Refleksi Hardiknas: Anak Buruh Tak Sekolah, Pemuda Desa Tak Kerja

Oleh: Muhammad Farigh Rangkuti*

HARI ini, 2 Mei selalu kita peringati sebagai hari Pendidikan Nasional karena tak lepas dari perjuangan Ki Hajar Dewantara saat itu yang berhasil melawan sistem yang dibangun kolonial Belanda. Dizaman itu, hanya keturunan Belanda saja yang bersekolah. Karena prlawanannya itu Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Belanda.  Meski demikian, justru beliau Bersekolah di pengasingan, hingga akhirnya setelah kembali ke tanah air meraih gelar Doktor di Universitas Gadjah Mada dan mendirikan Yayasan Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara sadar dan berani melawan sistem yang berimplikasi pembodohan bagi putra putri Indonesia yang bukan keturunan Belanda. Belajar dari sejarah tersebut, di hari pendidikan nasional yang selalu kita peringati setiap tahunnya ini, tentu bukan sekadar seremonial belaka. Bukan hanya kita peringati dengan upacara dan status-status di setiap media sosial belaka, tetapi bagaimana kita mengevaluasi seberapa sempurnanya atau seberapa bobroknya dunia pendidikan kita saat ini karena negara menjamin kecerdasan anak bangsa di dalam pembukaan UUD 1945.

Yang perlu kita pahami bersama adalah kadang teori tidak sesuai dengan lapangan karena sangat besarnya negara dan sangat beragamnya budaya serta beraneka ragamnya kepribadian dinegeri ini. Banyak kebijakan-kebijakan yang memang sudah sangat efisien diterapkan tetapi masih sangat banyak pula kekurangan-kekurangan yang kita rasakan. Karena memang tidak ada sistem yang sempurna tetapi setidaknya pemerintah berupaya meminimalisir kemadhorotan yang terdapat pada sistem tersebut.

“Anak buruh tak sekolah, pemuda desa tak kerja” bukan hanya sekedar nyanyian belaka, tetapi memang masih banyak mereka yang tidak mampu sekolah karena tidak ada biaya. Pemerintah hanya mewajibkan sekolah 9 tahun saja tanpa solusi. Apa benar pemahaman bahwa anak buruh jadi buruh, anak pejabat jadi pejabat? Dijam sekolah masih banyak kita lihat diperempatan-perempatan jalan anak-anak yang seharusnya sekolah dan menimba ilmu di sekolah tetapi mereka harus mencari recehan menjadi tulang punggung keluarga. Kalau memang seperti itu buat apa ada sistem?

Kami bangga kepada pemerintah yang sangat ingin memajukan dunia pendidikan diIndonesia dengan meningkatkan sistem pendidikan menyamai dengan sistem-sistem pendidikan Negara-negara yang sangat maju di Dunia Pendidikan, tetapi kurang mempertimbangkan kapasitas rakyatnya. Malah sangat banyak anak-anak pejabat yang bersekolah di luar negeri untuk menuntut ilmu sehingga menggambarkan bahwa beliau-beliau saja ragu dengan dunia pendidikan di Indonesia.

Ada beberapa poin yang ingin kami sampaikan bahwa dunia pendidikan Indonesia saat ini masih sangat mahal, terbukti biaya administrasi sekolah tiap tahun kian meningkat sementara masyarakat Indonesia masih banyak yang ekonominya di bawah rata-rata. Kedua yaitu pembenahan sistem. Sistem yang ada didunia pendidikan masih kurang, terbukti bahwa banyak pelajar yang menuntut ilmu hanya sebagai menuntaskan kewajiban mereka saja.

Sistem Pendidikan Pesantren.

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan pula yang ada di Negara Indonesia, dan Pesantren sendiri berdiri lebih lama dari pada Indonesia merdeka. Pesantren lebih mengkhususkan kapada para pencari ilmunya atau yang lebih akrab kita sebut santri pada Bidang agama. Tetapi pesantren tak pernah lekang oleh waktu dan selalu eksis dari jaman ke jaman mencetak santri yang mampu berbakti dan berguna bagi Nusa dan bangsa. Terkait sistem pendidikan di pesantren terkait kebijakan maupun kurikulumnya sudah tidak diragukan lagi. Mungkin lewat momentum Hari Pendidikan Nasional ini sudah selayaknya pemerintah dapat meniru dan menerapkan sistem yang ada di Pesantren buat dunia pendidikan formal yang ada di Indonesia dan sistem ini mungkin bisa menjawab semua permasalahan yang ada di Dunia pendidikan kita saat ini. [*]

*Penulis  adalah wakil ketua PC.IPNU Kota Jogja 2014-2016, santri pondok Pesantren Al-Munawwir 2006 – sekarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.