Edutek  

Pewarna Batik dari Daun Jati, Juara 1 Tingkat Nasional

BANTUL – Satu lagi prestasi yang diraih dalam dunia pendidikan di Yogyakarta. Dalam rangka pengembangan budaya batik yang ramah lingkungan dan mempunyai prospek ekonomis tinggi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) baru-baru ini menemukan pewarna batik alami.
Pada Event Sharia Economic Bisnis Plan Competition (SEBC) # 9 di Institut Pertanian Bogor (IPB) beberapa waktu lalu, inovasi tersebut meraih juara 1 tingkat nasional dalam kategori gagasan.
“Ini pertama kali mahasiswa kami ikut kompetisi, dan bisa mengalahkan 50 perwakilan perguruan tinggi se-Indonesia,” papar ketua Biro Kemahasiswaan dan Akademik (BKA) dan dosen pembimbing di fakultas Pertanian UMY, Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP.
Menurut Agus, akademik akan terus mendorong mahasiswa untuk selalu mengikuti kompetisi di semua bidang. Baik dalam memfasilitasi maupun memberikan bimbingan.
“Universitas sudah berkomitmen untuk mensupport kegiatan mahasiswa yang positif,” tambahnya.
Sementara itu, penelitian pewarna batik alami tersebut sudah dilakukan hampir setahun yang lalu. Akan tetapi, baru 2-3 bulan terakhir temuan langsung diujicobakan ke pengrajin batik di wilayah Pandak, Bantul.
Ujicoba tersebut langsung mendapat respons yang positif dari pengrajin. Pasalnya, dengan formula pewarna alami yang ditemukan, menghasilkan banyak keuntungan. Pertama, menekan biaya produksi, kedua, mempercepat proses pewarnaan, dan ketiga, warna yang dihasilkan memiliki daya tahan lebih lama.
“Tentunya dengan banyak kelebihan, nilai ekonomisnya akan semakin tinggi,” jelas mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UMY, Arif Azfitrah, salah satu penemu inovasi itu.
Arif bersama Muhammad Aksan (mahasiswa fakultas Pertanian ), dan Aras Halimbernas (fakultas Ekonomi) melakukan riset pada daun jati dan getah pohon pisang. Untuk mendapatkan formula alami dari 2 bahan tersebut, hanya melalui proses yang sederhana.
Daun jati yang sudah dicacah kemudian ditimbang, dan dimasukkan ke dalam oven. Hal itu dimaksudkan untuk merangsang pewarna dari daun jati keluar. Setelah direbus dengan air, selanjutnya disaring dan dikombinasi sama getah pisang yang bertujuan membantu mempercepat proses perekatan ke kain.
“Dengan bahan alami dan proses yang alami, tentu tidak akan menyisakan limbah yang berbahaya bagi lingkungan,” papar Aksan.
Sedangkan untuk resep detailnya belum bisa dijelaskan kepada jogjakartanews.com, karena saat ini baru dalam proses pendaftaran hak paten.
“Kami baru akan kembangkan ke bentuk pasta, kalau nanti sukses pasti juga akan kami sosialisakan ke semua yang membutuhkan informasi,” imbuh Aksan. (elo)
Redaktur: Azwar Anas

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com