencari nafkah dihari itu, menjadikan masyarakat ragu untuk turun ke jalan.

Berbeda dengan mahasiswa. Mereka lebih leluasa dan tanggap dalam menanggapi permasalahan yang terjadi. Bukan karena mereka tidak memiliki keluarga yang menanti atau tidak adanya pekerjaan yang harus dilakukan, namun memang karena segala aktifitas dan keraguan itu mereka kesampingkan. Itu semua demi melihat keluarga dan masyarakat mereka yang dirumah dan di kampung halaman tidak lantas terkena dampak dari kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat.

Gerakan mahasiswa lahir bukan tanpa tantangan. Dinamika kampus yang tidak memperbolehkan mahasiswanya turun aksi dan orang tua yang merasa khawatir anaknya terjadi apa-apa merupakan tantangan yang lumrah dirasakan mahasiswa. Selain itu interpensi dari pihak aparat kepolisian maupun masyarakat sering juga terjadi. Masuknya penyusup, provokator, dan preman bayaran adalah contoh kecil tantangan yang seringkali terjadi pada saat melakukan aksi.

Namun sebenarnya, tantangan terbesar dari gerakan mahasiswa adalah diri mahasiswa itu sendiri. Banyak mahasiswa yang belum tersadarkan akan fungsi dan perannya sebagai seorang mahasiswa. Lebih memilih diam dan berada didalam zona nyaman dibandingkan harus ikut turun ke jalan menyuarakan kebenaran. Boleh dikatakan setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk berjuang. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa perjuangan paling revolusioner di negara demokrasi adalah dengan aksi turun ke jalan. Sampai saat ini belum ada formula yang lebih revolusioner yang dapat mengalahkan aksi turun ke jalan.

Ribuan bahkan jutaan masyarakat Indonesia menitipkan harapannya kepada mahasiswa. Tak sedikit dari masyarakat yang merindukan gerakan mahasiswa bila terjadi sesuatu kekeliruan dalam raga negara. Disamping mahasiswa adalah tonggak berdirinya sebuah negara, mereka juga adalah pemimpin bangsa di masa depan (iron stock). Maka wajar bila terjadi sesuatu yang tidak beres pada bangsa ini, mahasiswa mengakumulasi kemarahannya lewat aksi-aksi, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Gerakan mahasiswa bukan hanya sekedar gerakan yang terakumulasi dalam aksi demonstrasi. Lebih daripada itu, gerakan mahasiswa membawa nilai-nilai untuk dijaga sebagaimana mestinya. Harapannya, nilai-nilai tersebut nantinya dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat banyak. Nilai-nilai universal seperti keadillan sosial dan kesejahteraan rakyat adalah salah satu nilai yang mesti dijaga keseimbangannya oleh mahasiswa sebagai agent of social control dan agent of moral force.

Sebagai sebuah gerakan sosial, tentunya gerakanmahasiswa dituntut untuk tetap konsisten didalam menjalankan idealisme utama yakni membela kepentingan masyarakat luas,terutama di dalam menghadapi kebijakan negarayang kadang cenderung tak berpihak. Mahasiswa adalah pejuang demokrasi yangtentunya mesti senantiasa berjuang menegakkanprinsip-prinsip dan nilai-nilai yang ada di dalamdemokrasi. Disinilah pentingnya gerakan mahasiswa ini, yakni selain sebagai prasyarat bagiproses demokratisasi yang berlangsung, tetapijuga sebagai penyeimbang (sebagai checks and balance) di dalam mekanismesistem pemerintahan.Wallahu a’lamu bi al-shawab (*)

* Penulis adalah Wakil direktur bidang peningkatan sumber daya manusia di Center for Democracy and Religious Studies dan Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Qur’an Tafsir, UIN Walisongo Semarang.


 





Baca Juga