Enggan Disebut Pahlawan, Kodir yang Selamatkan Puluhan Siswa SMP N 1 Turi Saat Terseret Banjir, Sempat Sembunyi


Sudarwanto alias Kodir, pria pemberani yang berhasil menyelamatkan puluhan siswa SMP N1 Turi yang terseret banjir di Sungai Sempor. Foto: Ja'faruddin. AS

SLEMAN – Di balik tragedi Sungai Sempor yang menghanyutkan ratusan siswa SMPN 1 Turi, Sleman, dan menewaskan 10 diantaranya, Jumat (22/02/2020) yang lalu, ternyata menyisakan kisah heroik. Ada sosok yang dinilai publik sangat berjasa menyelamatkan puluhan siswa dari terjangan banjir saat tengah melaksanakan kegiatan Pramuka susur sungai tersebut.

Dialah Sudarwanto, alias Kodir. Pria 37 tahun yang tinggal di Dusun  Wetan Kali RT 09 RW 26, Kembangarum, Desa Donokerto, Kecamatan Turi tersebut dengan tanpa menggunakan pengaman apapun, terjun ke sungai yang meluap dan menyelamatkan sedikitnya 30 siswa yang terseret arus.

Aksi heroik Kodir yang sempat diabadikan dengan ponsel oleh warga menjadi viral di media sosial. Banyak awak media yang ingin mewawancarai ‘sang pahlawan’. Namun Kodir yang hobi memancing di Kali (sungai) Sempor itu justru sempat menyembunyikan diri selama beberapa hari sejak kejadian. Hingga Senin (24/02/2020), sejumlah tokoh masyarakat Sleman akhirnya berhasil mengunjungi rumahnya dan memberikan apresiasi kepadanya.

Kepada jogjakartanews.com Kodir mengaku sempat sembunyi, karena malu banyak yang mencarinya. Ternyata Ia tak punya alasan lain, selain grogi di depan kamera,

“Malu mas, saya kan tidak pernah yang namanya di depan kamera seperti ini,” tuturnya saat dijumpai jogjakartanews.com, Senin (24/02/2020) siang.

Memang akhirnya ia mau menemui tamu yang ingin berterimakasih dan memberikan apresiasi atas aksinya serta menerima wartawan untuk diwawancarai. Itu setelah ia dibujuk oleh banyak tokoh masyarakat setempat agar menghargai maksud baik tamu yang datang jauh-jauh, 

“Saya tidak menyangka kalau saya akan dicari banyak orang,” ujar sosok bersahaja yang kesehariannya selain memancing juga bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan ini.

Kodir menceritakan, sesaat sebelum kejadian, ia sempat hendak ke sungai yang letaknya tak jauh dari rumahnya, untuk memancing. Namun karena melihat air sungai sudah mulai keruh, dan turun hujan, lalu ia membatalkan niatnya dan kembali ke rumah. Menurutnya, tanda-tanda alam tersebut merupakan isyarat bahwa sungai akan banjir,

“Kalau sungai meluap itu sedikit demi sedikit, mas. Ada tanda-tandanya. Kalu sudah keruh dan debit air mulai naik pelan-pelan, berarti di atas sudah banjir,” ujarnya.

Namun, belum lama sampai di rumah dan berniat mau berangkat mancing lagi, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dan tangisan minta tolong dari arah sungai. Spontan ia bergegas kembali ke sungai. Ketika melihat banyak anak-anak terseret banjir, tanpa pikir panjang ia langsung terjun ke sungai meski tak menggunakan alat pengaman apapun. Kodir tak mempedulikan keselamatan jiwanya, melawan derasnya aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi itu,

“Kan kasihan mas, orang-orang pada menangis dan meminta tolong. Namanya kita manusia mas. Kebetulan saya mengenal medan, jadi tidak takut untuk langsung terjun dan mengambil satu persatu anak-anak yang hanyut. Ada 20 sampai 30 orang, yang berhasil saya ambil,” ungkapnya.

