Jumat, 08/11/2019 22:14 WIB | Dibaca: 1572 kali

Membantu Anak Usia Dini Mengelola Emosi


Silfiana Nur Indah Sari

Oleh: Silfiana Nur Indah Sari*

Pada dasarnya setiap orang tua menginginkan masa depan anak-anaknya yang gemilang. Mereka berharap agar anak-anaknya bisa menjadi orang yang sukses berguna bagi nusa, bangsa, dan agama, berhasil dalam karir, menjadi manusia yang shaleh, berilmu, dan bertakwa. Oleh karena itulah, para orang tua sangat berperan dan bertanggung jawab atas keberhasilan putra-putrinya, dalam hal mendidik dan menciptakan lingkungan yang dapat  menstimulus segenap kemampuan atau potensi putra-putrinya agar dapat berkembang secara optimal. Lingkungan dalam pengertian di sini menurut Shore dalam Arce yaitu, sebelum anak lahir, saat pembentukan otak anak terjadi di dalam kandungan.

Berdasarkan penelitian di bidang neurologi yang dilakukan oleh Baylor College of Medicine membuktikan apabila anak jarang memperoleh rangsangan pendidikan, maka perkembangan otaknya lebih kecil 20-30% dari ukuran normal anak seusianya. Penelitian juga menyatakan bahwa 50% kapasitas kecerdasan manusia sudah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% terjadi ketika berumur 8 tahun. Oleh karena itu sebisa mungkin pendidikan bagi anak dilakukan sedini mungkin. Pada tahun 1983 seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS bernama Prof. Dr. Howard Gardner mengemukakan teori Multiple Intelligences (kecerdasan ganda/majemuk). Macam-macam kecerdasan ini meliputi, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan naturalis, kecerdasan musical, kecerdasan logika matematika, kecerdasan eksistensial, kecerdasan interpersonal, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan linguistic, dan kecerdasan intrapersonal. Kemudian dari kecerdasan-kecerdasan tersebut dipilah menjadi kecerdasan intelektual atau biasa disebut kognitif, dan kecerdasan non intelektual misal kecerdasan emosional.

Dewasa ini orang tua selalu menomer satukan kecerdasan kognitif atau IQ sebagai patokan kesuksesan si anak dibidang akademik yang nantinya diharapkan dapat mempermudah ia melanjutkan di sekolah favorit hingga mudah mendapatkan pekerjaan. Ketika anak mendapatkan nilai jelek dibidang akademiknya atau ketika si anak tidak naik kelas, ia akan mendapatkan cap dari keluarga, teman, lingkungan, sebagai anak yang bodoh karena tidak berhasil dibidang akademiknya. Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya. Kecerdasan IQ atau yang sering dianggap sebagai kecerdasan akademik berkontribusi sebesar 20%. Sedangkan, sisanya 80% dipegang kecerdasan emosional.

Tidak ada yang salah mengenai kecerdasan. Namun, bagaimana agar kecerdasan tersebut bisa seimbang dalam pelaksanaannya. Kecerdasan atau angka IQ yang tinggi bukan merupakan satu-satunya faktor bagi kesuksesan seseorang di masa depan. Ada faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, yaitu kecerdasan emosional. Ada beberapa ahli mengatakan bahwa generasi sekarang cenderung mengalami banyak kesulitan emosional, seperti mudah merasa kesepian dan pemurung, mudah cemas, mudah bertindak agresif, tidak menghargai sopan santun, dan lain-lain. Hal ini bisa menjadikan si anak akan merugi, walaupun dia menjadi paling pintar di kelas. Sehingga solusi yang sebenarnya sudah ada di depan mata, malah lewat begitu saja karena ia terlalu larut dalam kesedihan alias kurang pandai mengatur emosinya. Seseorang dengan IQ yang biasa, tetapi pandai dalam mengelola emosinya akan lebih mudah mencapai kesuksesan dalam belajar dan bekerja. Karena keseimbangan emosi berguna untuk memperkuat diri dan mengubah situasi kehidupan yang tidak menyenangkan menjadi sesuatu yang wajar untuk dihadapi.

Sebagai orang tua harus mempelajari mengenai tipe respon orang tua terhadap emosi anak. Seperti mengabaikan meremehkan emosi negative anak, membuat si anak kesulitan membedakan emosi yang negative maupun positif, karena orang tua tidak memberi arahan yang tepat kepada si anak. Laizees orang tua laizees menerima emosi anak, sayangnya, mereka tidak mengarahkan dan tidak memberi batasan-batasan untuk tiap laku emosinya. Pembimbing emosi ketika orang tua melihat emosi negative dari anaknya, ia menganggap itu sebagai kesempatan untuk mengenal anaknya secara lebih dekat. Orang tua dengan tipe ini tidak hanya berempati terhadap anaknya seperti tipe laizees. Melainkan, tergerak untuk membimbing anak-anak dalam mengelola emosi. Sehingga, anak-anak menjadi paham terhadap rasa kecewa, marah, kesal, sedih, bahagia, semangat dan mampu menggerakkan rasa-rasa itu untuk mengatasi masalah.

