Di Bawah Patung Soedirman, IKAL DIY, TNI, Polri dan Seniman Helat Penghormatan Kepada Pahlawan


Teatrikal dalam acara Malam Renungan Penghormatan Kepada Para Pahlawan Republik Indonesia di bawah Patung Jenderal Soedirman Karya Yusman. Foto: Ja'faruddin. AS

YOGYAKARTA – Meski sempat turun hujan, suasana penuh heroik mewarnai Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta, tepatnya di bawah Patung Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman karya Maestro Yusman, Minggu (14/01/2018) malam.  

Kendati bukan peperangan sebenarnya, pertempuran Ambarawa yang digambarkan dalam aksi teatrikal komunitas Djogja ’45 mampu mengawali acara ‘Malam Renungan Penghormatan Kepada Para Pahlawan Republik Indonesia’ dengan penuh semangat perjuangan.

Acara yang diselenggarakan bersama-sama Jogja Gallery, Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAL DIY), Studio Patung Yusman, dan Yayasan Jenderal Soedirman Center tersebut semakin bergelora setelah Ketua IKAL DIY, Sugiyanto Harjo Semangun, M.Si, para petinggi TNI dan Polri, serta para seniman naik panggung untuk membacakan puisi.

Secara bergantian, setelah Sugiyanto membacakan puisi karyanya, dilanjutkan pembacaan puisi oleh Kasi Pers Korem 072/Pmk, Kolonel. Subandi mewakili Danrem 072/Pmk, Brigjen TNI Fajar Setyawan S.I.P. Puisi selanjutnya dibacakan oleh Danlanal Yogyakarta, Kolonel Laut (P) Arya Delano, S.E., M.Pd. Kemudian, puisi dipersembahkan oleh Danlanud Adi Sutjipto, Marsma TNI Ir. Novyan Samyoga, M.M. Kapolda DIY, Brigjen. Pol Ahmad Dofiri, M.Si juga membacakan puisi dalam panggung yang sama.

Selain Ketua IKAL DIY dan para petinggi TNI-Polri, sejumlah seniman juga turut membacakan puisi. Diantaranya, seniman senior Kalisa Yati Angkoro, Sitoresmi, Dr.Novi K Indrastuti, dan Umi Kulsum. Dua Anggota IKAL DIY, Dr.Kamerad Karsono dan Turino juga tampil membacakan puisi di malam renungan tersebut.

Sebagian besar para tokoh dan seniman tersebut membacakan puisi karya penyair legendaris, WS. Rendra.

Selain pembacaan puisi, acara yang dipandu oleh pembawa acara Mas Bekel Supriyanto dan Dharmo Budi Suseno juga dimeriahkan dengan Livy Laurens yang membawakan lagu gubahan Satu Nusa bersama Mas Bekel Supriyanto dan Orkes Keroncong dari IKAL DIY.

Pemrakarsa Kegiatan, KRMT Indro Kimpling Suseno mengatakan, ide acara tersebut muncul seiring dengan momentum terpajangnya patung raksasa Pangsar Soedirman ditandu oleh 14 pasukan tentara dan rakyat Indonesia di masa- masa gerilya Pangsar Soedirman.

“Bukan sekadar patung istimewa karya Yusman semata yang menjadikan insipirasi. Tetapi justeru karena makna terkandung di balik patung yang menggambarkan suasana batin atas perjuangan para pahlawan bangsa  mengorbankan jiwa raga dalam arti sesungguhnya,” ujarnya.

Sementara Ketua IKAL DIY, Sugiyanto H Semangun mengungkapkan, IKAL DIY merasa prihatin dengan kondisi adanya degradasi semangat nasionalisme dan kebangsaan di kalangan generasi bangsa saat ini. Nilai-Nilai kepahlawanan seperti yang dicontohkan oleh Pangsar Jenderal Soedirman perlu digelorakan kembali dengan format yang konteks dengan kondisi kekinian,

“Tuntunan sudah ada, tatanan juga ada, namun tontonan yang barangkali saat ini kurang sekali untuk membangkitkan nasionalisme kebangsaan,” tuturnya usai acara.

Sugiyanto berharap, dengan acara yang diselenggarakan IKAL DIY dari bedah Buku Soedirman: The Great Genuine General dan pameran patung karya Yusman berikut acara-acara yang masih serangkaian dengan kedua acara tersebut, mampu menjadi tontonan yang mampu menggugah spirit generasi bangsa untuk meneladani para pahlawan,

“Acara ini juga melibatkan unsur TNI dan Polri. Sesuai misi IKAL yaitu turut mensejahterakan masyarakat. Kesejahteraan akan tercipta jika ada ketahanan nasional. TNI dan Polri adalah unsur negara yang penting dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI,” tukasnya.

Sementara pematung Yusman mengaku merasa senang karyanya diapresiasi oleh masyarakat Yogyakarta. Menurutnya pameran tunggal yang digelarnya di Alun-Alun Utara Yogyakarta ini adalah pameran pertamanya di Yogyakarta,

“Saya sebagai seniman hanya berkarya, biarkan masyarakat yang menilai. Saya sangat senang karya saya mendapat apresiasi dan bisa menginspirasi masyarakat banyak,” ujar maestro yang karya-karyanya pernah diresmikan oleh enam presiden RI sejak Presiden Soeharto ini.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan menyanyikan lagu ‘Kebyar-Kebyar’ karya Gombloh oleh hadirin. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga