YOGYAKARTA — Yoyok Sunaryo, 67 tahun, duduk di atas kursi plastik hijau di depan rumah kontrakannya di Kampung Johoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta. Tubuhnya tampak ringkih. Delapan bulan terakhir, sakit pada bagian kaki membuatnya kesulitan berjalan dan tak lagi mampu bekerja.
Yoyok hidup seorang diri setelah istrinya meninggal. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebelumnya dia mengandalkan pekerjaan serabutan. Kini, ketika penghasilan tak lagi ada, bantuan sosial yang pernah diterimanya justru berhenti.
“Sekarang udah enggak,” kata Yoyok saat ditemui pada Kamis, 3 September 2026.
Yoyok sebelumnya menerima sejumlah bantuan pemerintah. Di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan beras, dan bantuan tunai.
Dia mengatakan bantuan itu cukup berarti untuk menopang kebutuhan hidupnya. “Mbiyen kan nampi bantuan telur sama apa ya, beras. Saya bungah (senang) banget,” ujarnya.
Namun bantuan tersebut tak lagi diterimanya pada pencairan Tahap 3 tahun ini. Yoyok tak mengetahui pasti penyebab bantuan itu berhenti.
Kondisi kesehatan membuat ruang geraknya semakin terbatas. Sambil menunjuk bagian kakinya, dia mengatakan sakit tersebut sempat dikira hanya alergi.
“Sekarang sini sakit, jadi agak susah jalan. Sekarang mending rada gampang,” kata dia.
Sebelum sakit, Yoyok masih bekerja untuk menyambung hidup. Salah satu pekerjaan yang pernah dilakoninya adalah mengasuh anak.
“Penggaweane kula riyin mblatrah. Kula teng Kepatihan, kula meh 7 tahun kok,” ujarnya.
Kini pekerjaan itu tinggal kenangan. Selain tak lagi memiliki penghasilan, Yoyok harus membayar sewa rumah yang ditempatinya seorang diri.
Tetangganya, Sarti, 43 tahun, mengatakan kebutuhan makan Yoyok belakangan banyak dipenuhi warga sekitar. Sejumlah warung di lingkungan tempat tinggalnya juga turut membantu.
“Yang ngopeni (ngasih) ya tetangga-tetangga, warung sini, depan. Kan dia enggak punya saudara,” kata Sarti.
Warga bergantian memberikan makanan kepada Yoyok. Sesekali dia juga mendapat uang dari kerabat, tetapi jumlahnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membayar kontrakan.
Menurut Sarti, persoalan terhentinya bantuan Yoyok berkaitan dengan perubahan data desil. Data desil merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam pemutakhiran kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Sarti mengatakan telah mengecek data Yoyok melalui aplikasi pengecekan bansos. Hasilnya menunjukkan Yoyok masuk desil 6-10.
Padahal, kata dia, setelah berkomunikasi dengan pendamping PKH, data Yoyok masih tercatat dalam desil 1.
“Aku baru konfirmasi karo pendamping PKH, desil Pak Yoyok masih 1. Padahal di aplikasi bansos aku cek 6-10. Tapi tahap 3 ini belum masuk bantuannya PKH dan beras,” ujar Sarti.
Sebelum bantuan terhenti, Yoyok masih sempat menerima bantuan pada awal tahun. “Yang periode ini. Sempat dapat (tahun ini),” kata Sarti.
Sarti mengatakan persoalan perubahan desil juga dialami warga lain di lingkungannya. Lebih dari 10 orang, menurut dia, mengalami perubahan data yang berujung pada terhentinya bantuan.
Namun kondisi Yoyok dinilai berbeda. Dia sudah lanjut usia, sakit, tidak lagi bekerja, dan hidup sendirian.
“Yang jelas kan biasanya dapat bantuan, enggak dapat. Kayak gitu-gitu kan. Banyak yang sini sama. Tapi ibaratnya kan bukan istilah kita kan masih produktif, jadi masih bisa usaha lah. Yang lansia itu yang kasihan,” ujar Sarti.
Perubahan data tersebut membuat Sarti mempertanyakan kesesuaian hasil pendataan dengan kondisi penerima bantuan di lapangan.
“Kalau desil 6 sampai 10 kan dianggapnya masih mampu. Sedangkan pada kenyataannya kondisi Pak Yoyok sendiri seperti apa, mungkin?” kata dia.
Sarti berharap pemerintah melakukan pengecekan kembali terhadap data penerima bantuan. Menurut dia, verifikasi langsung diperlukan agar warga yang memang membutuhkan tidak kehilangan bantuan akibat ketidaksesuaian data.
“Ya ada perubahan lah, setidaknya ya sesuai faktane. Ibaratnya kayak gitu. Kan kasihan kayak gini, de’e (Mbah Yoyok) enggak bisa ngapa-ngapain,” ujar Sarti.
Kasus Yoyok memperlihatkan persoalan yang dapat muncul ketika data administrasi tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sosial ekonomi seseorang. Di tengah sakit dan ketiadaan penghasilan, lelaki itu kini bertahan dari bantuan orang-orang di sekitarnya. (olv)














