Peran Mahasiswa Dalam Merevitalisasi Reforma Agraria Dalam Merintis Ekonomi Negeri

Oleh: Muhammad Labib*

Sebagai mahasiswa tentunya memiliki peran sebagai Agent Of Change, salah satu peran-peran yang harus dipegang dalam mengemban status mahasiswa. Agent of change artinya adalah sebagai agen perubahan, yang, mana para mahasiswa sebagai penggerak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Karena mahasiswa memiliki pengetahuan, gagasan, dan keterampilan sebagai penunjang dalam membawa perubahan, salah satunya di sektor perekonomian.

Negara Indonesia sendiri merupakan negara yang sangat kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), begitu juga dengan sumber daya manusia (SDM). Akan tetapi, jika disorot dari kacamata perekonomian, dengan segala potensi yang dimiliki, Negara Indonesia masih jauh dari kata kaya dan makmur. Menyoroti hal-hal demikian, maka mahasiswa juga harus memiliki andil dalam berperan untuk membangun ekonomi nasional.

Berbagai fakta problema  saat ini juga menunjukan bahwa bangsa Indonesia  dihadapkan pada kenyataan terus berlangsungnya eksploitasi sumber daya alam (SDA) termasuk sumber daya agraria yang berorientasi ekonomi, menyikapi hal tersebut mahasiswa memiliki kendali untuk memberikan sumbangsih pemikiran, gagasan dan tindakan dalam pengelolaan agraria sebagai terobosan membangun ekonomi nasional. Untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju di berbagai bidang, salah satunya di sektor ekonomi. Karena terlihatnya  sebuah negara yang maju dilihat dari ekonominya terlebih dahulu.  Pada saat ini mahasiswa dituntut harus bisa kreatif, inovatif, dan juga atraktif untuk menghadapi dalam ranah nasional maupun ekonomi global. 

Wajah Ekonomi Indonesia  

Ekonomi merupakan suatu tata hidup urusan pemanfaatan uang, tenaga, waktu perekonomian suatu negara. Ada tiga aspek yang menjadi asas-asas ekonomi yaitu produksi, distribusi, dan konsumsi dalam berbagai bidang perekonomian (seperti perindustrian dan perdagangan). Menyorot wajah ekonomi Indonesia, Indonesia tergolong dalam negara berkembang. Sehubungan dengan itu, ekonomi di negara berkembang harus bersifat elektis, yang mana dapat mengkombinasikan berbagai konsep dan analisis ekonomi tradisional dan juga model-model baru. Memahami tentang perekonomian pembangunan di negara-negara berkembang atau yang belum maju, guna untuk memudahkan upaya perbaikan sebagai tolak ukur standar hidup di tiga perempat penghuni dunia.

Fluktuasi dalam ukuran generasi juga menyebabkan problema. Ketika generasi kecil membayar pajak yang tinggi. Meskipun populasi yang kian makin menua dan menggembung distribusi usia kekhawatiran nyata, takut banyak masyarakat yang lebih besar adalah bahwa pertumbuhan populasi global akan membanjiri kapasitas ekonomi dan ekosistem global.

Ketakutan ini pertumbuhan penduduk tidak baru. Hal demikian akan membuat khawatir bahwa pertumbuhan populasi membuat tanah semakin langka, kenaikan harga pangan pada akhirnya akan mematahkan pertumbuhan ekonomi dan penduduk lanjut, yang mengarah ke “keadaan stasioner.” keterbatasan sumber daya alam, khususnya tanah , berada di jantung masalah.

Urgensi ekonomis tanah sudah menyusut pada global modern. Pangsa angkatan kerja pada sektor pertanian sudah menurun berdasarkan lebih kurang 80 % sebagai lebih kurang 5% pada poly negara maju, ad interim industrialisasi sudah mengakibatkan output pertanian menurun bahkan kurang berdasarkan 5 % berdasarkan total produksi. Bahkan pada pertanian, tanah sebagai kurang krusial lantaran produktivitas sudah didorong sang masukan lainnya, termasuk energi kerja, pupuk, pestisida, insektisida, varietas benih baru, irigasi, dam energi mesin atau hewan, & pendidikan. Bertentangan dengan prediksi para ekonom klasik, harga kuliner riil secara historis jatuh. Berlatar belakang dari itu semua, sebaiknya negara Indonesia bisa bercermin dan menjadikan hal tersebut sebagai bahan referensi untuk membangun ekonomi nasional, terutama dalam bidang agraria. Agar kedepannya mempunyai target dan bahan untuk evaluasi dari segala progress pembangunan ekonomi domestik.

Peluang Mahasiswa Pada Reforma Agraria         

Reforma agraria merupakan salah satu program prioritas yang dimiliki negara. Reforma agraria sendiri adalah penataan kembali struktur penguasaan dan pemanfaatan tanah yang lebih berkeadilan melalui penataan aset dan disertai dengan penataan akses untuk kemakmuran rakyat.

