Memijarkan Kembali Nilai Kepahlawanan yang Meredup

Oleh:  Masroer Ch Jb

JIKA kita menyebut kata pahlawan, yang terbersit dalam benak kita adalah seseorng yang bejasa dalam kehidupan kita. Jasa itu berupa amal baik yang kira rasakan dan alami. Krena itulah, seorang pahlawan adalah orang yang memiliki banyak kebaikan kepada manusia lain. Ia tidak hanya berbuat baik untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat manusia sehingga kehidupannya membawa kebaikan banyak orang.

Kebaikan itu bisa berupa nasehat, bantuan materi, rasa kasih sayang karena peduli pada nasib orang dan sikap-sikap sosial lain yang membuat kehidupan dunia ini bertambah baik dengan kehadirannya. Seorang pahlawan biasanya rela mengorbankan dirinya untuk kehidupan orang lain. Karena itulah kepahlawanan tidak hanya sarat dengan nilai-nilai kebaikan, tetapi juga pengorbanan.
Tidak banyak orang di dunia sekarang memiliki kepribadian seperti itu. Orang zaman sekarang lebih banyak mencurahkan hidupnya hanya untuk dirinya sendiri, untuk kepentingannya sendiri, atau untuk golongannya sendiri. Kerja keras dan usahanya hanya baik dan berguna bagi dirinya dan kelompoknya. Mereka menikmati sendiri kerja kerasnya yang menghasilkan kebaikan harta dan kedudukan yang melimpah; menimamti kuliner, mandi sauna, bermewahan dalam villa, cottage dan setrusnya, yang membuat hidup begitu menyenangkan.
Ketika zaman sudah berubah seperti ini, kita jadi merindukan hadirnya pahlawan atau paling tidak, tumbuhnya nilai-nilai kepahlawanan dalam lingkungan hidup kita.
Sejak zaman penjajahan sampai kemerdekaan, bangsa kita memiliki banyak sosok manusia yang menjadi pahlawan sebagaimana yang disebutkan di atas. Jasa-jasa pahlawan itu begitu luar biasa bagi bangunan kehidupan nasional bangsa kita, bagi kemerdekaan, pengangkatan harkat, dan martabat bangsa kita sebagai manusia merdeka yang tidak mudah dijajah oleh bangsa lain.
Kita mengenang mereka setiap tanggal 10 November yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan. Hari di mana bangsa kita diingatkan akan jasa-jasa kebaikan para pahlawan; kita berdoa untuk mengenang kepahlawanannya, mempelajari sejarah perjuangan hidup mereka, mengagumi ketokohan mereka sehingga kita mengerti betapa pentingnya nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan dalam bermasyarakat di sekitar kita.
Kini di alam kemerdekaan, di masa pembangunan bangsa dengan setumpuk persoalan yang menyertainya, seolah kepahlawanan itu telah hilang dari kehidupan kita. Bahkan kita kehilangan nilai-niali itu. Padahal pahlawan dan nailai-nlai kepahlawanan itulah yang membuat bangsa kita bersemangat untuk maju menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lian, bahkan menjadi bangsa yang memiliki keunggulan. Tiap hari kita hanya disuguhi berita-berita mengenai orang-orang yang kehilangan nilai-nila kepahlawanan karena kasus korupsi, karena egoisme kelompok, karena oportunisme hidup dan seterusnya, yang membuat kehidupan bangsa ini menjadi resah, seresah kita menghadapi perubahan-perubahan yang terus terjadi tanpa bisa kita prediksi. Lalu, pertanyaanya apa yang harus dilakukan? Jawabannya baiknya kita kembalikan pada pribadi masing-masing, itu pun andaikan kita masih memilki rasa cinta terhadap tanah air ini. (*)

Penulis adalah Dosen Fakultas Sosiologi Agama, UIN Sunankalijaga, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com