Prinsip melatih emosi anak, pertama menyadari emosi anak mengenai prinsip ini coabalah orang tua mengenali emosinya sendiri, setiap kali mendengarkan ucapan orang lain yang menyebalkan, melakukan sesuatu yang menyenangkan, perhatikan emosi-emosi negative dan positif tersebut. dengan cara ini orang tua akan menjadi lebih peka terhadap emosi anak, lebih mudah mengidentifikasi emosi anak dan membantu si anak mengelola emosi tersebut. mengakui emosi anak orang tua harus terus belajar untuk menjadi orang tua yang peka terhadap perasaan-perasaan yang ditunjukkan oleh anak. Kemudian, menerima emosi anak baik yang negative atau positif. Kadang menjadi orangtua merasa jengkel jika anak menunjukkan emosi negative. Bahkan, kejengkelan itu berubah menjadi marah yang berlebihan. Hal ini di masa depan akan membuat anak takut memperlihatkan emosinya. Seharusnya, sebagai orang menerima emosi tersebut dan memanfaatkannya sebagai sarana untuk membangun kedekatan. Mendengarkan emosi anak jangan hanya mendengarkan dengan telinga mengenai apa yang dikatakan si anak. Lakukan kontak mata untuk melihat ke dalam hatinya dan bahasa tubuhnya untuk menemukan petunjuk dari fisiknya. Karena bahasa tubuh itu berkata lebih keras dan lebih jujur ketimbang kata-kata yang keluar dari mulut si anak. Membantu anak mengenal emosi ada banyak sekali nama emosi yang perlu dikenal. Mulai dari tegang, cemas, senang, sedih, marah, semnagat, dan lain-lain. Untuk membuatnya mengerti mengenai emosi-emosi tersebut cara paling mudah mengajarinya langsung bertanyaq saat anak mengalami emosi tersebut, contohnya ketika anak marah karena mainannya dipakai kakak, katakana padanya, adik marah ya karena kakak pinjam mainan ngga ijin dulu?. Dan yang terakhir membantu anak mengelola emosi baru ditahap ini orang tua bisa membantu anak untuk mengelola emosi negative agar tidak mengganggu aktivitasnya secara berlebihan. Atau memanfaatkan emosi positif untuk bisa produktif dalam belajar.

Kecerdasan emosional dapat dilatih pada anak-anak usia dini. Salah satu misalnya dengan mengajarkannya control diri, anak harus belajar bersabar karena tidak semua keinginannya bisa terpenuhi seketika, contohnya, ketika si ibu atau bapak mengajak si anak pergi ke mall. Sebelum berangkat, tegaskan kepada si anak bahwa tujuannya adalah hanya membeli kebutuhan sekolah. Tidak lebih. Namun, apabila di mall ia menangis dan minta dibelikan mainan, ingatkan kembali tujuan sebelum ke mall. Jika menangis atau bahkan berteriak-teriak, jangan panik dan malu. Tetap tenang dan segera membawa si anak pulang ke rumah meskipun belum selesai belanja. salah satu contoh di atas yang kebanyakan orang tua abaikan karena dianggap sepele dan tidak dianggap dalam pengelolaan emosi yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosional si anak. Menggambar perasaan, mengenalkan anak pada macam-macam emosi adalah mengajaknya menggambar emosi, seperti menggambarkan perasaan semangat untuk warna merah. Warna hitam untuk menggambarkan kesedihan. Warna biru untuk menggambarkan perasaan tenang dan nyaman. Selanjutnya melatih untuk mengajarkan motivasi diri, semua orang tua pasti ingin melihat anaknya tangguh dalam menghadapi masalah dan tidak mudah menangis manja meminta bantuan orang tua. Saat anak terjatuh, katakana padanya, Ayo nak berdiri lagi. Kamu pasti bisa! Jangan untuk segera menolongnya, karena hal tersebut bisa menjadikan si anak merasa orang tua akan selalu menolongnya, ajarkan pula si anak mengenai tanggung jawab. Pola asuh yang selalu melayani kebutuhan anak tidak akan membuatnya paham tentang konsep tanggung jawab terhadap diri sendiri, sekecil apapun masalah yang dihadapi hindari untuk menolong anak dengan cuma-cuma. Dan dengan cara menunjukkan contoh nyata ketika orang tua sedang kesal terhadap seseorang, orang tua tidak perlu menyembunyikan hal tersebut kepada si anak. Katakana saja nak, sejujurnya ibu lagi kesal. Tapi, ibu berusaha tenang dan tidak marah. Perlihatkan juga kekesalan orang tua melalui mimic wajah dan bahasa tubuh, karena anak usia dini mereka memahami sesuatu. Tetapi, mereka belum mengetahui bagaimana cara menyampaikannya, oleh karena itu, orang tua harus mengajarkan hal-hal sederhana untuk si anak bisa mengekspresikan apa yang ia alami.

Jadi, kecerdasan emosi bukan lagi menjadi kecerdasan yang diabaikan. Justru, ialah kecerdasan utama yang harus orang tua ajarkan kepada anak-anak. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo

 

Berita Terkait

 



Terpopuler


Baca Juga