Kelas Inspirasi, Inovasi SDN Serayu Yogyakarta dengan Wali Murid Sebagai Guru


Buyung Muhammad Iqbal, S.T, M.Eng saat menjadi guru di Kelas Inspirasi SDN Serayu, Gondokusuman, Yogyakarta. Foto:ist

YOGYAKARTA – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Serayu, Gondokusuman, Yogyakarta menggelar kelas inspirasi, Jumat (02/11/2018). Kelas inspirasi yang dihelat di ruang kelas 4A tersebut diikuti sekira 30 siswa Kelas 4A dan orang tua atau wali murid serta guru. Berbeda dengan kelas biasanya, dalam kelas inspirasi yang menyampaikan materi pelajaran adalah wali murid.

Menurut Wali Kelas 4 A SDN Serayu, Fitri Ardiyanti, kelas inspirasi merupakan inovasi  SDN Serayu sebagai ajang interaksi antara guru, siswa dan wali murid. Kelas inspirasi, kata dia, diinisiasi oleh Guru dan Komite Sekolah SDN Serayu Yogyakarta, sekaligus memberdayakan potensi wali murid,

“Tujuan dari kelas inspirasi adalah untuk memberi inspirasi  serta motivasi belajar kepada siswa dengan  senang dan bahagia, sehingga konsepnya melibatkan orang tua atau wali murid sebagai pemateri di kelas,” tuturnya.

Diinformasikan,  dalam kelas inspirasi dipilih 5 orang wali murid sebagai guru. Kelas akan diadakan selama 5 pekan secara rutin setiap hari Jumat mulai pukul 13.00 hingga 14.00 Wib. Adapun kriteria - kriteria pemateri adalah wali murid yang memiliki kompetensi sesuai profesi atau bidang keahlian seperti psikolog, dokter, TNI- POLRI, ASN dan sebagainya.

Dalam kelas inspirasi hari ini dihadirkan pembicara antara lain, Buyung Muhammad Iqbal, S.T, M.Eng

(Subbagian Umum dan Unit Layanan Pengadaan / Unit Kerja Pengelola Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ) Kanwil Kemenag DIY), dan Ningnurani (mahasiswi fakultas psikologi UP 45 angkatan 2016).

Dalam kesempatan tersebut Buyung mengatakan, siswa Kelas 4 A SDN Serayu adalah anak-anak yang cerdas dan bersekolah di SD Favorit di Yogyakarta, sehingga kecerdasan itu perlu ditingkatkan dengan mengamalkan ajaran agama. Ia memotivasi agar siswa disiplin dalam beribadah, gemar menabung, taat kepada orang tua dan guru,

“Menabung itu salah satu motode untuk melatih anak-anak disiplin, hemat, dan bisa memanaj (mengatur) keuangan. Ketika ingin beli alat sekolah misalnya menggunakan uang tabungan, kalau kurang baru meminta tambahan dana ke orang tua. Nah cara meminta biaya ke orang tua juga ada adabnya, ada tata kramanya, kira-kira begitu,” kata ayah dari siswa kelas 4A, Aisyah Rahma Nurwindina (Windi).  

Dijelaskan Buyung, anak-anak juga perlu diberi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat sarana dan prasaran belajar siswa, baik milik sendiri maupun yang disedikan sekolah. Salain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi atau hubungan baik antara orang tua dengan siswa dan guru, tenaga pengelola di sekolah, dan antar teman siswa,

“Perlu terus dipupuk sikap saling menghargai, menyayangi teman, guru, dan sekolah, termasuk menjaga sarana dan prasarana yang ada. Anak-anak harus terus dipupuk semangatnya untuk meraih prestasi sesuai jerih payah orang tua dan guru,” imbuh Buyung yang dalam kesempatan tersebut juga memberikan materi pengenalan alat tulis  dan sarana penyimpan hasil belajar beserta hasil karya siswa.

Sementara itu Ningnurani  menjelaskan tentang apa itu bullying dan bagaimana pelaku dan korban bullying ditinjau dari ilmu psikologi. Menurutnya akibat bullying  anak bisa menjadi tidak percaya diri. Banyak cirinya, seperti tidakmau sekolah dan menarik diri dari pergaulan sosial. Untuk mengatasinya maka orang tua dan guru harus peka dengan perubahan sikap pada anak. Membesarkan hati serta memberikan motivasi yang positif, misalnya tidak membalas keburukan dengan keburukan salah satu cara mengatasinya.

Selain itu, Ningnurani juga memberikan motivasi kepada peserta kelas inspirasi untuk terus berinovasi apapun dan bagaimanapun kondisi lingkungan yang ada,

“Karena perubahan dan inovasi itu selalu dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang terbaik. Berinovasi itu hanya bisa dilakukan ketika kita ingin berubah,” ujarnya.

Dijelaskan Ningnurani, perubahan itu bisa terwujud  apabila ada kemauan dari kita untuk bergerak dan meninggalkan zona aman serta nyaman kita. Menurutnya, merasa aman dan nyaman apabila seseorang sudah merasa puas dengan hasil, rutinitas, dan lingkungan yang selalu sesuai dengan ekspektasi. Akan tetapi, kata dia, adalah pribadi hebat dan bermental sehat yang mampu menerima tantangan sehingga berani menantang diri sendiri sampai sejauh mana limit diri yang bisa dilakukan.

“Bukan suatu halangan dan rintangan ketika lingkungan, teman dan bahkan kondisi yang tidak bersahabat itu menjadi faktor penghambat. Inovasi justru lahir dari jiwa-jiwa yang selalu menghadapi hal-hal yang tidak berjalan beriringan dengan pemikiran ataupun keinginan. Karena suatu perubahan itu memang akan berbeda dari yang biasanya,” pungkasnya. (kt 1)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

 

Berita Terkait

 





Baca Juga