Golput Bisa Jadi Pemenang dalam Pilpres 2014

JAKARTA– Kalangan pengamat politik memprediksikan angka tidak memilih atau Golput akan meningkat. Hal itu dikarenakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap elit politik legislative dan elit eksekutif kian menurun. Bahkan Golput bisa menjadi pemenang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ini.

“Bila mereka yang tidak berpartisipasi dalam pemilu digabungkan dengan golput, bisa jadi mereka akan menang pada 2014,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Arbi Sanit sebagaimana dilansir hariandialog.com, belum lama ini.

Diungkapkan Arbi Sanit, tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 1999 mencapai 93,33%, Pemilu 2004 turun menjadi 84,9%, dan Pemilu 2009 turun lagi menjadi 70,99%. Pemilu 2014, diprediksi hanya tinggal 54%, namun prediksi optimis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) masih pada angka 60%.

Di pihak lain, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menargetkan tingkat partisipasi pemilih 75% sesuai target pembangunan. Dari sekitar 236 juta penduduk Indonesia, kemungkinan calon pemilih Pemilu 2014 adalah 191 juta orang.

Angka golput juga terus meningkat. Pemilu 1999 angka golput 10,21%, Pemilu 2004 naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Bandingkan dengan angka golput pada pemilu era Orde Lama dan Orde Baru (1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997) yang tak pernah lebih dari 10%.

Untuk Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah, angka golput juga tinggi. Pilpres 2004 angka golput 21,5%, Pilpres 2009 naik menjadi 23,3% (angka partisipasi pemilih Pilpres 2009 sebesar 72,09%). Angka golput pemilukada rata-rata 27,9%.

Sebelumnya, pengamat sosial dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Masroer M.Si mengungkapkan, keputusan masyarakat untuk tidak memilih sebenarnya bagian dari pilihan politik.

Menurutnya banyak faktor kenapa masyarakat Golput, namun lebih didominasi karena ketidak percayaan masyarakat terhadap para elit politik. Masyarakat belum merasakan kesejahteraan yang dijanjikan para elit politik.

“Dalam konteks demokrasi Golput sebenarnya juga pilihan politik. Mereka yang tak memilih biasanya karena factor sudah tidak percaya lagi dengan elit politik. Oleh karenanya saya berharap, siapapun Capres yang terpilih nanti bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat Indonesia, sehingga yang Pilpres tahun ini Golput, lima tahun ke depan akan menentukan pilihan,” harapnya.

Sementara Staf Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gajah Mada (BEM KM UGM), Alfath Bagus Panuntun mengatakan, Golput tidak bisa disalahkan.

“Pilpres itu hanya fasilitas, boleh digunakan, boleh tidak. Yang lebih penting dari sekadar pemilu ialah partisipasi dan pengawasan politik secara aktif. Yaitu, partisipasi yang dilakukan secara penuh dan sadar pada pra-pemilu, saat pemilu, serta pasca-pemilu. Partisipasinya adalah untuk mengontrol pemerintahan agar benar-benar bisa mensejahterakan rakyat, dan itu harus dilakukan dengan partisipasi seluruh elemen rakyat Indonesia yang berdaulat,” tandasnya.(yud/ded/lia)

Redaktur: Tarnowo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.