Jumat, 04/07/2014 14:37 WIB | Dibaca: 2987 kali

Akademisi Pegiat Perdamaian: Stop Kampanye Hitam Dalam Pilpres 2014


Ilustrasi. Foto: Istimewa

YOGYAKARTA- Perkembangan perilaku intoleransi di Indonesia sejak lima tahun terakhir terus meningkat. Memasuki tahun 2013 disinyalir penuh rapor merah dalam hal kehidupan beragama.

Hal itu disampikan para akademisi dan pegiat perdamaian Yogyakarta dalam press release yang diterima jogjakartanews.com, Jumat (04/06/2014), siang.

Beberapa tokoh yang terhimpun dalam Akademisi dan Pegiat Perdamaian DIY (APP-DIY), antara lain Prof. Abdul Munir Mulkhan DR. Inayah Rohmaniyah (UIN Sunan Kalijaga) Masroer, S.Ag., M.Si. (UIN Sunan Kalijaga) HairusSalim, HS, M.Hum. (Yayasan LKiS Yogyakarta) Suhadi Cholil, Ph.D (CRCS UGM) Sri Roviana, MA (UIN Sunan Kalijaga) Firly Annisa, MA. (FISIP UMY) Subkhi Ridho, M.Hum (LSIP) Pedro Indharto (Our Indonesia).

Menurut APP-DIY, sejumlah survey memberikan rapor merah atas kebebasan beragama khususnya terkait kaum minoritas seperti Jemaah Ahmadiyah, Jamaah Syiah Indonesia, minoritas Kristen di daerah tertentu, sampai minoritas penghayat kepada Tuhan yang Maha Esa.

Berdasar laporan tahunan kebebasan beragama dan berkeyakinan The Wahid Institute 2013 menyatakan bahwa selama Januari sampai Desember 2013, jumlah pelanggaran atau intoleransi keyakinan beragama berjumlah 245 peristiwa. Terdiri dari 106 peristiwa (43%) yang melibatkan aktor negara dan 139 peristiwa (57%) oleh aktor non-negara.

Sementara total jumlah tindakan kekerasandan intoleransi mencapai 280, dimana 121 tindakan (43%) dilakukan aktor negara dan 159 tindakan (57%) oleh aktor non negara. (The Wahid Institute Januari 2014).

"Kita tidak berharap pada tahun 2014 ini kehidupan keagamaan Indonesia mendapatkan rapor merah karena umat beragama yang beragam saling membenci, melakukan teror serta melakukan tindak kekerasan yang disebabkan oleh para pendidik dan absennya aparat Negara. Semua tindakan kebencian, teror dan perusakan harus mendapatkan perhatian serius dari aparat Negara yang dinilai oleh publik lemah bahkan sebagai failed state, sehingga publik tidak mendapatkan kepuasan atas pelayanan yang dilakukan selama ini. Semoga Tahun 2014 ini dan lima tahun mendatang menjadi tahun yang lebih baik untuk kehidupan keagamaan di Indonesia," demikian pernyataan APP-DIY dalam siaran pers.

Kita tahu umat Islam adalah mayoritas mencapai 88,18 % dari total penduduk Indonesia 237.641.326 (BPS, 2010). Secara berurutan penganut Kristen : 16,5 juta/6,96%; 6,9 juta/2,4 % Katolik; 4 jt/1,69% Hindu; 1,7 jt/0,72% Budha, 0,11 jt/0,05% Konghucu dan lainnya 0,13 % ( Sekarang diperkirakan mencapai 240 juta, dengan etnis Jawa paling dominan 207 juta).

"Meski umat Islam dominan, tetapi tidak berarti umat lain tidak penting artinya di Indonesia, sebab makna keragaman (multi agama dan multi etnis) inilah yang membuat Indonesia itu kaya dan seharusnya hebat," demikian tegas APP DIY.

Terkaut keidupan demokrasi di Indonesia saat ini, dimana masyarakat tengah menunggu Pilpres 9 Juli 2014, potensi intoleransi kembali menyeruak. Masyarakat hari ini mendapatkan berbagai bentuk kampanye hitam, yang dilakukan lawan-lawan politik seperti isu SARA yang dimunculkan, isu rasial, isu sang pecundang dan seterusnya.

Ada yang keliru dengan bangsa ini dalam berdemokrasi tatkala melegalkan kampanye hitam untuk memenangkan kandidat presiden di Pilpres 2014. Kejahatan politik yang muncul ini harus direspon secara bijak oleh masyarakat. Diharapkan masyarakat tidak turut melanggengkan kampanye hitam namun justru melakukan penyadaran kepada public untuk tidak menyebarluaskan kampanye hitam yang merupakan fitnah kepada kandidat capres dan cawapres.

Begitu pun dengan aparatur negara juga harus melakukan tindakan tegas melalui hukum untuk memproses para pelaku kampanye hitam yang merupakan kejahatan politik. Para tim sukses capres-cawapres mesti berkampanye dengan beradab, beretika, santun, sopan dan mengapresiasi lawan politik, bukan saling menjatuhkan dengan fitnah berbasis isu SARA. (yud)

Redaktur: Rudi F

 


 



Terpopuler


Baca Juga