Di Indonesia, reforma agraria menerima loka balik pada ruang-ruang kebijakan dan akademis seiring menggunakan kepedulian yang menguat atas kemiskinan dan ketidakadilan agraria yang kronis, plus kerusakan lingkungan parah pada pedesaan; keterlibatan dalam kegiatan gerakan-gerakan masyarakat pedesaan, terutama kampanye buat perubahan kebijakan agraria; juga lahirnya arah baru kebijakan agraria pemerintah, termasuk kebijakan baru Reforma Agraria menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tidak ketinggalan juga, adanya resonansi menurut kebangkitan karya-karya studi agraria menurut aneka macam negeri yang dari menurut kalangan universitas, gerakan sosial & ornop, juga badan-badan pembangunan internasional.

Menilik deduksi dari indikator Mahasiswa, ekonomi dan reforma agraria tentunya hal demikian memiliki garis korelasi yang masih bisa disambungkan dengan garis-garis yang jauh. Walau demikian, kata jauh bukan berarti tidak bisa dituju, tentu ada celah agar indikator-indikator tersebut dapat dipadu dan dikombinasikan menjadi suatu pokok yang mempunyai interest yang bisa menjadi sorotan progress dalam satu-kesatuan. Mahasiswa merupakan pemuda yang mana salah satu bagian dari aset vital negeri. Yang telah diketahui bahwa peran dan fungsi mahasiswa salah satunya ialah sebagai agent of change dan iron stock. Berlandaskan hal itu, maka mahasiswa seharusnya mempunyai sense untuk peka dalam memiliki kendali andil untuk menggerakkan pembangunan dan perubahan. Keberhasilan dan pembangunan mahasiswa atau pemuda terutama dalam mengkonstruksikan Sumber Daya Manusia (SDM)  yang berkualitas dan berkompetensi, serta memiliki keunggulan  daya saing menjadi salah satu kunci untuk membuka peluang dan kemajuan di sektor pembangunan, salah satu diantaranya adalah membangun ekonomi nasional.

Jangan lupakan seruan dari Bung Karno, Presiden pertama Indonesia pernah berujar: “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Esensi para pemuda semestinya tidak hanya sekedar bereksistensi, dan membagun citra semata, melainkan juga dapat membangun reputasi dan sumbangsih bagi negeri. Selain sebagai harapan bangsa, para mahasiswa dan pemuda bahwasanya adalah salah satu pilar yang memiliki peran besar dan juga peran sentral sebagai penyambung hidup negeri nantinya. Memiliki banyak para pemuda yang berbasis mahasiswa  di Indonesia, untuk itulah seharusnya mereka perlu mengembangkan potensi diri sehingga keberadaanya sungguh bisa dirasakan oleh bangsa Indonesia, tidak hanya dari segi kuantitas melainkan kualitas.

Reforma agraria juga merupakan suatu kontribusi dari segenap elemen bangsa termasuk untuk para mahasiswa dan pemuda untuk menanggapi problematika dalam mewujudkan harmonisasi dalam penataan ruang dan upaya penanganan masalah agraria atau pertanahan dan masalah pemanfaatan tanah dan ruang.

Kebutuhan untuk dilaksanakannya landreform didasarkan pada adanya bentuk-bentuk kepemilikan tanah yang membatasi akses, seiring dengan kondisi-kondisi timpang yang mengatur sistem penguasaan tanah. Relasi-relasi itu menjadi kontraproduktif ketika gagal memenuhi tuntutan efisiensi produktif dan norma-norma keadilan distributif dalam masyarakat sekarang. Tujuan-tujuan efisiensi produktif secara integral memang terkait dengan persoalan pemerataan ketika ditinjau dengan menggunakan perspektif yang tepat mengenai pembangunan. Hal itulah yang terjadi di beberapa negara berkembang berpenduduk padat yang ingin melakukan transformasi perekonomian dan masyarakatnya secara cepat dan terencana.

Upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan alternatif dari mahasiswa melalui pembentukan ekowisata merupakan salah satu alternatif strategi dalam penghidupan nelayan. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat terwujud ketika minimnya partisipasi masyarakat yang ingin berkunjung. Kunjungan wisatawan menjadi hal penting dalam keberlanjutan ekowisata tersebut. Maka hal tersebut perlunya langkah strategis untuk mengajak masyarakat luas untuk peduli terhadap kerusakan lingkungan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga keberlangsungan ekowisata yang telah dibentuk dengan pemanfaatan teknologi informasi dengan mempublikasikan kegiatan agar masyarakat tertarik untuk berkunjung. Kelompok ini menggunakan media sosial yang ada seperti facebook, blog, instagram untuk mengkampanyekan pelestarian sumber daya alam negeri. (*)

*Penulis adalah Koordinator Kelompok 4 KKN MIT DR 13 UIN Walisongo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.