Keponakan Sultan HB X: Jaga Yogyakarta Adem Ayem, Kejadian Babarsari Jangan Dikaitkan SARA


RM.Jefferson Lanang Haryo Prakoso. Foto:ist

YOGYAKARTA – Kejadian bentrok antar dua kelompok massa di Jalan Seturan, Condong Catur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (12/09/2018) siang, mulai viral di media sosial (Medsos).

Namun isu yang beredar di di Medsos tersebut rawan menjadi hoax dan berpotensi menimbulkan sentiment Suku, Antar Golongan, Ras, dan Agama (SARA).

Beredarnya isu di Medsos seolah ada faktor kesukuan warga dari Indonesia Timur, yaitu Papua dan Ambon sehingga menyebabkan keributan, disayangkan oleh kalangan tokoh pemuda DIY, diantaranya Raden Mas (RM). Jefferson Lanang Haryo Prakosa yang juga keponakan dari Sri Sultan HB X.

Sebagai putra dari RM. Acun Hadiwidjojo (KRT Poerbokusumo) yang didaulat warga Papua sebagai Orang Tua, Lanang mengimbau semua pihak untuk tidak memperkeruh suasana,

“Ini saya kira hanya soal salah paham yang kebetulan melibatkan saudara saya dari Papua dan saudara saya dari daerah lain. Yang jelas Kita harus menjaga Kebhinnekaan, jangan munculkan isu-isu berbau SARA. Biarlah Polisi bekerja, saya percaya masalah ini selesai dan mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi, karena kita semua mencintai Yogyakarta. Kita semua tentu saja berkomitmen untuk menjaga  agar Yogyakarta tetap adem ayem,” tuturnya, Rabu (12/09/2018).

Cucu Buyut dari Sri Sultan HB VIII ini mengaku masih memantau perkembangan kejadian. Ia menghimbau kepada saudara-saudaranya warga Papua untuk tenang dan tidak melakukan hal-hal yang membuat suasana bertambah keruh dan meresahkan warga.

Meski belum mengetahui apa penyebab bentrokan yang terjadi di dekat selokan Mataram sekitar Pukul 11.00 Wib, tersebut, namun Lanang berharap Polisi bisa menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak dengan pendekatan yang lebih bijaksana, sehingga tidak timbul masalah serupa,

“Saya kira hanya salah paham dan seharusnya bisa dibicarakan baik-baik antar kedua belah pihak, tentunya dengan mediasi pihak Kepolisian. Jangan sampai persoalan ini melebar menjadi sentiment SARA yang memecah belah bangsa. Kita semua Indonesia, apapun suku dan agamanya kita tetap satu dalam bhinneka tunggal ika,” tegas Lanang.

“Saya juga berharap masyarakat jangan menyebarkan hoax dan mempercayai hoax yang beredar terkait kejadian ini,” harapnya.

Sebelumnya Kapolres Sleman, AKBP M. Firman Lukmanul Hakim mengungkapkan, hal yang menyebabkan kedua kelompok bersinggungan belum jelas. Namun, ia menengarai karena ada kesalahpahaman kedua belah pihak.

Firman menegaskan, jika saat ini situasi di Babarsari sudah aman setelah dilakukan mediasi dengan kedua kelompok yang berasal dari Indonesia Timur itu. Menurutnya, kedua kelompok tersebut sudah dikembalikan ke wisma masing-masing,

“Sudah dilakukan mediasi juga, selain itu tidak ada masyarakat yang terdampak,” kata Firman yang terjun langusung untuk mengamankan situasi. (kt1)

Redaktur: Faisal


 





Baca Juga