Bang Buyung, Riwayatmu Dulu di Yogyakarta yang Menginspirasi

JAKARTA– Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh inspiratif. Advokat senior tiga jaman, Adnan Buyung Naution, telah menghadap yang Maha Kuasa Rabu (23/09/2015) pukul 10.14 WIB. Tokoh yang juga dikenal aktivis kemanusiaan ini, meninggal di usia 81 tahun, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan selama beberapa hari.

Sepanjang kariernya, advocat  kelahiran Jakarta pada 20 Juli 1934, banyak sukses menangani kasus-kasus besar yang melibatkan tokoh-tokoh nasional. Namun perjalanannya menuju puncak kasta sebagai pendekar hukum bukanlah perjalanan sekadar panjang, melainkan sangat panjang.

Masa kecil Adnan dihabiskan di Yogyakarta. Ketika Adnan berusia 12 tahun, ia hidup sendiri dengan adik semata wayangnya, Samsi Nasution, berdagang barang loakan di Pasar Kranggan, Yogyakarta.

Di tempat itu pula, ibu Buyung yang bernama Ramlah Dougur berjualan es cendol. Sementara ayahnya, Rachmat Nasution, bergerilya melawan Belanda pada tahun 1947-1948.

Darah pejuang Buyung  mewarisi Sang ayah, Rakhmat Nasution. Selain pejuang, sang Ayah juga dikenal sebagai  aktivis politik, ia juga sebagai salah satu pendiri kantor berita Antara dan harian Kedaulatan Rakyat, Adnan juga ikut aktif berorganisasi. Ia pernah ikut berunjuk rasa untuk memprotes pendirian sekolah tentara sekutu Belanda atau NICA di Yogyakarta.

Ketika bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta, Buyung menjabat sebagai Ketua Cabang Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), yang kemudian dibubarkan karena dianggap terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selepas SMA, Adnan terdaftar sebagai mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, satu tahun kemudian, Adnan pindah ke Fakultas Gabung Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik di Universitas Gajah Mada.

Tidak lama kemudian, ia berpindah ke Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan di Universitas Indonesia. Di tiga universitas tersebut, Adnan aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa.

Adnan kemudian menjadi Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejaksaan Istimewa Jakarta pada 1957 hingga 1961.Meski menjadi JPU, Adnan tetap aktif di kegiatan politik. Ia tercatat sebagai pendiri dan Ketua Gerakan Pelaksana Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera).

Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau Gestapu, Adnan tercatat sebagai anggota Komando Aksi Pengganyangan Gestapu. Bahkan, Adnan sempat mendapatkan skorsing selama satu setengah tahun akibat ikut berdemonstrasi dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan dia dituduh sebagai anti revolusi.

Kemudian pada 1962-1968, dia adalah Kepala Humas Kejaksaan Agung. Ia kemudian menjadi anggota parlemen pada 1966-1968. Pada 1969 ia kemudian mulai menggagas firmanya sendiri, Adnan Buyung Nasution. Pada tahun 1970, Adnan mendirikan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Advocat dengan  ciri khas rambut putih ini Pada 1999, pernah  menduduki posisi sebagai wakil ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU).pernah menjadi Ketua Tim Independen Verifikasi Fakta konflik KPK-Polri dan Proses Hukum atas kasus pimpinan KPK Chandra M Hamzah-Bibit Samad Rianto yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tim ini berisi 8 orang dan kerap disebut Tim 8. Di masa SBY ini juga, pada 2007-2009, Buyung menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). 

Pria yang bernama asli Adnan Bahrum Nasution ini juga tak luput dari sorotan publik Karena dia dianggap membela koruptor. Ia pernah menjadi pengacara pegawai pajak Gayus Halomoan Tambunan. Menurutnya, Gayus harus dibela karena pasal yang disangkakan sangat berat seperti pencucian uang, penggelapan dan pengemplang pajak. Selain itu Bang Buyung, sapaan akrabnya, juga membela mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dalam kasus Hambalang. Dia menilai, kasus Anas sarat akan muatan politik. 

Namun kesan mendalam tentang sosok Bang Buyung adalah bahwa ia adalah advokat yang memegang perinsip untuk menegakkan hukum dan keadilan di Indonesia. Selamat Jalan Bang Buyung. (dan)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *