Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga Gelar FGD dengan Para Pakar Kebangsaan


Para pakar kebangsaan menjadi pembicara FGD PSPBN UIN Sunan Kalijaga. Foto: Ja'faruddin. AS

YOGYAKARTA – Para Pakar Kebangsaan menghadiri Focused Group Discussion (FGD) yang digelar Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) Universitas Islam Negeri Sunan (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (11/12/2017) siang.

Pakar kebangsan yang hadir sebagai pemateri antara lain, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, P.hD (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Drs. Sugiyanto Harjo Semangun, M.Sc, (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat DIY),  Dr. Budhy Munawar Rakhman, MA (The Asian Foundation), dan Dr. Badrun Alaena, M.Si (Ketua PSPBN UIN Sunan Kalijaga)

Dalam pemaparannya, Prof. Yudian mengatakan, banyak pemahaman yang keliru namun dianggap selaras dengan Pancasila. Misalnya, kata Prof Yudian,  mengatakan bahwa Negara Pancasila bukan negara Agama sekaligus bukan sekuler.

“Yang benar negara Pancasila itu religius sekaligus sekular. Tapi bukan sekularsime. Ini harus dipahami,” tuturnya dalam FGD yang dihadiri anggota PSBN UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Prof Yudian menjelaskan, sila ke 1 Pancasila, ke-Tuhanan yang Maha Esa menegaskan bahwa Indonesia adalah negara Agama, meski bukan satu agama. Sementara sekular, Prof Yudian mencontohkan dengan untuk memutuskan persoalan melalui kesepakatan bersama, karena ada keterlibatan manusia dan hukum alam.

“Jadi agama tidak perlu ditakutkan (merongrong Pancasila), karena justru Pancasila itu menyatukan perbedaan, termasuk perbedaan agama,” tandasnya dalam FGD yang bertemakan Living Pancasila Values: membumikan nilai -nilai Pancasila dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia yang Multikultural.

Sementara Ketua IKAL DIY, Sugiyanto Harjo Semangun mengungkapkan, melunturnya nilai-nilai Pancasila karena masyarakat Indonesia masih kurang contoh tatatanan, tuntunan, dan tontonan yang mendekatkan dengan nilai-nilai Pancasila.

“Di Lemhannas ada istilah tan hana dharma mangrwa, yaitu tidak ada kebenaran yang mendua, kebenaran hanya datang dari Tuhan. Namun ada juga kebenaran yang juga harus diyakini sebagai warga negara, yaitu konsesus founding father (pendiri Bangsa), ialah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan UUD 1945,” tuturnya di hadapan anggota PSBN yang rata-rata professor dan doktor.

Dikatakan Sugiyanto, ketokohan para pendiri bangsa saat ini telah meluntur di kalangan generasi muda karena gempuran modernitas dan budaya global. Oleh karenanya, kata dia, IKAL DIY dalam waktu dekat akan melaunching Buku Jenderal Soedirman The Great Genuine General di Museum Sasmitaloka (Museum Jenderal Soedirman) Yogyakarta dengan mengundang tokoh masyarakat dan perguruan tinggi di DIY.

“Jenderal Soedirman juga bagian founding father. Harapannya dengan di-launchingnya buku Jenderal Soedirman yang lengkap dan detil ini akan mengingatkan akan tatanan, tuntunan, dan tontonan yang pancasilais,” harapnya.

Sugiyanto juga menilai rumusan membumikan nilai-nilai Pancasila dari kalangan intelektual menjadi sesuatu yang penting. Namun demikian menurut dia, semua itu akan sulit dipraktikkan ketika masyarakat jauh dari kesejahteraan,

“Perinsip kepemimpinan dalam Pancasila adalah bahwa semua pemimpin menginginkan rakyatnya sejahtera, oleh karenanya jika masyarakat jauh dari sejahtera maka upaya membumikan Pancasila menjadi sangat berat,” tandas  Sugiyanto yang juga Alumni University Central England, London, Inggris.

Sementara Dr. Budhy Munawar Rakhman, MA dalam pemaparannya lebih menekankan bagaimana menciptakan konsep pendidikan Pancasila yang sesuai dengan konteks kekinian. Menurutnya Asian Foundation bekerjasama dengan sebuah yayasan telah mencetuskan pendidikan Pancasila dengan metode baru,

“Tapi yang terpenting adalah bagaimana menjaga Pancasila agar tetap menjadi ideologi terbuka, dan ini yang tidak ada di zaman orde baru. Pendidikan Pancasila model jaman now ini menjadi penting agar nilai-nilai Pancasila tetap terpelihara dalam kehidupan bangsa Indonesia, terutama generasi muda,” tukasya.

Sementara Badrun Alaena, lebih memaparkan bagaimana upaya PSBN UIN Sunan Kalijaga agar menjadi garda terdepan Pusat Studi Pancasila di Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) yang menjadi mediator membumikan Pancasila.

“Saya sependapat dengan Ketua IKAL (Sugiyanto) bahwa Kesejahteraan adalah penting sebagai sarana membumikan pancasila. Jangan sampai manis dikatakan namun sulit dipraktikkan, namun demikian perlu juga merumuskan butir-butir Pancasila sesuai konteks kekinian, terutama yang relevan dengan PTIN, khususnya UIN Sunan Kalijaga ini,” kata Badrun Alaena. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

 

 

 

 

 

 


 





Baca Juga