Soal Anggaran Perayaan Bulan Warisan Dunia 2026 Dipangkas, Ini Alasan Kundha Kabudayan DIY

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan keterangan dalam konferensi pers Bulan Warisan Dunia 2026 di Yogyakarta. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian pelestarian warisan budaya UNESCO, termasuk Pencak Wisata Budaya yang melibatkan peserta dari berbagai negara. (Foto:Livia)

YOGYAKARTA – Efisiensi anggaran hingga 40 persen tidak menyurutkan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar perayaan kebudayaan berskala internasional. Sejumlah warisan budaya UNESCO yang sebelumnya dirayakan secara terpisah kini disatukan dalam rangkaian Bulan Warisan Dunia 2026.

Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan efisiensi anggaran menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh pemerintah daerah di Indonesia.

Namun, kondisi tersebut justru dimanfaatkan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Anggaran mungkin semakin kecil, tetapi jangan sampai tujuan dan dampak yang kita inginkan ikut turun. Justru ini menjadi hikmah karena mampu menyatukan seluruh stakeholder untuk bergerak bersama,” kata Dian dalam konferensi pers di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY.

Puncak Bulan Warisan Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2026, di sepanjang kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, mulai Malioboro hingga Margomulyo.

Rangkaian acara berlangsung sejak pukul 05.00 hingga 23.00 WIB. Berbagai unsur budaya seperti batik, wayang, keris, gamelan, pencak silat, jamu, dan kebaya akan dihadirkan dalam satu rangkaian perayaan.

Dian mengatakan penggabungan berbagai agenda tersebut diharapkan membuat gaung warisan budaya Yogyakarta semakin luas. Selain melibatkan seniman dan komunitas lokal, kegiatan juga dikemas dengan partisipasi peserta dari berbagai negara.

Salah satu agenda internasional tersebut adalah Pencak Wisata Budaya. Kegiatan ini mempertemukan peserta mancanegara dengan komunitas pencak silat tradisional di Yogyakarta.

Koordinator Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi, mengatakan terdapat 22 peserta asing yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka antara lain berasal dari Uganda, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Belanda, Ukraina, dan Pakistan.

Menurut Suryadi, keterlibatan peserta internasional diharapkan dapat memperkuat pencak silat sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia.

“Mereka start dari UGM untuk dibawa keliling dan ada pembukaan di sini juga. Kami lebih cenderung menceritakan ini sebagai diplomasi budaya,” ujar Suryadi.

Ia berharap para peserta mancanegara dapat terus mempelajari pencak silat setelah kembali ke negara masing-masing. Setidaknya, kata dia, mereka telah mengenal lebih dekat budaya lokal Yogyakarta.

Suryadi juga menyebut Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendukung kegiatan tersebut karena pengenalan budaya lokal, khususnya Yogyakarta, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Bulan Warisan Dunia 2026 telah berlangsung sejak Juli melalui sejumlah kegiatan kebudayaan. Salah satunya konser kolaborasi bersama Melbourne Symphony Orchestra.

Rangkaian tersebut akan berlangsung hingga pekan keempat September dan ditutup melalui Jogja World Heritage Festival.

Pada puncak perayaan 29 Agustus, masyarakat dapat menyaksikan berbagai pertunjukan dan aktivitas budaya di kawasan Malioboro.

Salah satunya 100 Dalang Manjing Malioboro yang menghadirkan 100 dalang lintas generasi. Mereka akan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus memperkenalkan tokoh dan filosofi wayang.

Kegiatan tersebut juga dilengkapi lokakarya pembuatan wayang suket dan tata sungging.

Ada pula Keris on the Street yang digelar di depan Hamzah Batik. Pengunjung dapat melihat pameran keris, berkonsultasi mengenai keris, hingga menyaksikan proses penempaan logam melalui besalen mobile.

Parade Budaya dan Pertunjukan turut menghadirkan enam kelompok Shalawat Maulud Jawi dan Jathilan terbaik dari berbagai daerah di DIY.

Sementara itu, Sabetan Pencak di Titik Nol akan menjadi salah satu pertunjukan pada malam puncak. Pertunjukan ini memadukan pencak silat tradisional dengan koreografi modern dan battle dance.

Pemda DIY berharap kolaborasi tersebut tidak hanya menjadi strategi menghadapi keterbatasan anggaran, tetapi juga memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Indonesia dan destinasi wisata budaya di tingkat internasional. (olv)

58 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com