YOGYAKARTA – Aksi ratusan massa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam, berakhir tegang. Setelah bertahan selama beberapa jam, massa akhirnya bergerak meninggalkan lokasi, tetapi sempat terjadi saling dorong hingga keributan dengan kelompok warga.
Ketegangan terjadi ketika massa aksi masih berada di sekitar kawasan monumen Simpang Empat Jalan Jenderal Sudirman. Sejumlah warga yang berada di lokasi juga terlihat berinteraksi dengan peserta aksi.
Polisi kemudian berupaya mencegah situasi berkembang menjadi bentrokan. Kabag Ops Polresta Yogyakarta Kompol Sumalugi meminta warga yang bukan bagian dari kepolisian menjauh dari lokasi melalui pengeras suara.
“Saya minta rekan-rekan warga yang selain anggota Kepolisian Republik Indonesia, saya minta mundur. Ini mahasiswa sudah bersedia untuk kembali dan minta dikawal. Proses ini kita bantu sama-sama supaya berjalan dengan baik,” ujar Sumalugi di lokasi.
Ketegangan sebelumnya mulai terlihat sekitar pukul 20.28 WIB. Sekelompok orang datang dari arah selatan menuju barisan polisi.
Beberapa menit kemudian, sejumlah warga berpakaian sipil tampak berinteraksi dengan massa aksi. Situasi tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 20.52 WIB.
Kondisi mulai memanas sekitar pukul 21.01 WIB. Berdasarkan pantauan di lokasi, terjadi aksi saling dorong ketika sejumlah warga mendorong massa aksi ke arah utara.
Sekitar pukul 21.32 WIB, massa masih berkumpul di depan kawasan monumen. Seorang perwakilan warga kemudian mencoba membujuk mahasiswa agar mengakhiri aksi secara damai.
Dalam dialog tersebut, perwakilan warga mengingatkan massa agar tidak terlibat bentrokan. Ia menilai kericuhan hanya akan merugikan semua pihak.
“Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah! Semua kalah kalau ricuh! Ini kan anak-anak kita, adik-adik kita sendiri. Ngapain harus bentrok dengan warga?” katanya.
Ia juga mengusulkan adanya forum dialog yang melibatkan masyarakat dan berbagai pihak agar aspirasi mahasiswa dapat dibahas secara lebih terstruktur.
“Kalau suatu saat saya minta kepada teman-teman atau stakeholder untuk ada forum? Forum tertentu yang melibatkan masyarakat sehingga kita bisa lebih efektif. Sehingga dua arah,” ujarnya.
Namun, perwakilan massa mempertanyakan sejauh mana masyarakat dapat memberikan dukungan terhadap gerakan mereka. Massa juga meminta perwakilan warga ikut terlibat dalam forum konsolidasi, bukan hanya meminta mahasiswa membubarkan diri.
Perwakilan warga tersebut kemudian menyatakan akan berkomunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah dan kepolisian, untuk membuka ruang dialog.
“Nanti saya akan bicara dengan beberapa teman di Pemda, beberapa teman di kepolisian untuk bisa bikin media. Atau gini, okelah! Kita nanti bersama-sama bikin suatu forum,” katanya.
Dialog tersebut belum membuat massa langsung membubarkan diri. Salah seorang peserta aksi bahkan meminta perwakilan warga membacakan tuntutan yang sebelumnya telah dikonsolidasikan sebagai bentuk kesediaan massa meninggalkan lokasi.
Permintaan tersebut tidak dipenuhi. Perdebatan kembali terjadi ketika massa mempertanyakan klaim perwakilan warga yang mengaku mewakili masyarakat Yogyakarta, tetapi mengaku tidak mengetahui aksi yang telah berlangsung sejak sore.
“Bapak tahu atau tidak?” tanya perwakilan massa.
“Enggak,” jawab warga tersebut.
Jawaban itu kemudian dipersoalkan peserta aksi. Mereka menilai kondisi tersebut membuat klaim dukungan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa sulit untuk dipercaya.
Di tengah perdebatan, perwakilan warga kembali meminta mahasiswa mengutamakan keselamatan dan meninggalkan lokasi secara damai.
“Saya tidak ingin malam ini terjadi kacau. Saya juga tidak ingin menang-kalah. Saya merasa orang tua yang mungkin keterjagaannya lebih. Jenengan saya hanya eman saja kalau perjuangan ini harus terhenti dan kemudian ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan,” ujarnya.
Sekitar pukul 21.52 WIB, massa akhirnya mulai bergerak ke arah utara. Peserta aksi meminta rekan-rekannya tetap tertib saat meninggalkan Simpang Gramedia.
“Pelan-pelan, yo! Teratur, teman-teman. Kita di sini damai. Kami mendapat kekerasan. Ada yang membawa senjata tajam,” ujar salah seorang peserta aksi.
Peserta aksi juga meminta orang-orang yang masih berada di kawasan perempatan menjauh agar rombongan dapat meninggalkan lokasi dengan aman.
“Dari tadi kami merasa terancam, Pak. Dari sana ada yang ngomong bunuh, ada yang ngomong bawa senjata tajam,” kata peserta aksi kepada polisi.
Situasi kembali memanas sekitar pukul 21.58 WIB. Kelompok warga dari arah selatan mendatangi massa yang sedang bergerak meninggalkan lokasi.
Keributan kembali terjadi. Berdasarkan pantauan di lokasi, terjadi aksi saling dorong dan lemparan bubuk merica.
Setelah itu, massa berangsur meninggalkan kawasan Simpang Gramedia. Polisi kemudian mulai membuka barikade yang sebelumnya membatasi kawasan aksi.
Sekitar pukul 22.17 WIB, barikade mulai dibuka. Tiga menit kemudian, pukul 22.20 WIB, arus lalu lintas dari Jalan Solo menuju kawasan Tugu dan arah sebaliknya kembali dibuka.
Sebelumnya, arus kendaraan di kawasan tersebut dialihkan selama aksi berlangsung.
Aksi Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Gramedia sendiri telah dimulai sejak sekitar pukul 16.20 WIB. Ratusan peserta membentuk lingkaran besar di tengah persimpangan yang menjadi salah satu titik strategis di Kota Yogyakarta.
Kondisi tersebut membuat sejumlah jalur menuju Malioboro dan Jalan Solo sempat ditutup.
Perwakilan massa, Risyad dari UPN Veteran Yogyakarta bersama Mesa dari UGM, mengatakan pemilihan Simpang Gramedia bukan tanpa alasan. Menurutnya, lokasi tersebut merupakan salah satu titik vital yang diharapkan dapat menjadi ruang untuk menyuarakan keresahan masyarakat.
“Perempatan Gramedia ini merupakan titik vital dan harapannya apa yang diaspirasikan, apa yang jadi keresahan ini juga bisa mewakili dan juga menyuarakan orang-orang yang tidak bisa melakukan aksi karena dituntut oleh pekerjaannya, kondisi ekonomi, kebijakan, regulasi, dan banyak pengabaian negara terhadap masyarakat,” kata Risyad.
Sepanjang sore hingga malam, peserta aksi menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah. Beberapa isu yang disoroti antara lain anggaran pendidikan, penanganan bencana, serta sejumlah program prioritas nasional.
Setelah berlangsung selama beberapa jam, massa meninggalkan kawasan Simpang Gramedia. Situasi lalu lintas di persimpangan tersebut kembali normal sekitar pukul 22.20 WIB. (Olv)














