Rabu, 01/01/2020 21:07 WIB | Dibaca: 266 kali

Ecofinisme dan Peran Perempuan dengan Lingkungan


Deta Novitasari Jayanty. Foto:ist

Oleh : Deta Novitasari Jayanty * 

Perempuan sering diidentikan dengan kelembutan, keuletan dan keahliannya dalam urusan rumah tangga. Sehingga banyak paradigma yang menganggap perempuan pantas untuk dilindungi dan ditempatkan di rumah saja. Akan tetapi yang dimaksud perlindungan tersebut justru membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Pembatasan berbentuk perlindungan inilah membuat perempuan kurang mempunyai peranan penting dalam urusan kerusakan lingkungan, kemiskinan, masalah-masalah nasionalisme bahkan kaitannya dalam Negara.

Sepanjang sejarah perempuan mengalami mimpi buruk. Padahal perempuan yang paling merasakan jika suatu ekosistem lingkungan tersebut rusak. Atas dasar itulah muncul gerakan-gerakan perempuan dalam upaya melindungi lingkungan yang disebut Ecofinisme.

Ecofinisme berasal dari dua suku kata yaitu “ecology” dan “feminisme”. Ekologi adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Sedangkan feminisme adalah gerakan perempuan yang menuntut hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan. Hakikat feminisme adalah perlawanan, anti, dan bebas dari penindasan, dominasi, hegemoni, ketidakadilan, dan kekerasan terutama yang terjadi pada perempuan. Jadi, ecofinisme adalah gerakan perempuan yang sadar akan menjaga ekosistem lingkungan sebagai suatu hal penting dalam kehidupan.

Aliran teori ini dicetuskan oleh Vandana Sifa yaitu seorang ilmuwan yang berasal dari India. Teori ecofinisme menjelaskan bagaimana kedekatan perempuan dengan alam. Misalnya, pengelolaan sampah plastik, mengolah sayuran, bercocok tanam  dan sebagainya. Perempuan dan alam sudah menjadi satu kesatuan kosmis yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Begitu eratnya lingkungan dengan perempuan dalam membentuk relasi terjadinya kesinambungan antologis antara manusia dan alam sekitar.

Menurut Maria (1986) perilaku perempuan memiliki kegiatan produktif dengan alam bukan hanya membuat atau apa tetapi melalui kegiatan tersebut perempuan membuat segala sesuatu menjadi tumbuh. Alam menjadi sumber kekuatan dan kekayaan kehidupan. Seperti halnya memasak merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kaum perempuan. Dengan menggunakan kedua tangan mereka mampu mengubah sesuatu bahan mentah menjadi bahan yang dapat dikonsumsi. Tidak hanya itu kedua tangan tersebut dapat mengubah kreatifitas serta inovasi dari bahan bekas menjadi sesuatu yang berbeda dan memiliki harga yang tinggi.

Namun, akibat kaum patriarki sebagai alasan mengapa gerakan perempuan itu muncul karena kurangnya kesadaran mengelola alam dengan modern. Hal inilah banyak kaum perempuan membuat pergerakan untuk melawan kelompok perusak dan melindungi lingkungan. Salah satu contoh yang ada di Indoensia tepatnya di daerah Rembang Jawa Tengah ibu-ibu petani  Kendeng melakukan perlawanan beroperasinya pabrik semen. Pada kepeloporannya perempuan berada pada garda paling depan karena merekalah yang paling merasakan dampak adanya pabrik semen tersebut. Kaum perempuan adalah pelaku dalam membangun peradaban umat manusia. Disini dapat kita lihat betapa perempuan sangat memperhatikan lingkungannya.

Menjaga ekosistem lingkungan tidaklah mudah tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah. Kesadaran manusia akan menjaga alam masihlah sangat rendah, melalui etika, esterika, moral dan tingkah laku akan mempengaruhi lingkungan termasuk produksi dan reproduksi. Pemerintah yang berperan penting justru belum melakukan pengawasan dengan baik. Banyak oknum-oknum membuat kerusakan di bumi ini yang semestinya dijerat hukum sesuai dengan ulahnya.

Secara umum, terjadinya kerusakan disebabkan oleh dua faktor yakni bersifat langsung dan tidak langsung. Faktor penyebab tidak langsung seperti gunung meletus, banjir, tsunami dan lain-lain. Sedangkan faktor secara langsung seperti akibat ulah tangan-tangan manusia yang mengeksploitasi lingkungan secara besar-besaran, membuang sampah ke sungai sehingga air tercemar, penebangan hutan secara liar dan masih banyak lagi.

Kurangnya kesadaran manusia dalam menjaga ekosistem lingkungan berdampak kepada banyak pihak. Terutama ibu-ibu sebagai kaum perempuan akan sangat merasakan dampak tersebut. Melihat kaum feminis yang sering mengolah lingkungan menjadi sesuatu yang bermakna.

Menjaga dan mengolah sudah menjadi tugas kita untuk meletarikan bumi serta seisinya. Perjuangan perempuan harus tetap dilakukan secara konsisten agar menemukan titik keadilan dan kesetaraan. Dengan tetap mengajak semua elemen masyarakat untuk memelihara, memanfaatkan dan mengolah alam sebagaimana mestinya. Dalam peranannya sebagai manusia, harus mengurus dan merawat dengan langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan dan kalau sampai terjadi, maka manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan memperbaikinya kembali. Tentunya hal tersebut semua masyarakat termasuk pemerintah perlu berkontribusi secara penuh agar lingkungan tetap lestari.

*Penulis adalah Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Esensi & Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Walisongo Semarang

 

Berita Terkait

 





Baca Juga