Selasa, 26/02/2019 09:00 WIB | Dibaca: 361 kali

Peduli Gizi Anak, PG Jalasenastri Kolinlamil Kampanyekan Anti Stunting


Ceramah stunting oleh Prof. Dr. Hardinsyah dalam gebyar Posyandu di Komplek Dewa Ruci, Jakarta Utara. Foto: Ist

JAKARTA -  Ketua Pengurus Gabungan Jalasenastri Kolinlamil Ny. Yayuk Heru Kusmanto beserta pengurus menghadiri gebyar Posyandu di Posyandu Gurami Komplek Dewa Ruci, Jakarta Utara, Senin (25/02/2018).

Kegiatan gebyar posyandu yang diisi dengan pemberian imunisasi dan vitamin A kepada balita warga Komplek Dewa Ruci dan juga ceramah kesehatan tentang stunting.

Ceramah stunting oleh Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, M.S. Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, dan Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor ini dihadiri sekitar 90 orang diantaranya kader posyandu dibawah binaan PG Jalasenastri Kolinlamil.

Banyak Masyarakat awam yang belum faham dengan definisi stunting. Stunting adalah kondisi dimana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan pertumbuhannya tidak sesuai dengan anak-anak seusianya. Banyak yang tidak mengetahui bila anak mengalami gangguan dalam hal pertumbuhan hanya dianggap sebagai bawaan genetika, padahal lebih jauh dari itu, apalagi jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Kondisi ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 20% kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan gizi ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Dalam ceramahnya, Prof Dr. Ir. H. Hardinsyah, M.S. meminta seluruh keluarga khususnya keluarga besar Kolinlamil untuk sama-sama bergerak melawan stunting. “Pencegahan terjadinya Stunting bisa dimulai dari memperkuat pertahanan keluarga. Periode rawan terjadinya stunting terjadi saat ibu-ibu hamil dan anak-anak yang baru berusia dua tahun. Oleh sebab itu, ia meminta kepada seluruh keluarga di Indonesia agar memperhatikan gizi,” jelasnya.

Usai kampanye Stunting Ketua Pengurus Gabungan Jalasenastri Kolinlamil menjelaskan kepada anggota Jalasenastri yang ikut hadir, bahwa selain pertumbuhan yang terhambat, Stunting juga dapat dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang serta prestasi sekolah yang buruk sehingga Stunting merupakan hal penting untuk dicegah.

“Jangan biarkan masa depan anak bangsa terancam karena Stunting, oleh karenanya mari kita berperan aktif  melakukan aksi nyata untuk mencegah dan menanggulangi Stunting agar anak kita bisa tumbuh sehat dan berprestasi. Karena Pengawasan mengenai pentingnya gizi harus dimulai dari keluarga,” ungkap Ny. Yayuk Heru Kusmanto. (pr)

Sumber: Dinas Penerangan Kolinlamil.


 





Baca Juga