Rabu, 19/07/2017 16:51 WIB | Dibaca: 330 kali

Anies: Bukan Kebhinnekaan, tapi Persatuan yang Harus Diperjuangkan


Anies Baswedan bersama tokoh KAHMI DIY. Foto: Alex M. Roer

Anies: Bukan Kebhinnekaan, tapi Persatuan yang Harus Diperjuangkan

YOGYAKARTA – Jargon memperjuangkan kebhinnekaan yang saat ini marak diwacanakan dinilai cukup aneh oleh Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) terpilih, Anies Rasyid Baswedan. Menurutnya, persoalan Jakarta atau bahkan Nasional, bukan karena ada yang salah dengan kebhinekaan kita.

Hal itu diungkapkan Anies saat mengisi kuliah kebangsaan dalam acara silaturahmi dan halal bi halal Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (19/07/2017) siang, di pendopo kompleks Balai Kota Yogyakarta.

“Memamng agak aneh jika memperjuangkan kebhinnekaan. Sebab kebhinnekaan itu fakta. Ada Jawa, Sunda dan sebagainya. Sehingga menurut saya yang perlu diperjuangkan saat ini adalah persatuan dalam kebhinekaan,” kata Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Dijelaskan Anies, persoalan di DKI hingga saat ini adalah adanya ketimpangan sosial.

“Sulit sekali membangun saling menghormati, saling membantu dalam suasana ketimpangan yang luar biasa. Karenanya PR (Pekerjaan Rumah, red)  kita adalah bagaimana mengatasi kemiskinan yang ekstrim” tandasnya.

Menurutnya, di era digital, dimana Media Sosial (Medsos) sangat mempengaruhi opini publik, masyarakat menengah lebih suka menyaksikan perubahan. Namun, kata dia, mereka tidak merasakan perubahan. Apa yang tersaji di dunia virtual itu, menurutnya belum tentu sesuai kenyataan.

“Beda antara menyaksikan dan merasakan. Misalnya kita senang melihat foto kali (sungai, red) bersih yang diunggah di media sosial. Tapi coba berhenti mengetik (di medsos, red), pesen ojek untuk diatar ke pinggir kali yang kumuh. Tiga jam saja di sana. Lalu lihat tulisan anda sebelumnya, pasti akan sangat berbeda dengan kenyataan,” beber mantan Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Kerja Jilid I ini.

Namun demikian, Anies menganggap persoalan Jakarta bukan kesalahan gubernur atau pemimpin jakarta sebelumnya. Akan tetapi, kata dia, karena masyarakat menengah dan terdidik yang mengabaikan masyarakat pinggiran yang hidup dalam kemiskinan.

“Ini bukan salah pak Foke, Bukan salah Pak Jokowi, Bukan salah pak Ahok, ini karena kita juga melakukan pembiaran,” tukasnya.

Oleh karenanya Anies yang akan resmi dilantik sebagai Gubernur dengan Wakil Sandiaga S Uno pada Oktober mendatang bertekad akan memenuhi janji-janji kampanyenya, terutama program Oce Oke yang akan berfokus mengentaskan kemiskinan dengan penyediaan lapangan kerja dan menciptakan wirausahawan baru di DKI.

“Dulu niat saya memang jadi sukur, tidak jadi ya sukur. Tapi setelah melakukan perjalanan di kampung-kampung kumuh itu, saya merasa harus menang. Mudah-mudahan ke depan saya bisa mengemban amanah untuk menyelesaikan PR Jakarta,” ungkapnya.

Sekadar informasi, Acara halal Bihalal KAHMI bertemakan “Halal Bi Halal Untuk Perubahan Karakter Bangsa” dihadiri Tokoh-Tokoh DIY, ratusan anggota KAHMI DIY, Perwakilan HMI Cabang Yogyakarta, Cabang Bulaksumur, dan Cabang Sleman. Sebelumnya dalam acara diisi Kultum oleh  Drs. KH. Sunardi Sahuri, sambutan oleh Ketua Presidium KAHMI DIY, Dr. Khamim Zarkasih Putro. Kemudian sambutan dari Mantan Presidium KAHMI DIY Dr. Zoelkifli Halim, dan Prof. Dr. Mashuri. Acara diakhiri dengan salam-salaman diiringi shalawat Nabi dan ditutup doa oleh Prof. Dr. Rakhmat Wahab, mantan rektor Universitas Negeri Yogyakarta . (kt1)

Redaktur: Ja’faruddin AS

 

 

 


 





Baca Juga