Turut Lestarikan Batik, Ketua Persit Kodim Yogyakarta Kunjungi Museum Batik


Ibu Persit Kodim 0734/Yogyakarta mengunjungi museum Batik Jogja. Foto: ist

YOGYAKARTA – Sebagai bentuk perhatian terhadap batik yang merupakan warisan budaya luhur Bangsa Indonesia, Ketua Persit KCK Cab XXXIV Kodim 0734/Yogyakarta, Ny. Bram Pramudia mengunjungi Museum Batik Yogyakarta di Jalan Soetomo No. 13A, Rt 049/ RW 12, Kecamatan Danurejan Yogyakarta, Selasa (18/09/2018).

Menurut Ibu Ketua Persit Kodim Yogyakarta, batik merupakan warisan dan sejarah hasil karya tangan kreatif Indonesia, sehingga merupakan kewajiban bersama untuk melestarikannya. Menurutnya, Sebagai warga Yogyakarta ia bersama rombongan pengurus Persit Kodim Yogyakarta mengunjungi museum batik untuk mengapresiasi sekaligus memperdalam pengetahuan tentang batik yang  pada 2 Oktober 2009 lalu dikukuhkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO di Abu Dhabi.

 “Sambil berwisata ditempat ini kita dapat pelajaran tentang proses membatik, alat dan bahan yang digunakan sampai arti dari motif- motif batik,” ujarnya.

Dalam kunjungannya Ketua Persit Kodim Yogyakarta didampingi pemandu museum , Dina. Menurut Dina, museum Batik Yogyakarta didirikan oleh Swasta dan diresmikan pada 12 Mei 1977 oleh Kanwil P dan K Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Sampai sekarang Museum Batik Yogyakarta ini menyimpan sekra 1.200 koleksi Batik, terdiri dari 500 lembar kain Batik Tulis, 560 Batik Cap, 124 Canting, 35 Wajan dan bahan pewarnaan termasuk malam,” ungkapnya.

Dina menjelaskan, batik yang dipamerkan tidak hanya Batik Yogyakarta, namun juga terdapat Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Banyumas, dan Batik Klaten. Koleksi Batik tertua yang dimiliki museum ini, kata Dina,  adalah batik yang dibuat pada tahun 1840, sedangkan koleksi yang terkenal di museum ini adalah Kain Panjang Soga Jawa(1950-1960), Sarung Isen- isen (1880-1890) buatan EV. Zeuylen dari Pekalongan, dan sarung Soga Lengan Panjang (1920-1930) buatan Ny. Lie djing Kiem dari Yogyakarta sendiri.

“Disini untuk koleksi sulaman, merupakan hasil karya pemilik museum ini sendiri, sulaman itu berbentuk gambar tokoh-tokoh Indonesia seperti Sukarno, Suharto, Megawati, Sultan Hamengku Buwono IX , Pangeran Diponegoro dan masih banyak yamg lainnya. Bagi wisata yang berminat lansung belajar membatik, di Musium ini bisa langsung mencoba belajar membatik sendiri,” kata Dina.

Masih menurut Dina, berbagai Penghargaan Muncul untuk Museum Batik yang pertama kali di Yogyakarta ini. Museum ini, imbuh Dina, beberapa kali memenangkan penghargaan dari MURI,

“Penghargaan yang didapat pertama kali adalah Sulaman Terbesar Batik dengan ukuran 90x400 meter persegi pada tahun 2000. Selanjutnya pada tahun 2001 museum ini juga dapat penghargaan dari MURI sebagai pelopor Museum Sulaman pertama di Indonesia,” imbuh Dina. (kt1)

Redaktur: Fefin Dwi S

 


 



Terpopuler


Baca Juga