Menolak Disebut Pahlawan

Aksi berani Kodir menyelamatkan anak-anak yang hanyut menuai simpati publik. Banyak netizen yang menjulukinya sebagai Pahlawan dalam peristiwa di Turi tersebut. Namun demikian, Kodir menolak disebut Pahlawan. Istilah itu bahkan dinilainya terlalu berlebihan. Sebab ia merasa bukan dia sendiri yang menolong para korban,

“Enggak (Pahlawan) lah mas. Ya kita kan manusia mas, tentu kalau ada orang lain yang butuh pertolongan harus dibantu. Sebenarnya bukan cuma saya yang menolong waktu itu, banyak warga yang ikut menolong, cuman kan yang kelihatan di foto cuma saya. Padahal banyak. Ada adik saya juga. Ondo (tangga bambu) juga bukan dari saya sendiri, tapi dari warga yang ada disana. Itu buat memindahkan anak-anak dari batu yang satu ke batu yang lain. Ya, memang saya terjun ke sungai langsung,” ungkap anak ke 5 dari 7 bersaudara putra pasangan Madyo Sumarto dan Ibu Sukiyem ini.

Kodir mengaku ada susah dan ada senangnya setelah melakukan aksi spontan yang mendapat pujian publik tersebut. Namun bukan soal pujian atau penghargaan yang ia pikirkan, melainkan merasa menyesal karena tidak semua siswa yang ia saksikan terbawa arus bisa ia selamatkan. Sebagian ada yang tak kuat memegang batu, hingga akhirnya hanyut,

“Susahnya, sedih karena ada anak-anak yang tidak bisa diselamatkan. Senangnya anak-anak yang saya ambil selamat. Saya sebelumnya tidak tahu kalau mereka mau ada acara  di sungai, kalau tahu mungkin saya ingatkan kalau sungai mau banjir,” imbuh pria ramah berpendidikan terakhir di SMK Jumoyo, Srumbung, Magelang ini.

Tak Berharap Hadiah

Keberanian Kodir yang menyelamatkan nyawa anak-anak pramuka siswa SMP N 1 Turi memang tergolong fenomenal. Meski postur tubuhnya sedang, bahkan tak terlihat kekar, namun ia mampu menaklukan terjangan banjir yang mengempas ratusan anak dan sekaligus menyelamatkan sedikitya 30 anak dalam waktu relatif singkat.   

Tak heran jika selain memberikan acungan jempol, banyak netizen yang ingin memberikan hadiah kepada Kodir. Salah satu hadiah yang ingin diberikan adalah sebuah rumah,

“Terimakasih Pak Kodir sudah menyelamatkan banyak anak. Kalau saya bupati Sleman pasti saya usahakan rumah sebagai penghargaan” tulis Fidelis Indriarto dalam akun facebooknya yang diunggah Minggu 23 Februari Pukul 21:18.

Kodir yang masih melajang dan masih tinggal serumah bersama kedua orang tua dan adik bungsunya, Tri Nugroho Santoso tersebut hanya menanggapi datar. Ia mengaku sama sekali tak mengharapkan hadiah apapun atas apa yang telah ia lakukan. Ia hanya berharap kejadian yang telah merenggut nyawa anak-anak di Kali Sempor, menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih waspada dan berhati-hati beraktivitas di sungai ketika musim hujan,

“Harapannya cuma agar kita masyarakat hati-hati di sungai saat hujan. Saya sama sekali tak berharap itu (hadiah). Saya niatnya hanya nolong. Itu saja,” tutupnya.

Sementara adik Kodir, Tri Nugroho Santoso, menolak diwawancara. Sama dengan Kodir sebelumnya, Ia mengaku malu,

“Niku adike mboten purun mas, isin (itu adiknya tak mau diwawancara mas, malu),” ungkap Sukiyem, ibu kandung kedua pemuda pemberani itu.

Namun demikian Sukiyem mengaku bangga dengan tindakan kedua putranya. Ia juga mengaku senang karena saat ini banyak yang berkunjung ke rumah sederhananya.

Sekadar mengingatkan, berdasarkan data dari Posko Crisis Center BPBD DIY korban sungai Sempor total 249 siswa-siswi SMP N 1 Turi, terdiri dari siswa kelas 7 sebanyak 124 orang, kelas 8 sebanyak 125 orang, dengan rincian kondisi selamat 216 orang, luka luka 23 orang, meninggal dunia 10 orang. (rd1)

Redaktur: Ja’faruddin. AS  


 





Baca Juga