Proyek Tol Jogja-Solo Dikebut, AHY Sebut Bisa Pangkas Waktu Tempuh Jadi 40 Menit

AHY sebut tol Jogja-Solo jadi game changer, percepat mobilitas dan pemerataan pembangunan hingga Indonesia Timur. Foto: Olv

SLEMAN – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY ) , menegaskan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, dari Barat hingga Timur.

Hal itu disampaikan AHY saat menghadiri aksi penanaman pohon di Green Corridor Jalan Tol ruas Prambanan–Purwomartani, Sleman, Sabtu (25/4/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru (RTHB) yang selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto melalui program “Indonesia ASRI” (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Pemerataan Pembangunan Jadi Prioritas

Dalam sambutannya, AHY menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya terpusat di wilayah tertentu.

“Aceh hingga Papua harus dibangun dengan sama baiknya. Masih ada disparitas antara Jawa dan luar Jawa, terutama Indonesia Timur. Ini pekerjaan rumah kita bersama. No one is left behind, no region is left behind,” tegasnya.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan tingkat kebahagiaan.

Sebagai contoh, AHY meninjau pembangunan sekolah rakyat di Kulon Progo yang berdiri di atas lahan 7,1 hektare. Fasilitas ini mencakup jenjang SD hingga SMA lengkap dengan asrama, laboratorium, dan sarana olahraga, yang dirancang menampung hingga 1.080 siswa.

Tantangan Lingkungan dan Target Ruang Terbuka

AHY juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan, di tengah ancaman krisis iklim dan polusi.

Ia menegaskan, sesuai Undang-Undang Tata Ruang, setiap kota wajib memiliki minimal 30 persen ruang terbuka hijau.

Menurutnya, pemanfaatan ruang milik jalan (Rumija) sebagai Green Corridor merupakan langkah strategis. Penanaman pohon seperti trembesi di sepanjang 100 kilometer jalan tol, kata AHY, mampu menyerap hingga 440 ton CO2 per tahun.

“Ini bukan sekadar proyek kecil, tetapi gerakan moral dan aksi nyata untuk masa depan lingkungan kita,” ujarnya.

Tol Jogja-Solo Diproyeksi Pangkas Waktu Tempuh

Terkait progres infrastruktur, AHY berharap ruas tol Prambanan–Purwomartani sepanjang 11 kilometer dapat segera rampung dan digunakan pada musim mudik tahun depan.

Ia menyebut kehadiran tol Jogja–Solo akan menjadi “game changer” bagi mobilitas masyarakat.

“Waktu tempuh yang sebelumnya 2 hingga 2,5 jam bisa dipangkas menjadi sekitar 35–40 menit. Ini akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi di DIY dan Jawa Tengah,” jelasnya.

Akademisi Dukung Program RTHB

Di lokasi yang sama, Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ova Emilia, menyatakan dukungan terhadap pendekatan kolaboratif atau pentahelix yang melibatkan akademisi.

UGM melalui Fakultas Kehutanan siap berkontribusi dalam pemilihan vegetasi yang tepat, termasuk tanaman endemik yang efektif dalam penyerapan karbon.

“Pemilihan tanaman yang sesuai sangat penting, baik untuk mendukung penyerapan emisi karbon maupun menjaga keanekaragaman hayati lokal,” ujar Ova. (olv)

Redktur: Faisal

60 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com