Rabu, 01/11/2017 01:50 WIB | Dibaca: 1844 kali

Ini Radikalisme yang Benar Menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga


Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Yudian Wahyudi bersama Mendagri, Tjahyo Kumolo. Foto: Ja'faruddin.AS

YOGYAKARTA – Paham radikal yang menjurus kepada merubah Pancasila sebagai falsafah Bangsa Indonesia adalah sebuah kekeliruan besar. Sebab, Pancasila adalah anugrah Tuhan untuk bangsa Indonesia sekaligus keajaiban dunia.

Hal itu diungkapkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, P.hD saat memberi sambutan dalam seminar nasional dan bedah buku yang diselenggarakan Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Gedung Prof. RHA. Sunaryo Lt.1 UIN Sunan Kalijaga, Selasa (31/10/2017).

“Di negeri-negeri muslim sendiri seperti di Timur Tengah, persatuan masih menjadi masalah, karena tidak punya pemersatu seperti Pancasila. Bahkan di seluruh dunia tidak ada yang bisa menyatukan berbagai suku bangsa seperti Pancasila,” tutur Prof. Yudian yang dalam seminar dipanelkan dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahyo Kumolo.

Prof. Yudian mengatakan, radikalisme pemuda yang benar pernah terjadi dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu seperti yang dilakukan para pemuda ketika mendorong founding father bangsa Indonesia, Soekarno - Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan,

“Pengalaman sejarah membuktikan, pada 14 Agustus 45, Jepang menyerah kepada sekutu. Bung Karno dan Bung Hatta masih ragu untuk proklamasi kemerdekaan. Lalu datang kelompok radikal dalam arti yang benar, Sukarni dan kawan-kawan menculik Bung Karno dan Bung Hatta, dibawa ke Rengas Dengklok, kira-kira bahasanya begini; ‘Bung kalau kalian tidak berani, masih percaya sama Jepang yang akan memberikan kemerdekaan, kami yang akan proklamasi’. Akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta dengan arif dan bijaksana mendengarkan kepada kaum radikal yang benar itu, maka diproklamasikan kemerdkaan Indonesia,” ungkapnya

Dijelaskan Rektor UIN Sunan Kalijaga, sekarang Indonesia sudah menjadi bangsa yang menyatu dengan bahasanya yang bermacam-macam, suku yang berbeda-beda. Semua itu menurutnya tak lepas dari peran pemuda, momentum yang paling monumental adalah deklarasi kebangsaan dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Namun Prof Yudian menengarai semangat dan nilai-nilai Sumpah Pemuda pada kenyataannya memang masih jauh dari yang diharapkan.

“Justru sekarang muncul fenomena tumbuh suburnya gerakan-gerakan pemuda yang menyuarakan penolakan terhadap Pancasila. Ironisnya fenomena ini justru dilakukan oleh kelompok-kelompok keagamaan dan politik yang masuk dalam dunia pendidikan tinggi, hingga menyebar di tengah masyarakat,” ucapnya.

Suara-suara negatif tersebut menurut Prof Yudian kontraproduktif dengan semangat dan nilai-nilai persatuan nasional yang dideklarasikan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Selain itu, kata dia, juga akan memperlemah identitas nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah menjadi konsensus bersama, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

Masih menurut Prof. Yudian, dalam konteks kekinian di mana situasi dan kondisi Indonesia tengah dihadapkan pada dampak perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi yang pesat, semangat Sumpah Pemuda kian menemukan relevansi dan solusinya untuk dibangkitkan kembali dalam upaya menguatkan ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI.

“Untuk itu, semangat Sumpah Pemuda pada saat ini tentunya adalah bagaimana para pemuda dapat bangkit kembali dan terlibat dengan menguatkan kapasitas intelektual, moral dan spiritualnya, serta didukung kemampuan sumber daya yang unggul, sehingga diharapkan mereka dapat menghantarkan bangsa dan negara dalam mencapai kejayaannya di tengah persaingan global yang makin keras dan tidak menentu,” harap Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, P.hD.

Sekadar informasi,  dalam seminar Nasional Bela Negara dan Kebangkitan Pemuda, menghadirkan Key Note Speaker Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahyo Kumolo. Selain itu ada sederet  pembicara yang berkompeten  antara lain, Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga),  Drs. H. Sri Purnomo, M.SI (Bupati Sleman) dan H. Agung Supriyanto, SH. (Kepala Kesbangpol DIY) dan Drs. Sukamto (Kepala Kesbang Kota Yogyakarta). Sedangkan untuk bedah buku 'Negara Khilafah Versus Negara Kesatuan RI' karya Dr. Sri Yunanto, M.Si., menghadirkan dua pembanding yang kompeten yaitu Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga) dan Dr. Ir. H. Helmi Faishal Zaini (Sekjen PBNU).

Dalam acara tersebut PSPBN UIN Sunan Kalijaga sebagai penyelenggara menggandeng Dewan Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga.(rd)

Redaktur: Ja’faruddin AS

 


 



Terpopuler


Baca Juga